KESEHATAN

Sehat Fisik Sepanjang Tahun dengan Puasa

hadits puasa untuk Allah

mukjizat.co – Ramadhan telah usai. Berbagai keutamaan telah diraih. Termasuk di dalamnya kesehatan. Apakah kita hanya ingin sehat di bulan Ramadhan. Ternyata kita bisa sehat fisik sepanjang tahun dengan puasa juga.

puasa sunnah adalah ibadah sunnah yang menghiasi siklus 24 jam. Menyenangkan memang melakukan ibadah sunnah setelah semua ibadah wajib ditegakkan karena konsekuensinya yang luar biasa.

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku lebih utama daripada ibadah yang Ku-wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.

Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang melaluinya ia bisa mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia bisa melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia bisa memukul, dan menjadi kakinya yang melaluinya ia bisa melangkah. Sehat fisik sepanjang tahun dengan puasa.

Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Ku-beri dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Ku-lindungi” [Bukhari].

Tentang puasa sendiri, yang wajib adalah puasa Ramadhan. Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, katakanlah padaku puasa yang diwajibkan Alllah atas diriku!” “Puasa Ramadhan,” jawab Rasulullah.

Kemudian lelaki itu kembali bertanya, “Apakah ada lagi yang wajib bagiku?” “Tidak, kecuali kalau kau ingin berpuasa sunnah,” jawab Rasulullah [Bukhari].

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa.” Apa kiranya rahasia di balik sabda Rasulullah Saw. ini?

Mengistirahatkan dan meremajakan organ

Sehat fisik sepanjang tahun dengan puasa. Secara umum, puasa memang adalah saat yang tepat untuk mengistirahatkan diri. Pertanyaannya, seperti apa bentuk istirahat yang dimaksud?

Fakta menunjukkan bahwa lama makanan tinggal di usus dalam proses pencernaan adalah 14 jam. Selama setahun, organ ini bekerja nyaris tanpa henti, karena jeda waktu antara makan kita tidak selama itu.

Jika dimisalkan sarapan pukul 6.00, kemudian makan siang pukul 13.00, jeda keduanya hanya 7 jam, masih separuh dari waktu transit makanan. Jadi, saat makanan pagi belum sempat terbuang, sudah masuk makan siang.

Begitu seterusnya, sepanjang hari, sepanjang tahun. Kapan istirahatnya? Padahal peremajaan organ itu tak kalah penting. Tak heran, akibatnya banyak penyakit yang menyerang.

Nah, berapa lama puasa kita? Lebih kurang 14 jam bukan?! Itulah makna kenapa dalam banyak kajian ilmiah dinyatakan bahwa saat berpuasa merupakan saat kita memberi istirahat pada organ pencernaan.

Lalu bagaimana jika, misalnya, jam berpuasa diganti? Katakanlah dimulai pada pukul 06.00 dan diakhiri pukul 20.00. Menurut ahli terapi nutrisi, tubuh kita memiliki irama aktivitas biologis selama 24 jam.

Aktivitas ini berlangsung secara sistematis tanpa henti. Siklus ini terbagi dalam tiga fase:

  • Pukul 04.00-12.00 Pembuangan (pembuangan sampah makanan).
  • Pukul 12.00-20.00 Pencemaan (pemrosesan zat-zat makanan).
  • Pukul 20.00-04.00 Penyerapan (pengambilan sari-sari makanan).

Meremajakan otak

Sehat fisik sepanjang tahun dengan puasa. Di sisi lain, proses peremajaan terhadap tubuh tidak hanya berhenti sampai pada organ pencernaan, tapi juga terhadap organ lain, termasuk otak. Lalu, apa hubungan hal ini dengan aktivitas puasa kita?

Proses perbaikan tubuh dan otak, termasuk molekul memori, terjadi saat tubuh beristirahat, terutama saat tahap “deep sleep”, tidur nyenyak, tidur yang berkualitas. Hasil penelitian yang dilakukan Dr. Ebrahim Kazim, seorang dokter, peneliti, serta direktur dari Trinidad Islamic Academy, dengan menggunakan Electro Encephalo Gram (EEG, perekam gelombang otak) menunjukkan bahwa:

Puasa membuat tidur lebih berkualitas, karena “deep sleep” cepat tercapai. Efeknya pada perbaikan tubuh dan otak, termasuk molekul memori lebih maksimal.

Aktivitas tidur kita sendiri terdiri dari 5 tahap. Dalam sehari, seseorang bisa menempuh ke-5 tahap tersebut sebanyak 3-5 kali.

Tahap 1 dan 2 adalah pengantar menuju tidur, ada yang menempuhnya dengan bersusah payah, ada pula yang begitu kepala bertemu bantal, atau bahkan sekadar merebahkan diri saja, sudah menempuh tahap ini.

Tahap berikutnya, tahap 3 dan 4 adalah fase tanpa mimpi, dikenal sebagai fase NREM (Non-Rapid Eye Movement).

Tahap terakhir, tahap 5 adalah fase REM (Rapid Eye Movement), yang umum dikenal sebagai “dreaming time”, saat kita bermimpi. Fase ini secara umum menempati 25% dari total tidur seseorang, jadi jika tidur 8 jam misalnya, 2 jam (120 menit) di antaranya adalah “dreaming time”.

Bandingkan dengan fase NREM yang hanya berlangsung 60-70 menit, bahkan kadang kurang. Jelas telihat bahwa fase NREM berlangsung lebih singkat daripada fase REM, padahal pada fase inilah terjadi perbaikan memori dan pembaruan molekul pembelajaran (learning molecules) di otak. Fase ini penting bagi tubuh. Oleh karena itu disebut “deep sleep” jika fase ini ditempuh lebih maksimal.

Tidak bisa tidak, tahap bunga tidur tetap harus ditempuh. Meski tidak terjadi perbaikan memori pada fase mimpi, tapi fase ini perlu untuk mengekspresikan diri terhadap semua beban atau stres yang menempa tubuh, apalagi jika beban itu lebih sering dipendam.

Maka, kita tidak berbicara penghilangan fase mimpi, karena jiwa memang membutuhkannya. Tapi, kita berbicara tentang penyeimbangan kedua fase tersebut, pengurangan fase mimpi yang otomatis terjadi peningkatan fase NREM sehingga kualitas tidur kita tercapai.

Lalu bagaimana cara menguranginya? Alhamdulillah, ternyata Allah memberi jalan, bisa dengan pikiran rileks, tapi yang paling mudah adalah dengan berpuasa. Efek lainnya, selama berpuasa, magnesium (salah satu mineral penting bagi tubuh) meningkat. Magnesium ini memiliki efek cardio-protective (pelindung jantung). Dengan demikian, dengan berpuasa, jantung kita lebih awet.

Bagaimana dengan jantung kita?

Sehat fisik sepanjang tahun dengan puasa. Selain itu, magnesium memiliki sifat anti penjendalan darah. Seseorang bisa terserang stroke karena adanya jendalan darah yang kemudian tersangkut di pembuluh darah kecil, sehingga menghambat aliran darah.

Daerah yang tidak teraliri darah tersebut kemudian terganggu fungsinya, yang berwujud kelumpuhan atau kematian jaringan. Proses yang mirip terjadi pada serangan jantung koroner; jendalan itu masuk ke pembuluh koroner yang fungsinya memberi nutrisi bagi jantung.

Sehingga, jika sampai terganggu, kerja jantung pun terhambat dengan segala tampilannya. Mulai dari sesak, sampai kematian.

Oleh karena itu, dengan berpuasa jendalan darah bisa dicegah karena meningkatnya kadar magnesium dalam darah, yang akhirnya bisa mencegah penyakit-penyakit di atas. Lalu ternyata masih banyak lagi manfaat berpuasa. Puasa-bahkan tidak terkecuali di kalangan non-Muslim sekalipun–populer sebagai penurun berat badan.

Puasa dan gangguan jetlag

Sehat fisik sepanjang tahun dengan puasa. Tentang puasa juga melatih seseorang menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu. Kita mengenal istilah jetlag. Suatu sindrom berupa rasa tidak nyaman pada pencernaan, pikiran, kelelahan, disertai gangguan tidur, akibat bepergian melintasi zona waktu yang berbeda. Rasa ini juga tidak berbeda jauh dengan para pekerja dengan sistem shift, saat jam biologisnya terganggu.

Inti dari gangguan tersebut adalah desinkronisasi, kekacauan yang dialami jam biologis karena perbedaan irama sirkadian yang terjadi ketika melintasi zona waktu yang berbeda atau bekerja dengan sistem shift (terutama kerja shift malam hari).

Bagi orang yang berpuasa, kedua gangguan di atas tidak terlalu terasa karena efek puasa yang ditimbulkannya, berupa adaptasi hormon yang cepat, menjadikan irama sirkadiannya telah terbiasa untuk menyesuaikan lingkungan dengan waktu adaptasi minimal.

Kalender Hijriyah tidak terekspos matahari yang sama dalam periode puasanya, apalagi jika ditambah dengan puasa sunnah sepanjang tahun. Karena itu, jadilah kita Muslim yang begitu mudah menyesuaikan diri dengan perubahan iklim.

Sebagai perbandingan, seorang yang bepergian dengan perbedaan waktu 1 jam memerlukan 1 hari untuk menyesuaikan diri dan menghilangkan jetlag. Sedang, Muslim yang terbiasa berpuasa bisa beradaptasi jauh lebih cepat. Sehat fisik sepanjang tahun dengan puasa. (sof1/egha/www.mukjizat.co)

Disarikan dari: Super Health

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda