BAHASA

Tafsir Isyari Kapan Dibolehkan?

apa itu tafsir isyari?
Metode tafsir bermacam-macam.

mukjizat.co – Menurut kaum sufi, aktivitas riyadhah ruhaniyah yang mereka lakukan akan mengantarkan kepada suatu tingkatan di mana mereka dapat menyingkap isyarat-isyarat rabbani yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur’an. Limpahan kegaiban akan tercurah ke dalam hatinya. Demikian pula pengetahuan spiritual yang dibawa ayat-ayat Al-Qur’an. Itulah yang disebut tafsir isyari.

Artinya, setiap ayat mempunyai makna lahir dan makna batin. Yang lahir adalah apa yang segera mudah dipahami akal pikiran. Sedang yang batin adalah isyarat-isyarat yang tersembunyi di balik ayat yang tentunya hanya bisa tampak bagi ahli suluk.

Tafsir isyari ini jika menghasilkan isyarat-isyarat yang samar akan menjadi suatu kesesatan. Tapi selama merupakan istinbath (kesimpulan) yang baik dan sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh makna kuat Bahasa Arab, serta didukung oleh bukti keshahihannya, tanpa pertentangan, maka tafsir ini dapat diterima.

Contoh tafsir isyari adalah seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Beliau bercerita, “Umar ra. memasukkan aku dalam kelompok sahabat senior yang turut-serta dalam perang Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa kurang enak dengan kehadiranku.

Mereka bertanya kepada Umar ra., ‘Mengapa engkau memasukkan anak kecil ini bergabung bersama kami. Padahal kami pun mempunyai anak-anak yang sepadan dengannya?’ Umar menjawab, ‘Dia memang seperti yang Anda sekalian ketahui.’

Suatu hari Umar ra. memanggilku untuk masuk bergabung ke dalam kelompok mereka. Aku yakin bahwa Umar ra. memanggilku semata-mata untuk menunjukkan diriku kepada mereka. Lalu beliau berkata, ‘Bagaimana pendapat Anda sekalian tentang firman Allah Taala:

إذا جاء نصر الله والفتح

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” [An-Nasr: 1].

Di antara mereka ada yang menjawab, ‘Kita diperintah agar memuji Allah Taala dan memohon ampunan kepada-Nya ketika kita memperoleh pertolongan dan kemenangan.’ Sebagian yang lain diam, tanpa komentar apa pun.

Umar ra. kemudian bertanya kepadaku, ‘Begitukah pendapatmu, wahai Ibnu Abbas?’ ‘Berbeda,’ jawabku. ‘Lalu bagaimana menurutmu?’

‘Menurutku, ayat itu menunjukkan tentang ajal Rasulullah saw. yang diinformasikan Allah kepadanya (melalui ayat ini), “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” Itu adalah tanda-tanda datangnya ajalmu, wahai Muhammad, “maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”

Lalu kata Umar, ‘Saya tidak mengetahui maksud ayat itu sebelumnya kecuali seperti apa yang engkau katakan itu.” [HR. Bukhari].

Menurut Ibnul Qayyim, corak penafsiran orang itu berkisar seputar pada tiga hal pokok: tafsir tentang lafazh, yaitu yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (muta’akhkhirin); tafsir tentang makna (yang dikemukakan oleh kaum salaf); dan tafsir isyari (pendekatan yang dilakukan oleh mayoritas kaum sufi dan lain-lain). Pendekatan tafsir yang terakhir ini tidaklah terlarang selama memenuhi empat syarat:

  1. Tidak bertentangan dengan makna lahir ayat,
  2. Maknanya itu sendiri shahih,
  3. Pada lafazh yang ditafsirkan itu memang mengandung indikasi makna isyari,
  4. Antara makna isyari dan makna lahir terdapat hubungan yang erat.

Apabila keempat-empat syarat ini terpenuhi, maka tafsir isyari itu bisa dipakai.” (sof1/www.mukjizat.co).

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda