SOSIAL

Menyelesaikan Konflik Internal Menurut Al-Quran (Bagian 1)

bagaimana menyelesaikan konflik
Saat bersatu, saat itulah umat Islam sempurna dalam melaksanakan fungsi kebaikannya.

mukjizat.co – Pada kawasan umat Islam yang sedang mengalami konflik internal, pasti terjadi banyak ketimpangan. Biasanya ketimpangan itu berasal dari dalam umat sendiri. Selain memang ada usaha, pengaruh, dan tekanan dari pihak asing untuk memecah-belah. Berikut kita akan bahas tentang menyelesaikan konflik internal umat Islam menurut Al-Quran.

Untuk menghadapi hal semacam itu, harus dibangun kembali pondasi keimanan mereka, selain harus membuat pertahanan yang lebih kuat untuk menghadapi serangan dan konspirasi dari luar negeri.

Hal paling dominan yang terlihat dalam suatu konflik adalah perpecahan elemen-elemen umat. Kenapa hal ini bisa terjadi, padahal Allah Taala telah menciptakan umat Islam sebagai umat yang bersatu. Allah Taala berfirman:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” [Al-Anbiya: 92]

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepadaku.” [Al-Mukminun: 52]

Dua ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa umat tauhid (Islam) harus bersatu. Lebih dari itu, keduanya memberikan sebuah isyarat bahwa keimanan dan ketaqwaan hanya akan diraih oleh mereka yang mau menjaga persatuan ini. Dengan kata lain, persatuan sangat dekat keimanan dan ketaqwaan.

Islam adalah satu-satunya agama tauhid. Dalam ajaran tauhid ada Allah Taala, Zat yang disembah (Ma’bud) dan ada makhluk yang menyembah (‘abid). Allah Taala harus diesakan. Tidak boleh menyekutukanNya.

Ajaran tauhid ini, hanya menyembah Allah Taala, adalah ajaran yang selalu disampaikan pertama kali oleh para rasul. Karena tauhid inilah pokok ajaran yang mereka bawa. Misalnya nabi Nuh as yang diutus kepada kaumnya.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” [Al-A’raf: 59].

Sedangkan ‘Abid, Allah Taala ciptakan dalam jumlah yang banyak dan beragam. Mereka saling berbeda satu sama lain. Perbedaan mereka yang paling nyata adalah perbedaan kualitas amal dan ibadah kepada Allah SWT. Dan perbedaan inilah yang diakui. Sehingga ini mempersempit sebab konflik internal umat Islam.

M.embebaskan Diri Sendiri

Dalam menyelesaikan konflik, Islam mengajarkan bahwa yang harus dituntaskan terlebih dulu adalah konflik batin dan jiwa manusia sendiri. Islam dari awal telah membebaskan manusia dari konflik jiwanya dengan mengajarkan tauhid, dan memerintahkan mereka hanya menyembah Allah Taala.

Manusia dalam kehidupannya banyak sekali keinginan dan ambisi. Kebanyakan ambisi manusia adalah hal-hal keduniaan. Bila hal ini dibiarkan, dia akan menuhankan dunia. Segala orientasi kehidupannya adalah dunia. Sehingga ada pepatah mengatakan “Orang yang bodoh hidup untuk makan, dan orang bijak makan untuk hidup.” Jelas sekali terjadi perbedaan orientasi hidup masing-masing manusia.

Oleh karena itu, Islam dengan ajaran tauhidnya telah memberikan sebuah solusi. Orientasi manusia menjadi terkonsentrasi pada satu hal, yaitu menyembah Allah Yang Satu, untuk mendapatkan ridho-Nya. Al-Qur’an dengan sangat indah sekali menggambarkan betapa dahsyatnya konflik orang-orang musyrik, dan betapa tenangnya orang-orang yang beriman.

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [Az-Zumar: 29].

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” [Yusuf: 39].

Dengan demikian, orientasi manusia terpusat hanya kepada satu hal. Maka ia telah terbebas dari pertentangan dan konflik batin, konflik paling dahsyat yang ada dalam kehidupan. Semakin kecil potensi konflik internal umat Islam.

Membangun Keluarga islami

Keluarga sakinah adalah keluarga yang penuh kebahagiaan dan ketenangan. Tidak bisa dibayangkan di dalamnya akan terjadi konflik yang akan memecahkan kesatuannya, selagi sifat sakinah tetap melekat padanya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antara kamu kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Rum: 21].

Kehidupan suami isteri adalah kehidupan yang sangat tenteram. Ditambah lagi dengan kedekatan, kelekatan, saling membantu, meringankan, dan juga menutupi kekurangan masing-masing. Keduanya adalah pasangan yang serasi. Keduanya bagai selembar baju yang akan terlihat indah ketika dipakai. Baju adalah penghias. Baju adalah penutup. Ada kesesuaian di antara mereka. Ada kemauan untuk terus bersatu.

“…mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” [Al-Baqarah: 187].

