KISAHKU

Tafsir Al-Quran yang Penuh Gairah Islam

tafsir fi zilalil quran
Masing-masing buku tafsir ada rasanya.

mukjizat.co – Dalam kesempatan ini kita akan membahas tafsir Fi Zilalil Quran. Sebuah gerakan dakwah Islam muncul di Mesir pertengahan abad yang lalu. Organisasi yang kemudian dikenal dengan nama Ikhwanul Muslimin ini dinilai banyak kalangan sebagai gerakan Islam terbesar masa modern.

Banyak yang mengakui jasa gerakan ini dalam membangkitkan kesadaran keislaman di seluruh dunia. Organisasi dakwah ini berhasil memaksimalkan segala potensi pemuda Muslim dalam  mendedikasikan hidupnya untuk Islam dan memperjuangkan kejayaan umat Islam.

Selain itu, organisasi ini juga memiliki pengaruh intelektual yang cukup besar. Di antara ikonnya yang menonjol adalah seorang sastrawan dan pemikir, Sayyid Qutb. Tokoh intelektual yang mengakhiri hidupnya karena mempertahankan pemikiran dan keyakinannya. Tafsir Fi Zilalil Quran.

Ada warisan pemikiran beliau yang sangat bermutu, yaitu kitab tafsirnya: Fi Zhilal Al-Qur’an. Kitab ini adalah sebuah tafsir utuh tentang bagaimana hidup di bawah cahaya Al-Qur’an, sebagaimana dapat dipahami dari namanya. Walaupun sebenarnya, penulisnya sendiri tidak mengatakan bukunya adalah sebuah karya tafsir, tapi komentar-komentar terhadap ayat-ayat Al-Quran.

Beliau sangat meresapi keindahan Al-Qur’an, dan mampu mengungkapkan perasaannya dengan sangat lugas, sampai pada kesimpulan bahwa umat manusia dewasa ini sedang berada dalam kesengsaraan.

Sebuah kesengsaraan panjang yang disebabkan oleh berbagai paham dan aliran yang merusak, dan konflik berdarah yang tiada henti. Bagi situasi seperti ini menurutnya, tiada jalan keselamatan selain jalan Islam.

Dalam pendahuluan tafsir Fi Zilalil Quran, beliau mengatakan, “Telah saya rasakan masa-masa hidup di bawah naungan Al-Qur’an hingga sampai pada keyakinan pasti, bahwa tidak akan ada kebaikan untuk umat ini, tidak ada ketenangan dan ketentraman bagi manusia, tidak ada kemajuan, keberkahan dan kesucian, juga tidak ada keharmonisan dengan hukum-hukum alam dan fitrah kehidupan, kecuali dengan kembali kepada Allah Taala.

Kembali kepada Allah, sebagaimana tampak di bawah naungan Al-Qur’an, hanya mempunyai satu bentuk dan satu jalan, hanya satu tanpa yang lain, yaitu mengembalikan segala persoalan hidup kepada sistem Allah Taala yang telah digariskan bagi umat manusia di dalam kitab-Nya yang mulia.

Dengan cara berhukum, berpedoman, dan mengikuti kitab-Nya. Jika tidak, maka akan ada kerusakan di muka bumi, kesengsaraan bagi umat manusia, kemunduran ke dalam budaya jahiliyah yang kotor dan menyembah hawa nafsu, bukan menyembah Allah Taala.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Al-Qashash: 50].

Berhukum kepada sistem atau undang-undang Allah Taala dalam kitab-Nya bukanlah perbuatan sunah, sukarela atau pilihan, tapi itu adalah sebuah keimanan.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Al-Ahzab: 33-36].

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu Sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” [Al-Jatsiyah: 18-19].

Berangkat dari pandangan inilah Sayyid Qutb merumuskan metodologi dalam penulisan tafsir Fi Zilalil Quran. Pertama-tama beliau siapkan satu “payung” dalam mukaddimah setiap surat untuk mempertautkan antara bagian-bagiannya, menjelaskan tujuan dan maksudnya.

Sesudah itu barulah ia menafsirkan ayat dengan mengetengahkan riwayat-riwayat yang shahih. Lalu mengemukakan sekelumit kajian kebahasaan secara singkat. Kemudian beliau beralih ke soal lain, yaitu memberikan motivasi, membangkitkan kesadaran, meluruskan pemahaman dan mengaitkan Islam dengan kehidupan.

Kitab ini terdiri atas delapan jilid besar. Telah mengalami cetak ulang beberapa kali hanya dalam beberapa tahun saja. Sambutan baik banyak berasal dari kalangan terpelajar. Memang kitab ini merupakan kekayaan intelektual dan sosial yang sangat perlu dibaca oleh setiap Muslim zaman ini. Demikianlah sekelumit tentang tafsir Fi Zilalil Quran. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda