SOSIAL

Menyelesaikan Konflik Internal Menurut Al-Quran (Bagian 2)

bagaimana menyelesaikan konflik
Masih besar harapan umat Islam ini akan bersatu.

mukjizat.co – Konflik internal umat Islam terjadi di mana-mana. Semua itu menyibukkan umat Islam dari peran dan fungsinya sebagai pembawa rahmat untuk seluruh alam. Sudah saatnya berbenah dengan kembali memeriksakan dirinya kepada petunjuk Al-Quran.

Faktor Penyatu Umat

Yang menyatukan umat ini adalah al-Ikha’ (persaudaraan/ukhuwah). Persaudaran merupakan kekuatan umat yang amat dahsyat, sebelum kekuatan iman. Dengan persaudaraan keemasan Islam pernah dicapai. Oleh karena itu, Islam sejak dini sudah mensaudarakan para pemeluknya, walaupun mereka sangat berbeda etnis.

Sejak masa Mekah, Islam telah berhasil menyatukan Salman Al-Farisi ra. (Persi), Shuhaib Ar-Rumi ra. (Romawi), Bilal Al-Habsyi ra.(Habasyah) dan Abu Bakar Al-Qursyi ra. ( Quraisy). Tidak terjadi konflik internal umat Islam yang berarti.

Alangkah indahnya Islam, di saat menusia membangun peradabannya dengan menindas etnis lain, Islam menyatukan mereka semua dalam satu persaudaraan. Untuk menopang persaudaraan, banyak sekali hal yang harus diperhatikan. Di antarnya adalah:

Al-Mahabbah (rasa cinta)

Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa mencintai saudara muslim adalah di antara hal yang menyempurnakan keimanan.

“Dari Anas Bin Malik ra., dari Rasullah saw., beliau bersabda, “Tidak sempurna seorang di antara kalian, hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [HR. Bukhari Muslim].

Maka, rasa cinta adalah sebuah dasar pembangun persaudaraan. Harus ada bukan hanya pada hubungan antar pribadi muslim, tapi juga dalam hubungan antara rakyat dan pemimpinannya.

Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa ada beberapa orang yang shalatnya tidak diangkat Allah walaupun satu jengkal, di antaranya adalah seorang imam yang mengimami shalat jamaah sedangkan dia tidak dicintai para makmumnya.

Di antara penyakit yang merusak rasa mahabbah ini adalah penyakit hasad (dengki) dan baghdha’ (kebencian). Kedua penyakit ini sebabnya adalah cinta dunia dan bersaing untuk mendapatkannya. Padahal dunia dalam pandangan Islam hanyalah seperti selembar sayap nyamuk jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Apakah hanya untuk mendapatkan selembar sayap nyamuk, umat Islam saling membenci dan dengki, hingga akhirnya terancam sebuah persatuan? Membuat konflik internal umat Islam sendiri.

Al-Musawah (Persamaan)

Manusia diciptakan Allah dengan sebuah persamaan. Tidak ada satu etnis atau ras diciptakan lebih mulia dari etnis atau ras yang lain. Karena semuanya diciptakan dari tanah. Tidak satu raspun yang diciptakan dari emas, misalnya.

Perbedaan dalam segala sesuatu pasti berasal dari perbedaan bahan baku dan perbedaan tangan pembuatnya. Oleh karena itu kualitas barang produksi saling berbeda antar negara, tergantung pada kualitas bahan baku, dan keahlian pembuatnya.

Misalnya, barang elektronik buatan Jepang lebih bagus daripada buatan Cina. Itu adalah sebuah kewajaran karena sebab-sebab di atas. Lalu apa yang membuat manusia saling berbeda derajatnya? Padahal bahan baku semua manusia sama, yaitu tanah, dan Penciptanya pun satu, yaitu Allah Taala.

Selamanya Islam akan tetap berada dalam fitrah persamaan manusia ini. Tidak seperti Hitler yang sangat membanggakan bangsa Semit dan menganggapnya sebagai bangsa yang terbaik sehingga dengan arogannya menindas bangsa lain.

Tidak juga seperti Israel dan Yahudi yang mengklaim dirinya sebagai bangsa pilihan Tuhan. Bangsa-bangsa lain tak lebih sebagai hewan-hewan yang dengan enaknya bisa dimanfaatkan dan dihinakan. Manusia adalah sama tingginya seperti gerigi sisir.

Dalam wasiat haji Wada’, Rasulullah saw. di antaranya menyebutkan persamaan manusia ini. Bahwa umat Islam menyembah Tuhan yang sama, dan asal manusia juga sama, yaitu dari Adam as. Sedangkan Adam as diciptakan dari tanah.

Oleh karena itu, persamaan manusia dalam Islam adalah akidah yang harus dipercayai dan diyakini oleh semua orang yang tergabung dalam umat. Dalam sebuah kesempatan dikatakan, “Abu Bakar adalah tuan kita yang telah membeli dan membebaskan tuan kita.”

Umat Islam sudah sangat sering dibiasakan untuk menerima kenyataan ini. Dalam banyak ibadah, semua umat diperlakukan sama. Dibiasakan untuk tidak terjadi konflik internal umat Islam.

Dalam shalat, semua orang dari berbagai kalangan harus berada di belakang seorang imam, dan harus taat mengikuti gerakan demi gerakan yang dilakukan sang imam.

Dalam ibadah haji, manusi dari seluruh etnis yang ada di dunia ini bersatu dalam banyak hal. Dalam ibadah, tempat, pakaian dan sebagainya.

Bahasa juga telah bisa menyatukan umat. Seseorang menjadi berkebangsaan Arab karena bahasa dan wawasannya. Rasulullah saw. pernah berkata bahwa siapa saja bisa berbahasa Arab, maka dia adalah orang Arab. Oleh karena itu, kasus Darfur misalnya, yang katanya terjadi antar ras Arab dan Afrika sangat jauh dari ajaran Islam. Sekarang ini, orang Darfur yang berras Afrika pun bisa kita katakan sebagai orang Arab.

Di antara mereka banyak sekali ulama, da’i dan lain sebagainya. Dengan itu, maka menurut Islam mereka juga orang Arab. Kalau peristiwa Darfur terjadi karena ras itu, maka bisa dikatakan bahwa mereka saling membunuhi antara saudara satu bangsa sendiri, yaitu Arab. Belum lagi mereka itu satu agama, sedangkan semua orang Islam adalah saudara.

Perbedaan derajat hanya ada pada beberapa hal saja, di antaranya:

  1. Banyaknya manfaat ilmu seseorang. “Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [Az-Zumar: 9].
  2. Besarnya perjuangan seseorang. “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” [An-Nisa’: 95].
  3. Banyaknya amal kebaikan seseorang. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa orang yang lemah amal kebaikannya maka nasabnya (kepada Islam) pun tidak akan kuat.

At-Ta’awun (Saling Tolong-menolong)

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah bagaikan sebuah bangunan.” Beliau mengatakannya sambil memberi isyarat dengan menyatukan jemari tangan kanan dan tangan kirinya. Menggambarkan sebuah kesatuan yang utuh.

Oleh karena umat Islam dalam peperangan akan saling melindungi, karena mereka adalah sebuah bangunan, yang bila satu bagiannya rusak, akan terancam roboh. Oleh karena itu Allah Taala sangat memuji mereka yang saling tolong-menolong salam peperangan. Apalagi sampai menyebabkan konflik internal umat Islam sendiri.

“Seseungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [Ash-Shaff: 4].

Al-‘Adalah (Keadilan)

Islam mengajarkan umatnya untuk berlaku adil kepada siapapun, dalam kondisi apapun.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” [Al-Hadid: 25].

Dalam menghakimi, sangat ditekankan keadilan.

“…dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum supaya kamu menetapkan dengan adil.” [An-Nisa’: 58].

Jalan keadilan harus tetap dilaksanakan, walaupun berkonskwensi merugikan diri sendiri, ataupun orang-orang dekat kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…” [An-Nisa’: 135].

Keadilan harus terlaksana walaupun ada sebuah kebencian terhadap seseorang. Siapapun orangnya, dia berhak mendapat keadilan. Kalau tidak, bisa menyebabkan konflik internal umat Islam jika tidak berhati-hati.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berbuat tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al-Maidah: 8].

Umat sejak awal sejarahnya selalu mempraktekkan keadilan. Terlihat itu dalam kehidupan dalam masyarakat Islam sendiri, maupun ketika berperang. Suatu waktu, Rasulullah saw. mengutus sahabat bernama Abdullah bin Ruwahah ra. untuk menarik pajak kurma dari orang Yahudi.

Ketika proses pentaksiran jumlah, beberapa Yahudi berusaha menyuap beliau agar mengurangi jumlah yang harus dibayar. Menghadapi hal itu, beliau hanya berkata, “Aku harus melaksanakan perintah Rasulullah saw. Beliau lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Dan kalian, orang Yahudi, lebih aku benci dari kera.”

Keadilan ini harus terwujud dalam masyarakat Islam dalam aspek-aspek ekonomi, hukum, politik, sosial, hubungan internasional, dan sebagainya. Dalam bidang ekonomi, pembagian pendapatan negara harus adil sesuai hak masing-masing. Jangan sampai terjadi yang telah kerja tidak mendapat hasil kerjanya, sedangkan hasil yang berlimpah ruah diberikan kepada mereka yang hanya berpangku tangan.

As-Salam (Perdamaian)

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang menjaga tangan dan lisannya dari menyakiti muslim lain…” Saking menjaga ketenangan hidup, bahkan melakukan canda yang membuat saudara merasa terganggu dilarang dalam Islam.

Pernah suatu saat, seorang sahabat sedang tertidur. Di bawah kepalanya terdapat seutas tali. Karena ingin bercanda, ada seorang sahabat lain menarik tali itu. Di luar dugaannya, sahabat yang tidur itu terbangun kaget. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim membuat kaget muslim yang lain.”

Pada kesempatan lain, ada seorang sahabat yang iseng menyembunyikan sandal sahabat lain selepas shalat. Walaupun bercanda, Rasulullah saw. tetap melarangnya, karena hal itu telah mengganggu ketenangan sahabat yang lain.

Alangkah indahnya Islam, mengatur kehidupan masyarakat menuju ketenangan hidup. Sehingga tuduhan bahwa ajaran-ajaran Islam telah memotivasi umatnya untuk melakukan langkah-langkah ekstrem seperti teror adalah tuduhan yang samasekali tidak beralasan. Akankah agama seperti ini membiarkan terjadinya konflik internal umat Islam.

Apakah ajaran agama yang melarang pemeluknya menyembunyikan sandal sahabatnya akan menyuruh pemeluknya untuk melakukan perusakan massal seperti membom gedung perkantoran, pasar, dan tempat-tempat keramaian yang lain. Sangat tidak masuk akal.

Tidak usah melihat detail ajarannya. Dari asal katanya saja, Islam berarti keselamatan, dan Iman berarti keamanan. Kedua hal ini akan didapatkan bila seseorang memeluk agama yang mulia ini. Kedua hal inilah yang hilang dari bumi ini saat Islam ditinggalkan dan dimusuhi.

Kemuliaan tersebut memang berasal dari tabiat ajaran Islam yang memang sesuai dengan fitrah kemanusian. Islam mengakui dan menghormati perbedaan dan pluralitas. Dalam Islam, kehidupan ini penuh dengan pluralitas. Hanya ada satu saja yang tidak boleh plural, Allah Taala adalah Satu, Tiada sekutu dan tandingan-Nya. Selain dalam masalah ini, Islam menghormati variasi pemikiran manusia. Baik dalam masalah politik, etnis, kepercayaan, dan sebagainya.

Oleh karena itu Islam tidak mengenal tathhir ‘irqiy (etnic cleansing), yang sering terjadi di dalam sejarah. Sedangkan istilah pembersihan sendiri sangat tidak cocok dengan kenyataan yang mereka lakukan.

Apakah perbuatan membunuh dikatakan sebagai pembersihan yang memberi kesan keindahan? Pembersihan etnis sekarang ini memang pernah terjadi, tapi dilakukan orang-orang non muslim yang karena sentimen agama membunuhi pemeluk agama lain, terutama mereka yang beragama Islam di negeri-negeri minoritas.

Sekali lagi, Islam tidak mengenal penghabisan etnis. Bagaimana mungkin Islam mengajarkan hal itu sedangkan Nabinya pernah berkata, “Kalau saja anjing itu tidak berkata bahwa mereka juga sebuah umat tersendiri, maka akan kubunuhi anjing-anjing itu.” Islam mengajarkan bahwa sebuah umat tidak boleh dihancurkan, walaupun itu umat anjing.

Maka dari itu, dalam peperangan yang dilakukan Islam, banyak sekali aturan yang harus dipatuhi tentaranya. Tidak boleh membunuh anak-anak, wanita dan orangtua. Tidak boleh merusak tanaman, tempat ibadah, dan lain sebagainya. Sejarah Islam mencatat, dalam peperangan yang dilakukannya tidak pernah terjadi pembunuhan massal, walaupun sebenarnya banyak sekali alasan untuk melakukannya seperti pernah disakiti dan dizalimi. Tapi Islam tidak mengenal balas dendam.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah (perbedaan dan perselisihan pendapat) Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” [Hud: 118-119].

Sarana Penyelesaian Konflik

Dari paparan di atas, kita yakin bahwa Islam menghormatinya perbedaan kebudayaan, wawasan, adat dan sebagainya. Tetapi bagaimana kalau perbedaan itu telah demikian parahnya hingga berkembang menjadi konflik yang mengancam persatuan?

Hiwar (Dialog)

Dalam menyelesaikan konflik perlu dilakukan dialog yang mendekatkan pemahaman. Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa dialog termasuk dalam model berdakwah.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [An-Nahl: 125].

Ketika umat Islam mengalami masa fitnah di masa khilafah Ali bin Abi Thalib, beliau mengutus Ibnu Abbas untuk melakukan dialog dengan golongan Khawarij. Dengan dialog ini kembalilah ribuan dari mereka kepada pemahaman Islam yang benar.

Bisa dibayangkan bagaimana seandainya langsung diambil langkah-langkah militer, pasti akan banyak sekali korban yang jatuh, dan mereka tetap dalam kesesatan. Juga akan berkepanjangan terjadinya konflik internal umat Islam.

At-Tafawud (Perundingan)

Dalam catatan sirah naabawiyah, terdapat juga beberapa contoh perundingan yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat. Contoh yang paling jelas adalah perjanjian Hudaibiah. Di saat umat Islam hendak melakukan umrah, sebagaimana dijanjikan Allah dalam mimpi Rasulullah SAW, mereka dihadang kaum musyrik Mekah dan dihalangi masuk.

Pada waktu itu, banyak sahabat meminta Rasulullah memutuskan perang, seperti terlihat dari sikap Umar bin Khattab ra. Beliau tidak sabar merasakan bahwa umat Islamlah yang benar, dan tidak boleh bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang sesat karena kekafirannya.

Tapi Rasulullah saw. tetap tenang. Beliau selalu dituntun wahyu. Ketika kaum musyrik akhirnya mengusulkan untuk mengadakan perundingan, maka Rasulullah saw. langsung menerimanya. Saat datanglah seorang musyrik bernama Suhail bin ‘Amr, beliau berkata, “Sahulat.” (Insya Allah akan mudah).

Maka terjadilah perundingan yang dhahirnya sangat merugikan umat Islam, tapi Rasulullah saw. dengan wahyunya tetap menerima. Banyak sekali tanazulat (mencabut hak, mengalah) umat Islam waktu itu. Tapi ternyata di balik semua itu tersembunyi banyak sekali hikmah.

Dari kisah itu, bisa disimpulkan bahwa Islam membolehkan umatnya melakukan perundingan yang kadangkala berkonsekuensi pencabutan sebagian hak kita. Tanazulat itu dibolehkan selama tidak membahayakan umat dan bertujuan untuk menjaga persatuan umat Islam. Karena dalam masalah kecil setingkat keluarga saja disyariatkan perundingan. Apalagi pada masalah-masalah besar yang menyangkut hajat hidup banyak orang.

“Dan apabila kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya (suami isteri itu). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [An-Nisa’: 35].

Misal yang lain, dalam perbedaan mengenai tentang berburu di tanah haram, Al-Qur’an memerintahkan untuk melakukan perundingan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang berihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah dengan mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-ya yang dibawa sampai ke Ka’bah…” [Al-Maidah: 95].

Dalam masa fitnah, Ali bin Abi Thalib juga menerima tahkim dari Mu’awiyah. Hal itu demi menjaga umat dari perpecahan yang sangat membahayakan. Ketika kaum Khawarij mengkritiknya dengan berdalil ayat:

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah…” [Yusuf: 40].

Mendengar dalil ini, Ali hanya berkata, “Kalimat yang haq, tapi digunakan untuk sebuah kebatilan.”

Qital (Perang)

Hiwar dan Tafawud diambil adalah untuk menyelesaikan konflik sejak dari akarnya, yaitu mengembalikan hak-hak yang terampas kepada pemilik yang sebenarnya. Tapi bila keduanya tidak memberikan hasil, maka tidak ada jalan lain kecuali perang.

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyuakai orang-orang yang berlaku adil.” [Al-Hujurat: 9].

Perang yang dimaksud dalam ayat di atas adalah untuk menjaga persatuan. Karena itu, perang ini berbeda dari peperangan yang lain. Misalnya tidak disyariatkan ghanimah. Harta orang-orang yang diperangi tidak boleh dirampas.

Penutup

Dari ayat di atas, dapat kita tarik pelajaran juga bahwa umat Islam harus pro aktif dalam menyelesaikan konflik yang terjadi dalam tubuh umat. Mulai dari ikhlas sampai pada tahapan-tahapan selanjutnya. Sebagai sesama saudara, umat Islam lain tidak boleh hanya melihat saudaranya saling berperang.

Harus diusahakan mereka kembali kepada tuntunan Al-Quran agar selesai permasalahan yang menimpa mereka. Apalagi pada masa-masa sekarang saat umat Islam menjadi target perang Barat. Seharusnya pada masa seperti ini umat harus lebih merapatkan barisan sehingga musuh akan mendapatkan kesulitan menembus barisan umat. Semoga segera selesai semua konflik internal umat Islam di mana saja. (sof1/www.mukjizat.co)

Menyelesaikan Konflik Internal Menurut Al-Quran (Bagian 1)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda