SOSIAL

Halal Bihalal Menghapus Dosa, Bisakah?

halal bihalal
Dosa kita kepada orang lain juga harus dihapus.

mukjizat.co – Di Hari Raya Idul Fitri, sudah menjadi tradisi umat Islam Indonesia untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Maksud dan tujuan tradisi yang lebih dikenal dengan nama halal bihalal menghapus dosa atas kesalahan yang pernah dilakukan seseorang kepada orang lain di masa lalu.

Apakah dengan melaksanakan acara halal bihalal seseorang sudah terlepas dari hukuman di akhirat nanti? Imam Al-Ghazali dalam kita Ihya Ulumiddin menjelaskan bagaimana hendaknya meminta maaf atas kesalahan kepada orang lain. Begitu petikannya:

Kezaliman atau kejahatan kepada orang lain juga mengandung kemaksiatan kepada Allah Taala. Karena Allah Taala telah melarang berbuat zalim dan menyakiti orang lain. Orang yang berbuat kezaliman berarti telah melanggar larangan ini.

Bentuk tobatnya kepada Allah Taala adalah menyesali perbuatannya, bertekad meninggalkan perbuatan serupa di masa mendatang, dan menebus perbuatan zalim dengan perbuatan baik lawan perbuatan tersebut.

Berbuat buruk kepada orang lain dihapus dengan berbuat baik kepada orang lain. Mengambil harta orang lain dihapus dengan mensedekahkan harta halal kepada orang lain. Menyebarkan keburukan orang lain dihapus dengan memuji orang tersebut di hadapan banyak orang.

Bentuk tobat seperti ini hanya akan menghapus dosa orang itu kepada Allah Taala. Masih ada dosa orang itu kepada orang-orang yang menjadi korban keburukannya. Apa yang harus dilakukannya kepada mereka? Orang itu harus mengembalikan dan membayar hak-hak mereka. Halal bihalal menghapus dosa.

Perbuatan zalim kepada orang lain bisa bersifat jiwa (nyawa), harta, kehormatan, dan perasaan di hati. Mengembalikan hak mereka hendaknya dilakukan secara spesifik sesuai dengan hak yang dilanggar.

Pertama, kezaliman yang bersifat jiwa dan nyawa orang lain. Maka jika seseorang telah membunuh orang lain secara tidak sengaja, kewajibannya dalam bertobat adalah membayar diyat kepada keluarga. (Yang berlaku di Arab Saudi sekarang SR 300.000 atau setara dengan Rp. 650.000.000).

Sementara jika membunuhnya dengan sengaja, maka harus menyerahkan diri untuk menjalani qisas (dibunuh), atau dimaafkan dan membayar diyat kepada keluarga. (Yang berlaku di Arab Saudi saat ini adalah SR. 400.000 atau setara dengan Rp. 900.000.000).

Dalam kasus pembunuhan, pelaku harus menyerahkan dirinya. Berbeda dengan kasus-kasus lain seperti berzina, meminum khamar dan sebagainya, pelaku yang bertobat tidak perlu melaporkan dan menyerahkan dirinya. Tapi ketika ada orang yang melaporkannya, hingga akhirnya menjalani hukuman, maka dia mendapatkan ampunan dari Allah Taala. Seperti kisah Ma’iz dan wanita Ghamidiyah.

Kedua, kezaliman yang bersifat harta. Pelaku yang bertobat wajib meminta maaf dan mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya. Jika ternyata harta yang harus dikembalikan sangat banyak, dan dia tidak sanggup membayar semuanya, maka dia harus membayar sebanyak yang dia mampu.

Lalu hendaknya dia banyak berbuat amal kebaikan sebagai persiapan menghadapi gugatan korban di akhirat nanti. Karena gugatan hanya bisa dibayar dengan pahala amal kebaikan. Jadi banyak beramal kebaikan bukan untuk mengharap bisa menikmati pahalanya, tapi untuk diberikan kepada orang yang pernah menjadi korban kejahatannya. Halal bihalal menghapus dosa.

Jika harta yang menjadi hasil kejahatannya tidak diketahui pemiliknya atau ahli waris pemiliknya, maka harta atau senilai harta itu harus dikeluarkan dalam bentuk sedekah. Sedekah itu diniatkan pahalanya untuk korban kejahatannya.

Jika harta haramnya telah bercampur dengan harta halalnya, maka harus dilakukan penghitungan untuk mengetahui jumlah harta haram yang harus dikeluarkannya.

Ketiga, kezaliman yang terkait kehormatan orang lain atau menyakiti perasaan hati orang lain. Pelaku yang bertobat hendaknya meminta maaf kepada masing-masing korban, dengan menyebutkan detail apa kesalahan yang telah dilakukannya.

Tidak cukup dengan meminta maaf tanpa menyebutkan apa kesalahan yang ingin dimaafkan. Karena korban yang memaafkan, sangat mungkin akan tidak memaafkan jika mengetahui bahwa ternyata pelaku telah berbuat sangat jahat kepadanya. Halal bihalal menghapus dosa.

Namun jika dengan menyebutkan kejahatan tersebut malah menyebabkan hal yang jauh lebih buruk, maka cukuplah dengan meminta maaf tanpa menyebutkan apa kejahatan yang ingin dimaafkan. Setelah itu hendaknya dia banyak-banyak melakukan dan memberikan kebaikan kepada korban kejahatannya itu.

Tapi walaupun begitu, orang yang bertobat tetap harus melakukan amalan kebaikan sebanyak-banyaknya sebagai persiapan seandainya di akhirat nanti korban kejahatannya ternyata tidak memaafkannya. Kalau hal itu terjadi, dia memiliki banyak pahala yang bisa diberikan kepadanya, dan tidak akan kehabisan pahala sehingga harus menanggung siksa atas dosa orang lain. Halal bihalal menghapus dosa. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment