KISAHKU

Ibnu Abbas Menjadi Ulama Berkat Doa Nabi

ibnu abbas ulama tafsir kalangan sahabat
Al-Quran mengangkat derajat siapa pun

mukjizat.co – Ibnu Abbas ra. adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf Al-Quraisyi Al-Hasyimi. Putra paman Rasulullah saw. Ibunya bernama Ummu Al-Fadhl Lubanah binti Al-Harits Al-Hilaliah. Beliau dilahirkan ketika pemboikotan Bani Hasyim oleh musyrikin Quraisy di Syi’ib (celah bukit), tiga tahun sebelum hijrah.

Abdullah bin Abbas ra. menunaikan ibadah haji pada tahun Utsman bin Affan ra. terbunuh. Beliau melaksanakan ibadah haji atas perintah Utsman ra. Ketika terjadi perang Shiffin, beliau berada di Al-Maisarah, kemudian diangkat menjadi gubernur Bashrah, dan selanjutnya menetap di sana sampai Ali ra. terbunuh.

Kemudian beliau mengangkat Abdullah bin Al-Harits, sebagai penggantinya, menjadi gubernur Bashrah. Sedang beliau sendiri pulang ke Hijaz. Beliau wafat di Thaif pada 65 H. Al-Waqidi menerangkan, tidak ada selisih pendapat di antara para imam bahwa Ibnu Abbas dilahirkan di Syi’ib ketika kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi wafat ia baru berusia 13 tahun.

Ibnu Abbas dikenal dengan gelar Turjuman Al-Qur’an (penafsir Al-Qur’an), Habrul Ummah (guru umat), dan Ra’isul mufassirin (pemimpin para mufassir). Ibnu Mas’ud ra. mengatakan, “Penafsir Al-Qur’an terbaik adalah Ibnu Abbas.”

Mujahid ra. mengatakan, “Ibnu Abbas dijuluki dengan Al-Bahr (lautan) karena banyak dan luas ilmunya.”

Yahya bin Sa’id Al-Anshari ra. mengatakan, “Ketika Zaid bin Tsabit wafat, Abu Hurairah berkata, “Orang paling berilmu di kalangan umat ini telah wafat. Semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya.”

Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah mendapat tempat yang istemewa di kalangan para sahabat senior mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya. Itu adalah wujud do’a Rasulullah saw. untuknya. Ibnu Abbas ra. bercerita, “Nabi pernah merangkulnya dan berdo’a, ‘Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.’”

Umar bin Al-Khatthab kepada Ibnu Abbas ra., “Sungguh aku telah melihat Rasulullah mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa, ‘Ya Allah, berilah ia pemahaman yang hebat dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.’”

Ibnu Abbas bercerita, “Umar ra. mengikutsertakanku ke dalam kelompok para tokoh senior perang Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa kurang suka lalu berkata, ‘Kenapa anak ini diikutsertakan ke dalam kelompok kita, padahal kita pun mempunyai anak-anak yang sepadan dengannya?’ Umar menjawab, ‘Dia memang seperti yang kamu ketahui.’

Pada suatu hari Umar ra. kembali memanggil mereka dan mangajakku bergabung dengan mereka. Aku yakin, beliau memanggilku itu semata-mata hanya untuk “memamerkan” ku kepada mereka. Beliau berkata, ‘Bagaimana pendapat tuan-tuan mengenai firman Allah, ‘Apabila pertolongan dan kemenangan Allah telah tiba.(An-Nasr:1)?’

Sebagian mereka menjawab, ‘Kita diperintah untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ketika Dia memberi kita pertolongan dan kemenangan.’ Sedang yang lain diam, tidak berkata apa pun.

Lalu Umar ra. berkata kepadaku, ‘Begitukah pendapatmu, Ibnu Abbas?’ ‘Tidak,’ jawabku. ‘Lalu bagaimana menurutmu?’ tanyanya lebih lanjut.

Aku pun menjawab, ‘Ayat itu adalah sebagai pertanda tentang ajal Rasulullah saw. yang Allah informasikan kepadanya, ‘Apabila pertolongan dan kemenangan dari Allah telah datang, dan itu sebagai pertanda ajalmu, wahai Muhammad, “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya la Maha penerima taubat.” Umar pun berkata, “Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan.”

Riwayat dari Ibnu Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya. Itu telah dihimpun dalam sebuah kitab tafsir ringkas yang kurang sistematis, judulnya “Tafsir Ibni Abbas”. Di dalamnya terdapat macam-macam riwayat dan sanad. Tetapi sanad yang terbaik adalah yang melalui jalur Ali bin Thalhah Al-Hasyim. (sof1/www.mukjizat.co).

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.