KEJIWAAN

Ini Titik Sempurna Manusia Bukan Kurang

insan kamil manusia sempurna
Banyak ingin menyempurnakan justru mengurangi.

mukjizat.co – Iman akan membuat manusia menjadi manusia sebenar-benarnya. Bahkan dapat membuatnya menjadi sultan, atau bahkan raja. Maka hal utama yang harus diusahakan manusia adalah beriman kepada Allah Taala dan berdoa kepada-Nya. Dengan itu kesempurnaan manusia akan diraih.

Jika iman akan membuat manusia jadi sempurna, maka kekafiran akan membuat manusia jadi makhluk yang sangat lemah. Ada hal yang bisa menjelaskan kenyataan di atas, yaitu adanya perbedaan dan keterpautan antara manusia dan binatang ketika datang ke dunia ini.

Keterpautan antara manusia dan binatang ketika datang ke dunia ini dapat menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia dan keberhasilannya menjadi manusia yang benar-benar manusia hanya dapat diperoleh dengan keimanan.

Ketika datang ke dunia, binatang seakan-akan telah sempurna terlebih dahulu di sebuah alam, kemudian datang ke dunia dalam keadaan yang sudah sempurna. Maka dalam waktu satu-dua jam, satu-dua hari, atau satu-dua bulan, binatang telah berhasil mempelajari semua persyaratan untuk dapat hidup di dunia ini, berhubungan dengan makhluk yang lain, dan juga mempelajari hukum alam.

Dengan cepat binatang dapat menguasai keahlian. Burung atau lebah misalnya, dapat belajar tentang kemampuan untuk hidup melalui ilham dan hidayah dari Allah Taala. Kedua makhluk itu dapat mempelajari semua itu dalam waktu 20 hari, padahal manusia baru bisa mempelajarinya dalam waktu 20 tahun. Sulit meraih kesempurnaan manusia.

Jadi, tugas utama binatang dalam kehidupan bukanlah berusaha menjadi sempurna melalui cara belajar, meningkatkan kemampuan diri dengan ilmu dan pengetahuan, atau meminta pertolongan dengan menampakkan kelemahan.

Tugas mereka dalam kehidupan adalah bekerja sesuai dengan potensi yang telah diberikan Allah Taala, atau dapat dikatakan sebagai penghambaan total dan sebenarnya.

Sedangkan tugas manusia berbalikan dengan itu sama sekali. Ketika datang ke dunia, manusia berada dalam keadaan yang sangat membutuhkan proses belajar untuk mengetahui dan menguasai segala sesuatu. Meraih kesempurnaan manusia.

Manusia datang ke dunia ini dalam keadaan yang sangat bodoh terhadap peraturan dan hukum kehidupan. Saking bodohnya, tidak jarang manusia tidak juga mengetahui hal-hal itu walaupun umurnya sudah mencapai 20 tahun. Bahkan, kadang manusia akan terus memerlukan proses belajar ini sepanjang hidupnya.

Ditambahkan lagi, manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan yang sangat lemah. Dia baru dapat berdiri dengan tegak setelah berumur 2 tahun. Dia baru dapat membedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan setelah berumur 15 tahun. Apalagi dia hanya dapat mencukupi semua keperluan hidupnya, dan menolak bahaya yang mengancamnya, setelah bekerja sama dengan manusia lain.

Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa tugas asal manusia adalah berusaha mencapai kesempurnaan dengan cara belajar. Meningkatkan kemuliaannya dengan cara mencari ilmu pengetahuan. Menyempurnakan penghambaannya dengan cara berdoa.

Hingga akhirnya dia akan mengakui dan bertanya-tanya dalam dirinya, “Dengan kasih sayang dan rahmat siapakah aku diperlakukan dengan sebaik ini? Dengan kedermaan siapakah aku dibina dengan pembinaan yang demikian penuh kasih sayang? Dengan kebaikan siapakah aku diciptakan dalam bentuk yang seindah ini?”

Dengan pertanyaan-pertanyaan seperti inilah manusia akan semakin yakin bahwa tugas utamanya dalam kehidupan ini adalah berdoa, memohon, dan mengharap dengan lisan yang penuh kefakiran dan kelemahan. Kepada Zat Yang Maha Memenuhi keperluan hamba-Nya.

Dengan doa dan permohonan ini, semua keinginan dan keperluan hamba akan dipenuhi oleh-Nya. Tak satu pun dari sekian banyak keperluannya akan dipenuhinya sendirian. Dia sangat butuh pertolongan Allah Taala. Di situlah justri kesempurnaan manusia.

Oleh karena itu, tugas utama manusia di sini adalah meningkatkan rasa ketidakmampuan dan kefakiran dalam hatinya, sehingga benar-benar merasa menjadi hamba yang sangat memerlukan pertolongan.

Sekali lagi, tujuan manusia didatangkan ke dunia ini adalah untuk mencapai kesempurnaan dengan cara belajar mencari pengetahuan, dan berdoa atau memohon. Karena setiap bagian dari diri manusia akan mendorong untuk terus mencari pengetahuan. Sedangkan setiap pengetahuan mempunyai dasar, sumber, ruh, dan cahaya berupa makrifatullah (mengetahui keagungan Allah Taala). Sedangkan dasar dari makrifatullah adalah bertauhid (mengesakan Allah Taala).

Manusia sangat mungkin untuk tertimpa musibah, ujian, dan serangan para musuhnya. Itu semua terjadi karena manusia sebenarnya benar-benar lemah. Di sisi yang lain, manusia mempuyai keperluan yang luar biasa banyak, walaupun dirinya berada dalam kemiskinan yang sangat. Dari dua keadaan ini, dapat disimpulkan bahwa yang dituntut dari manusia adalah dia harus berdoa setelah kuat menanamkan keimanan. Doa adalah inti dan otak dari semua ibadah yang dilakukan manusia.

Marilah kita perhatikan fenomena kesempurnaan manusia yang bisa dipelajari pada seorang bayi atau anak kecil. Bayi adalah fase manusia yang sangat lemah, tidak dapat memenuhi keperluan dan keinginannya. Pada saat menginginkan sesuatu, dia pasti akan menangis, merengek dan meminta dipenuhi keinginannya baik dengan cara berucap atau berbuat sesuatu. Setelah melakukan hal itu, keinginannya pasti akan dipenuhi.

Demikian juga manusia. Manusia adalah termasuk makhluk Allah Taala yang sangat kecil, lemah, dan tidak mempunyai apa-apa. Dia itu sama kedudukannya dengan seorang anak kecil. Ketika memerlukan dan menginginkan sesuatu, tidak ada jalan lain baginya kecuali dengan mendatangi Allah yang Maha Pengasih, dan memohon di hadapanNya.

Memohon dengan cara menangis dan mengadukan segala kelemahannya, atau memohon dengan cara memberitahukan keadaannya yang fakir dan memerlukan banyak hal, hingga semua keinginan dan keperluannya dipenuhi oleh Allah Taala.

Setelah itu, yang harus dilakukan manusia adalah bersyukur. Karena orang yang tidak bersyukur adalah seperti anak kecil yang berkata, “Aku telah sanggup menggunakan semua hal ini untuk kepentinganku. Aku melakukan hal itu dengan kekuatan pikiranku dan usahaku.”

Padahal kekuatan untuk dapat menggunakan semua yang ada di sekitar manusia agar bermanfaat bagi dirinya adalah kemampuan yang sangat besar. Lebih besar beribu kali lipat dari kemampuan manusia yang sangat kecil.

Jika manusia berkeyakinan seperti itu, maka hal ini adalah kekafiran terhadap nikmat Allah Taala. Itu juga adalah sebuah kemaksiatan yang sangat bertolak-belakang dengan fitrah dan keadaan manusia yang sebenarnya. Kekafiran dan kemaksiatan ini pada akhirnya akan  menyebabkan turunnya siksa dari Allah Taala. Meraih kesempurnaan manusia. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda