SYARIAH

Jangan Abaikan Tujuan Zakat Fitrah

Jangan abaikan tujuan zakat fitrah
Jangan abaikan tujuan zakat fitrah
Melaksanakan perintah sesuai dengan tujuannya.

mukjizat.co – Jangan abaikan tujuan zakat fitrah. Kenapa membahas masalah ini? Perintah dan larangan dalam Islam memiliki tujuan-tujuannya. Hal itu disebut dengan maqashid syariah. Untuk mencapai tujuan diperintahkan sarananya, yang kemudian disebut dengan wasail.

Tujuan dan sarana sama-sama diperintahkan dalam Islam. Tapi derajatnya tidak sama. Hukum sebuah sarana hanya mengikuti hukum tujuannya.

Imam Al-Ghazali mengatakan, “Sebuah sarana mendapat hukum dan sifat dari tujuan yang akan dicapainya. Dia hanya mengikuti tujuan, dan tidak berdiri sendiri.”

Jadi bisa dipahami, keberadaan sarana adalah hal yang sangat penting, karena akan mengantarkan kepada tujuan yang ingin dicapai.

Tapi bisa dipahami juga, derajat sarana berada di bawah derajat tujuan. Karena hukum sarana mengikuti hukum tujuan, dan sesuatu yang diikuti pasti lebih tinggi daripada sesuatu yang mengikuti.

Hal yang termasuk tujuan harus dicapai apa adanya, sementara hal yang termasuk sarana harus diwujudkan sesuai kemampuannya mewujudkan tujuan.

Dari pemaparan ini, dapat disimpulkan bahwa:

  • Tujuan itu lebih utama daripada sarana.
  • Perhatian kepada tujuan harus lebih besar daripada perhatian kepada sarana.
  • Fleksibelitas dalam sarana lebih mungkin dilakukan daripada fleksibel dalam tujuan.
  • Sarana bisa berubah, sementara tujuan tetap dan tidak berubah.

Masalah yang cocok untuk dijadikan contoh dalam kesempatan ini adalah masalah zakat fitrah. Rasulullah saw. bersabda:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah satu shaa’ dari kurma, atau satu shaa’ dari syair (gandum).” [Bukhari].

Hendaknya kita bertanya, apakah penyebutan nama makanan dalam hadits di atas adalah perintah yang bersifat ta’abbudi sehingga memang barang yang disebutkan itu yang harus dibayarkan?

Apakah mengeluarkan makanan-makanan itu termasuk dalam tujuan yang harus dicapai, atau sarana yang mengantarkan kepada sebuah tujuan?

Maka sangat penting kita mengetahui apa tujuan disyariatkannya zakat fitrah. Setelah mengetahuinya, sangat mudah bagi kita menentukan, bahwa selain tujuan itu hanyalah sarana saja.

Ibnu Abbas ra. mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan puasa orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” [Abu Daud].

Imam Asy-Syaukani mengatakan, maksud disyariatkannya zakat fitrah adalah untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang fakir pada hari raya. Sama dengan perkataan Abdullah bin Umar ra.:

أَغْنُوهُمْ فِى هَذَا الْيَوْمِ

“Berilah mereka kecukupan pada hari ini.” [Daruquthni].

أَغْنُوهُمْ عَنْ طَوَافِ هَذَا الْيَوْمِ

“Berilah mereka kecukupan sehingga tidak berkeliling (meminta-minta) pada hari ini.” [Baihaqi].

Dari riwayat-riwayat ini diketahui bahwa tujuan memberikan makanan-makanan itu adalah untuk mewujudkan kondisi kecukupan bagi orang-orang fakir sehingga mereka tidak meminta-minta pada hari raya.

Orang fakir berhak untuk menikmati hari raya, dan tidak terpaksa harus meminta-minta demi sesuap nasi. Oleh karena itu, zakat fitrah harus diberikan kepada mereka sebelum hari raya.

Ketika tujuan zakat fitrah sudah diketahui, maka kita dapat mengatakan bahwa makanan-makanan yang disebutkan khusus oleh Rasulullah saw. hanyalah sarana.

Saat itu makanan tersebut dinilai Rasulullah saw. bisa memberikan kecukupan kepada orang-orang fakir. Bukan memang zakat fitrah harus berupa makanan-makanan itu.

Oleh karena itu, ada kebolehan mencari sarana yang lebih tepat diberikan kepada orang-orang fakir yang bisa mewujudkan tujuan kecukupan mereka pada hari raya.

Sehingga mayoritas ulama pun sejak dulu tidak melihat keharusan untuk berpegang pada jenis-jenis makanan itu. Terbanyak adalah ulama yang memahaminya sebagai makanan pokok, sehingga beda daerah beda makanan pokoknya, dan beda pula zakat fitrahnya.

Bertolak dari hal ini jugalah sebagian ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah dalam bentuk uang tunai. Karena banyak kebutuhan orang-orang fakir yang tidak bisa ditutupi dengan beras, tapi bisa dengan uang tunai. Wallahu A’lam. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.