IBADAH

Adab Penting di Akhir Ramadhan

Adab penting di akhir Ramadhan
Adab penting di akhir Ramadhan
Adab ini akan memberikan perpisahan yang indah, Insya Allah.

mukjizat.co – Ramadhan yang sangat agung akan segera meninggalkan kita, atau kita yang meninggalkannya. Agar kebaikan Ramadhan akan berakhir begitu saja, apa adab kita saat berada di akhir Ramadhan ini?

Allah Taala sangat menyayangi kita hingga menghadiahkan bulan ini. Oleh karena itu, di awal Ramadhan kita mengadakan tarhib Ramadhan atau marhaban ya Ramadhan, sebuah prosesi agar kita siap menyambut bulan mulia itu.

Di akhir Ramadhan, saat kita berpisah pun hendaknya mengadakan sesuatu yang bisa mengoptimalkan kebaikan-kebaikan bulan itu. Bertemu dalam kebaikan, dan berpisah dalam kebaikan. Adab akhir Ramadhan.

Kaidah perpisahan

Ada sebuah kaidah dalam hal ini, yaitu:

 من لم يذق مرارة الفراق لم يعرف حلاوة اللقاء

“Orang yang tidak merasakan pahitnya perpisahan, pasti belum mengerti manisnya perjumpaan.”

Orang yang menikmati indahnya perjumpaan, pasti tidak ingin mengakhirinya. Berkaitan dengan bulan Ramadhan, orang yang sudah menikmati manisnya beribadah Ramadhan pasti tidak akan mau berpisah dengannya. Karena mereka demikian nyaman dengan rahmat Allah Taala dalam bulan ini. Oleh karena itu, ada perkataan:

لو يعلم العباد ما في رمضان لتمنت أمتي أن تكون السنة كلها رمضان

“Seandainya saja hamba-hamba Allah Taala mengetahuhi keindahan Ramadhan, tentulah mereka akan berandai-andai adanya Ramadhan sepanjang tahun.”

Tapi bagaimanapun juga perpisahan harus terjadi. Ramadhan hanya berlangsung dalam waktu singkat saja. Kita pun harus berpisah.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

“Dalam beberapa hari yang tertentu.” [Al-Baqarah: 184].

Bagaimana pertemuan kita?

Di atas kaidah “Orang yang tidak merasakan pahitnya perpisahan, pasti belum mengerti manisnya perjumpaan” ini, dibangunlah cara bagaimana berpisah dengan bulan Ramadhan. Hingga kita bisa mengatakan bahwa saat berpisah dengan bulan Ramadhan, ada dua macam orang; orang yang berbahagian berpisah dengan Ramadhan, dan orang yang bersedih karena berpisah dengan Ramadhan.

Bahagia berpisah?

Kalau berbahagia saat berpisah, maka dia belum merasakan manisnya Ramadhan. Belum merasakan indahnya berpuasa, tilawah, mendirikan shalat, dan sebagainya.

Kalau belum merasakan manisnya Ramadhan, berarti dia belum memperlakukan Ramadhan dengan sebagaimana mestinya. Segala kebaikan Ramadhan pun belum diraihnya. Dirinya sebagai seorang hamba Allah Taala pun belum bisa terbina dengan Ramadhan. 

Orang yang demikian hendaknya bertobat dan banyak beristighfar kepada Allah Taala disertai dengan penyesalan yang sebenar-benarnya. Ini akan jauh lebih baik daripada orang yang mengisi bulan Ramadhan tapi tidak bisa menjaga keutuhan pahalanya. Allah Taala sangat mencintai orang yang bertobat. Rasulullah saw. bersabda:

لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ رَجُلٍ نَزَلَ مَنْزِلًا وَبِهِ مَهْلَكَةٌ وَمَعَهُ رَاحِلَتُهُ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَوَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ نَوْمَةً فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ رَاحِلَتُهُ حَتَّى إِذَا اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْحَرُّ وَالْعَطَشُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي فَرَجَعَ فَنَامَ نَوْمَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَإِذَا رَاحِلَتُهُ عِنْدَهُ

“Sungguh kebahagiaan Allah Taala ketika ada hamba-Nya yang bertaubat melebihi orang yang berada di gurun pasir yang sangat berbahaya. Dia mempunyai binatang tunggangan yang di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Orang itu meletakkan kepalanya hingga tertidur sejenak. Ketika terbangun didapatinya binatang tunggangannya telah pergi. Dia menunggu dan mencarinya hingga merasa sangat kepanasan dan kehausan. Setelah berputus asa, dia pun memutuskan untuk kembali ke tempat semula. Dia tertidur sejenak, dan saat terbangun didapatinya binatang tunggangan tu sudah kembali.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Karena ketika bertobat, berarti seorang hamba mengakui bahwa dirinya telah melanggar aturan Allah Taala. Dia juga mengakui adanya Allah Taala yang Maha Memberi Ampunan. Tentu hal semacam ini sangat dicintai Allah Taala. Dia mempunyai rasa takut yang besar kepada siksa Allah Taala, dan harapan yang besar kepada rahmat dan ampunan Allah Taala.

Kesedihan yang baik

Kalau seseorang bersedih saat berpisah, berarti dia telah merasakan manisnya bulan Ramadhan, sehingga dia tidak mau ditinggalkannya. Orang seperti ini harus bersyukur kepada Allah Taala karena semua itu adalah berkat taufiq dan hidayah Allah Taala. Tanpa taufiq dan hidayah-Nya seseorang tidak mungkin dapat mengerjakan kebaikan sama sekali. Adab akhir Ramadhan.

Tapi walaupun demikian, bukan berarti kewajibannya telah selesai. Dia perlu bermuhasabah apakah dia sudah sampai pada tujuan ibadah Ramadhan atau belum? Tujuan ibadah Ramadhan di antaranya:

Menjadi orang bertakwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”[Al-Baqarah: 184].

Diampuni dosa-dosanya

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan motivasi mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” [HR. Bukhari dan Muslim].

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang melaksanakan qiyamullail (tarawih) pada bulan Ramadhan, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” [HR. Bukhari dan Muslim].

فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Orang yang berpuasa dan melaksanakan qiyamullail di bulan Ramadhan, maka akan bersih dari dosa sama seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dia hendaknya selalu menanyakan, apakah dirinya sudah menjadi bertakwa kepada Allah Taala, dan sudah bersih dari dosa hingga suci seperti seorang bayi merah?

Saat bertanya, kita bisa melihat tanda-tanda yang menunjukkan apakah kita sampai tujuan atau belum. Hal itu karena ketakwaan bisa diukur, dan kesucian jiwa bisa dirasakan. Adab akhir Ramadhan.

Bener, sudah bertakwa?

Takwa adalah menjadikan sesuatu sebagai pelindung. Bertakwa kepada Allah Taala berarti menjadikan sesuatu sebagai pelindung dari siksa Allah Taala. Orang yang bertakwa merasa takut, karena setiap orang yang mencari perlindungan adalah orang yang merasa takut. Oleh karena itu, di antara tanda-tanda orang yang bertakwa adalah:

Banyak beribadah dengan motivasi melindungi diri dari siksa neraka

Bukan hanya banyak, ibadah yang dilakukannya pun ibadah yang berkualitas. Karena kalau tidak berkualitas, tidak bisa dijadikan pelindung.

Berusaha menjadi segala sesuatu sebagai pelindung dari siksa neraka

Rasulullah saw. bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Lindungilah dirimu dari siksa neraka, walaupun hanya dengan sebiji kurma.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Banyak sekali kebaikan yang bisa dilakukan, kalau sebiji kurma saja bisa melindungi dari siksa neraka. Semua itu dimanfaatkan oleh orang yang bertakwa.

Berusaha sempurna dalam melaksanakan kewajiban

Karena semua hal bisa menjadi penyebab masuk neraka. Bahkan harta, anak, dan istri kita pun bisa menjadi penyebab kita masuk neraka.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [Al-Anfal: 28].

Harta, anak, dan isteri yang sangat kita sayangi, dan mereka juga menyayangi kita, bisa menjadi penyebab masuk neraka. Hal itu kalau tidak kita bina dengan baik sesuai yang diperintahkan Allah Taala

Lebih berhati-hati dalam memakai membelanjakan hartanya

Setiap rupiah dari harta kita akan ditanyakan; dari mana didapat, dan dalam hal apa dibelanjakan. Semakin banyak harta, akan semakin lama Allah Taala menginterogasinya. Di sinilah keutamaan orang miskin, karena cepat Allah Taala menanyainya. Rasulullah saw. bersabda:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin, dan bangkitkanlah aku bersama golongan orang miskin pada hari kiamat.” Ibunda Aisyah ra. bertanya, “Kenapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang miskin itu masuk surga 40 tahun sebelum orang kaya. Maka, jangan engkau tolak permintaan mereka, walaupun engkau hanya memberi sebiji kurma. Cintailah mereka, akrabilah mereka, karena Allah Taala akan mendekatkanmu pada hari kiamat.” [HR. Tirmidzi].

Hadits ini bukan sedang mengajak menjadi miskin, tapi mengajak kita zuhud di dunia dan tidak dikuasai cinta harta. Karena tentunya orang kaya yang menginfakkan hartanya pada jalan kebaikan akan jauh lebih indah surganya daripada orang miskin.

Lebih hati-hati pada hal-hal yang syubuhat

Dalam masalah seperti itu, dia akan menanyakan kepada hati sanubarinya yang paling dalam, apa ini baik atau buruk. Adab akhir Ramadhan.

الْبِرُّ مَا انْشَرَحَ لَهُ صَدْرُكَ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ عَنْهُ النَّاسُ

“Perbuatan baik adalah yang terasa nyaman di dalam dada. Sedangkan perbuatan dosa adalah yang terasa tidak nyaman di dalam dada, walaupun banyak orang sudah membolehkannya.” [HR. Ahmad].

Dalam masalah yang membingungkan, dia akan memilih hal yang menyelamatkan agamanya:

إن الحلال بين وإن الحرام بين وبينهما مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram  juga jelas. Di antara keduanya ada hal-hal yang syubuhat dan tidak diketahui kebanyakan orang. Orang yang berhati-hati terhadap yang syubuhat, maka dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Sedangkan orang yang mengambil hal yang syubuhat, maka dia akan terjatuh pada hal yang haram.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Benarkah diri sudah bersih dari dosa?

Tujuan kedua ibadah di bulan Ramadhan adalah dibersihkan dan diampuni dari dosa-dosa kita. Benarkah kita sudah diampuni di ujung Ramadhan ini? Apa indikasinya?

Mudah dalam melaksanakan kebaikan dan ketaatan

Karena dosa yang membebaninya telah dihilangkan sehingga beban menjadi ringan. Allah Taala berfirman:

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ. الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

“Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?” [Al-Insyirah: 2-3].

Dosa akan mengikat seseorang, sehingga tidak bisa melaksanakan kebaikan. Seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib ra., “Aku ingin berbuat baik, tapi selalu tidak bisa.” Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu.”

Selalu terdorong dalam melaksanakan kebaikan

Karena di antara pahala sebuah kebaikan adalah dimudahkan berbuat kebaikan yang lain. Allah Taala berfirman:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى.

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (sehingga masuk surga).” [Al-Lail: 5-7].

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” [Ar-Rahman: 60].

Dicintai orang lain

Karena ketika Allah Taala mencintainya, maka para malaikat pun mencintainya. Kalau malaikat mencintainya, maka orang lain pun ikut mencintainya.

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menyeru Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Si Fulan, maka cintailah dia.” Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Si Fulan, maka cintailah dia.” Penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu dicintai oleh penduduk bumi.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Rasulullah saw. bersabda:

المؤمن يألف ويؤلف، ولا خير فيمن لا يألف، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس.

“Orang mukmin itu mudah akrab, dan mudah diakrabi. Tidak ada kebaikan sama sekali pada orang yang tidak akrab dan tidak mudah diakrabi. Dan orang yang paling baik adalah yang paling bermanfaat kepada orang lain.” [HR. Thabrani].

Tujuan tercapai, selesai urusan?

Kalau tujuan-tujuan itu dinilai tercapai, apakah sudah selesai? Belum. Orang itu hendaknya masih harus terus menjaga sikapnya dengan:

Inkisar

merasa dirinya belum ada nilainya. Tidak merasa dirinya paling baik, paling shalih dan paling benar. Membanggakan diri adalah penyakit orang shalih. Hendaknya kita melindungi diri kita dari penyakit ini. Dalam hal ini, banyak yang bisa dijadikan teladan:

Doa Nabi Yusuf as. Beliau adalah seorang nabi, penguasa, yang menjadi jalan banyak sekali kebaikan kepada orang lain, baik di dunia maupun akhirat. Ketika tua, beliau berdoa:

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” [Yusuf: 101]. Adab akhir Ramadhan.

Seakan-akan beliau bukan seorang muslim, dan bukan seorang yang shalih.

Saat Rasulullah saw. memasuki kota Mekkah dengan bersujud. Di saat yang sama, Allah Taala berfirman:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” [An-Nashr: 1-3].

Abu Bakar ra. berkata, “Seandainya saja aku ada selehai rambut di punggung seorang mukmin yang masuk surga.”

Umar ra. juga berkata, “Seandainya saja aku pergi ke akhirat dengan hitungan yang impas; tidak mendapat pahala, tidak juga mendapat siksaan.”

Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat yang sangat berhati-hati, bahkan para fuqaha mengenalkan sebagai sahabat yang keras dalam berpendapat. Beliau berkata, “Jika ada satu sujudku diterima Allah, itu lebih aku cintai daripada dunia dengan segala isinya.”

Umar bin Abdul Aziz  ra. ketika sedang sekarat, ditawari untuk dikubur di samping Rasulullah saw. Beliau berkata, “Lebih baik aku melakukan seluruh dosa besar selain syirik kepada Allah Taala, daripada aku merasa layak untuk dikubur di samping Rasulullah saw.” Adab akhir Ramadhan.

Orang-orang yang menghabiskan malam dengan qiyamullail.

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzariyat: 17-18].

Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang menggugurkan pahala

Walaupun ada ulama yang berpendapat bahwa pahala puasa kita tidak seperti pahala ibadah-ibadah lain yang bisa gugur sebelum dipetik, namun sebagai langkah hati-hati kita perlu menjaga diri dari penggugur pahala ibadah pada umumnya. Apa itu?

Mendahului Allah Taala dalam menghukumi orang lain

Misalnya mengatakan, “Si Fulan akan masuk neraka”, “Si Anu tidak mungkin akan diampuni”, “Dia sudah kafir”, dan lainnya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, Allah Taala tidak akan mengampuni Fulan.”

وإن الله تعالى قال : من ذا الذي يتألى علي ألا أغفر لفلان ، فإني قد غفرت لفلان ، وأحبطت عمل فلان

“Padahal Allah Taala berfirman, “Siapakah yang mendahului-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni Fulan. Sungguh aku sudah mengampuni Fulan, dan Aku sudah menggugurkan pahala amalan Fulan (yang berani mendahului Allah Taala).”[HR. Muslim].

Kita hendaknya berhati-hati dalam masalah seperti ini. Apalagi saat ini ada fenomena saling menyalahkan sesama muslim yang berbeda pendapat. Saling menyalahkan itu kadang sampai pada tahap membid’ahkan dan mengkafirkan.

Al-Mannu, menyebut-nyebut amal kebaikan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” [Al-Baqarah: 264].

Rasulullah saw. bersabda:

إياكم والمن بالمعروف فإنه يبطل الشكر ويمحو الأجر

“Jauhilah menyebut-nyebut kebaikan yang telah engkau lakukan. Karena hal itu membatalkan syukur dan menghapus pahala.”

Para ulama memberikan sebuah kaidah: “Jika engkau berbuat kebaikan maka lupakanlah kebaikan itu. Tapi jika orang lain berbuat kebaikan kepadamu maka terus ingatlah sepanjang hidupmu.” Adab akhir Ramadhan.

Riya’

Allah Taala berfirman:

أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه

“Aku paling tidak senang disekutukan. Kalau ada orang yang melaksanakan amalan, tapi menyertakan selain-Ku, maka Aku tinggalkan diri bersama sekutunya.” [HR. Muslim].

Maksiat dalam kesendirian

Tsauban ra. meriwayatkan dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda:

 لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Aku akan memberitahukan adanya beberapa golongan orang dari umatku. Mereka datang di Hari Kiamat dengan kebaikan yang sangat banyak laksana gunung Tihamah yang putih. Tapi Allah Taala menjadikannya hancur terburai.” Tsauban ra. bertanya, “Wahai Rasulullah, terangkan dengan jelas seperti apa mereka. Kalau kita tidak mengetahui, khawatir kita akan menjadi seperti mereka.” Rasulullah saw. menjawab, “Mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian juga. Mereka menghabiskan malam seperti kalian. Tapi mereka adalah orang-orang yang jika dalam keadaan sendirian melanggar berbuat kemaksiatan kepada Allah Taala” [HR. Ibnu Majah].

Orang yang berbuat maksiat saat sendirian berbuat yang sangat jahat kepada Allah Taala Karena walaupun sendirian, Allah Taala tetap mengawasinya. Dalam keadaan ini, berarti ketika bersama orang lain dia takut; tapi ketika bersama Allah Taala dia tidak takut. Berarti orang tersebut lebih takut kepada sesama manusia daripada takut kepada Allah Taala Dalam hal ini, Rasulullah saw. mengajari kita sebuah doa:

أسألك خشيتك في الغيب والشهادة

“Aku mohon kepadamu rasa takut kepadamu dalam keadaan tidak dilihat orang lain dan dalam keadaan dilihat orang lain.” [HR. Ahmad].

Berbuat kedhaliman

Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:

من كانت له مظلمة لأحد من عرضه ، أو شيء فليتحلل منه اليوم قبل ألا يكون دينار ولا درهم ، إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته ، وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه ، فحملت عليه

“Orang yang mempunyai kedhaliman kepada orang lain, baik dalam kehormatannya ataupun yang lainnya, hendaklah meminta kehalalan dari orang tersebut sekarang. Sebelum datang hari yang tidak ada lagi Dinar dan Dirham, sehingga kalau dia memiliki pahala amal kebaikan maka akan diambil sesuai dengan ukuran kedhalimannya; kalau dia tidak memiliki pahala amal kebaikan maka akan diambilkan dosa orang yang didhaliminya untuk dia tanggung.” [HR. Bukhari].

Orang yang mendhalimi orang lain bukan hanya akan kehilangan pahalanya karena diambil oleh orang yang didhaliminya, dia bahkan akan menanggung dosa orang yang didhaliminya tersebut jika pahalanya habis dikuras. Adab akhir Ramadhan kita.

Ghibah

Termasuk dalam kedhaliman di atas. Bahkan kedhaliman inilah yang paling sering terjadi di antara kita. Banyak di antara kita yang menganggapnya remeh.

Hasad

Rasulullah saw. bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ

“Jauhilah hasad, karena hasad akan memakan pahala-pahala kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar atau rerumputan.” [HR. Abu Daud].

Semoga kita mendapatkan keberkahan Ramadhan, sehingga kita bisa merayakannya pada hari ini. Karena sebenarnya bergembira adalah ketika mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Taala:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.  Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Itulah adab akhir Ramadhan yang harus kita wujudkan. [Yunus: 58]. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.