Dalam menjaga keindahan hidup berkeluarga, Allah Taala juga memerintahkan para suami untuk berlemah lembut kepada isterinya. Mempertahankan sikap lemah lembut akan memberikan dampak yang sangat positif bagi keharmonisan keluarga.

“…dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kau tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [An-Nisa’: 19].

Apabila terjadi konflik dalam keluarga yang timbul dari kekurangan salah satu pihak dalam memberikan hak pasangannya, maka Allah menyarankan mereka membuat perdamaian.

“Dan jika seorang isteri khawatir akan nusyuz atau sikap acuh tak acuh suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian lebih baik bagi mereka walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…” [An-Nisa’: 128].

Kemudian apabila konflik itu berkepanjangan, dan mengancam kehancuran bahtera, Allah memerintahkan mereka untuk menunjuk orang lain yang bijaksana dari kedua belah pihak untuk menyelesaikannya. Sehingga keluarga itu dapat rukun kembali.

“Dan apabila kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya (suami isteri itu). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [An-Nisa’: 35].

Juru pendamai itu disebut Al-Qur’an sebagai hakam. Hakam dalam bahasa Arab artinya orang yang bijak, dengan kemampuannya bisa menyelesaikan masalah yang sangat pelik. Selain kebijaksanaan seorang hakam, dari ayat di atas dapat juga dipahami sebuah syarat lain, yaitu kemauan tulus atau niatan ikhlas untuk mendamaikan pihak-pihak yang sedang konflik.

Dalam sirah Umar bin Khattab ra. diceritakan bahwa beliau pernah mengutus dua orang sahabatnya untuk mendamaikan sebuah keluarga yang sedang mengalami konflik. Setelah lama berusaha, keluarga itu tak kunjung damai. Akhirnya kedua utusan itu kembali kepada Umar ra. melaporkan kegagalan misi mereka. Umar ra. hanya menasihatkan, “Perbaiki dulu niat kalian…”

Kemudian keduanya kembali mendatangi keluarga itu dan akhirnya berhasil mendamaikan. Ketika melaporkan keberhasilan mereka, Umar ra. menyitir sebuah ayat, “Jika kedua orang hakam itu bermaksud (ikhlas) mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya (kedua hakam).” Jadi, niat ikhlas adalah kunci kesuksesan. Kita pun bisa menyelesaikan konflik internal umat Islam.

Dalam ajaran Islam, kalimat keluarga tidak hanya mencakup suami-isteri dan anak-anak mereka. Keluarga bisa mencakup semua kerabat mereka, mulai dari bapak-ibu, paman, bibi, anak-anak paman dan bibi, sampai keluarga besar mereka.

Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya hak mereka untuk dapat saling waris mewarisi, tolong-menolong, dan sebagainya. Oleh karena itu, kewajiban saling menghormati, membantu akan mencakup banyak orang dalam sebuah keluarga besar.

Keluarga dalam Contoh Nyata

Contoh nyata tuntunan Al-Qur’an dalam kehidupan berkeluarga digambarkan dalam kehidupan keluarga pertama dalam sejarah dunia. Keluarga Nabi Adam as.

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam as. (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’

Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kapadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” [Al-Maidah: 27-28].

Di sini Habil menahan diri untuk tidak membalas keburukan saudara, dan menyerahkan hukumannya kepada Allah Taala. Kekuatan menahan diri seperti yang dimiliki Habil adalah sebuah kekuatan yang bisa memperkecil konflik dalam masyarakat. Sehingga tidak ada usaha saling balas.

Karena sifat balas dendam tidak akan ada akhirnya, sampai anak cucu. Untuk memotong kemungkinan munculnya perang saudara yang berkepanjangan pada generasi yang akan datang, Habil rela mengorbankan dirinya. Oleh karena itu harus ada keinginan baik menyelesaikan konflik internal umat Islam saat ini.

Kisah Nabi Yusuf as. juga mengandung banyak pelajaran berharga dalam hidup berkeluarga. Yusuf sejak kecil dimusuhi saudara-saudaranya. Rasa hasad saudaranya hampir menyebabkan mereka membunuh Yusuf as. Tapi akhirnya mereka tidak membunuhnya, walaupun tetap membuangnya dengan meninggalkan di di sebuah sumur. Perjalanan kehidupan Yusuf as. kecil berakhir hingga beliau menjadi seorang pembesar kerajaan Mesir.

Di saat yang bersamaan, paceklik melanda banyak wilayah, termasuk tempat keluarga tinggal. Mereka mendengar ada sebuah negeri yang tetap dalam kemakmuran. Negeri itu adalah negeri Yusuf as. sekarang.

Kisah berlanjut, hingga saat mereka meminta datang untuk meminta bantuan. Di saat itulah mereka bertemu dengan Yusuf as. dalam keadaan yang sungguh berbalik. Yusuf as. berkuasa dan saudara-saudaranya memelas, memohon bantuan. Apa yang kira akan dilakukan Yusuf as. mengingat saat-saat beliau dianiaya? Akan membalas dendamkah beliau. Kita harus belajar dari kisah beliau bagaimana menghindari dari konflik internal umat Islam.

  1. Ternyata beliau tetap mau membantu, memberikan bahan makanan yang mereka butuhkan.
  2. Beliau memaafkan kejahatan yang telah mereka lakukan, “Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” [Yusuf: 92].
  3. Beliau tidak mengungkit-ungkit perbuatan jahat saudara-saudaranya. Ketika bercerita masa lalu, beliau hanya berkata, “Dan senungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia telah membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir…” [Yusuf: 100].
  4. Beliau menisbatkan kesalahan dan kejahatan saudara-saudara kepada setan, bukan kepada mereka. “…setelah setan merusak hubungan antaraku dan saudara-saudaraku.” [Yusuf: 100].

Di zaman Rasulullah saw., Al-Qur’an juga menurunkan nasihatnya untuk memberikan maaf dan berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat jahat kepada kita. Sebuah peristiwa besar pernah terjadi. Fitnah Ifki yang melibatkan Ibunda Aisyah ra. sempat mengguncang rumah tangga pemmpin kita, Rasulullah saw.

Ibunda Aisyah difitnah berbuat keji dengan salah seorang sahabat Rasul saw bernama Sofwan bin Mu’attal ra. Kebetulan, salah seorang penyebar fitnah itu, selain munafiqin, adalah Misthah, saudara kerabat sendiri yang banyak berhuatang budi kepada Abu Bakar ra. Karena marah demi Rasul, Abu Bakar ra. sempat bersumpah untuk tidak berbuat baik kepada Misthah. Maka turunlah ayat:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampung lagi Maha Penyayang.” [An-Nur: 22].

Ketika turun ayat ini, Abu Bakar ra. berkata, “Benar, Ya Allah, kami menginginkan keampunan-Mu.”

Islam juga memerintahkan kita berlemah lembut dan rendah diri kepada kerabat dan umat Islam secara umum. Ini diperintahkan agar terbina sebuah masyarakat yang damai, dan terbebas dari konflik. Di seluruh ayatnya, Al-Qur’an tidak pernah memuji sikap rendah diri “Adz-Dzul”. Karena umat Islam adalah umat yang mulia. Tapi ternyata dalam dua kasus, Al-Qur’an memuji sikap itu. Yaitu pada:

  1. Kepada kedua orangtua. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al-Isra’: 24].
  2. Kepada umat Islam secara umum. “Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah kami berikan kepada beberapa golongan di antara kamu (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” [al-Hijr: 88].

Membina Masyarakat Islami

Islam menuntun umat untuk membangun masyarakat besar yang saling bersaudara, berdamai dan penuh keadilan. Karena umat Islam adalah umat yang satu. Umat yang disatukan oleh kesatuan akidah, ibadah, adab, kiblat, Tuhan, Kitab, Rasul, manhaj, tujuan, dan lain-lainnya.

Bila demikian keadaannya, maka umat ini tidak boleh berpecah-belah. Perbedaan memang sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari, tapi perbedaan ini tidak boleh sampai memecahkan pertautan hati mereka. Sehingga tidak terjadi konflik internal umat Islam.

Perbedaan memang sangat ditolerir, karena Allahlah yang telah menciptakan manusia dengan potensi-potensi untuk berbeda. Al-Qur’an sendiri yang diturunkan Allah Taala, mempunyai banyak sekali potensi untuk membuat manusia saling berbeda pendapat.

Allah Taala tidak menginginkan manusia bersatu pendapat. Kalau persatuan pendapat itu dituntut, maka tidak akan ada ayat Al-Qur’an yang bersifat mutasyabihat. Semua ayat pasti akan diturunkan dalam keadaan muhkamat, sehingga pandangan umat hanya akan satu jenis, karena ayat muhkamat, qath’iyu ats-tsubut (pasti keotentikannya) dan qath’iyu ad-dalalah (satu maksudnya, tidak mengandung kemungkinan pemahaman lain).

Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Allah Taala ternyata menginginkan manusia berbeda-beda, banyak ayat-ayat-Nya mengundang pebedaan penafsiran.

Berbeda pendapat adalah di antara rahmat yang Allah turunkan. Rahmat itu turun karena antar manusia memang saling berbeda. Mulai dari tempat, kondisi, kebudayaan, adat kebiasaan, dan lain-lain. Akan tetapi perbedaan ini hanya ditolerir ketika tidak sampai kepada tahap perpecahan (tafaruq) antara mereka.

“Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dengan tetap menghormati unsur-unsur perbedaan, Islam telah menyatukan umat ini. Bahkan hingga performance umat ini pun bisa dibedakan dari umat yang lain. Ikuti bagian kedua dari artikel tentang menyelesaikan konflik internal umat Islam menurut Al-Quran bagian kedua. (sof1/www.mukjizat.co)

Menyelesaikan Konflik Internal Menurut Al-Quran (Bagian 2)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda