KEJIWAAN

Tingkatan Tobat Menurut Imam Al-Ghazali

seperti apa tobatmu?
tingkatan tobat
Di bulan Ramadhan ini, tingkatan kita harus naik yaah...

mukjizat.co – Mari bicara tentang tingkatan tobat. Ramadhan adalah bulan perbaikan diri kita. Bulan tobat. Banyak sisi diri kita yang berlubang kita tutupi dalam bulan mulia ini. Kita periksa dengan seksama diri kita seutuhnya, untuk menampakkan sisi buruk kita. Lalu kita sesali kenapa hal itu bisa ada pada diri kita.

Terakhir, kita bertekad untuk tidak mengulangi kekurangan itu, sebaliknya akan mengoptimalkan diri dalam kebaikan. Jika ritual jiwa seperti ini kita lakukan dengan baik, maka bisa dipastikan diri kita akan terus membaik dari tahun ke tahun. Akan ada peningkatan kualitas hati, diri, dan keimanan kita.

Namun tidak semua Muslim melakukan hal ini. Ada juga yang melakukannya tapi ternyata berbeda-beda kualitas tobat mereka. Imam Al-Ghazali menerangkan tingkatan-tingkatan tobat yang dilakukan orang-orang.

Tingkatan pertama

Orang yang bertobat hingga akhir hidupnya. Dia memperbaiki kekurangan-kekurangan dirinya. Tidak ada niatan sedikit pun untuk kembali berbuat maksiat. Walaupun secara manusiawi, berbuat kesalahan adalah hal yang lumrah.

Orang seperti inilah yang disebut orang yang istikamah dalam bertobat. Dia adalah orang yang dibimbing Allah Taala untuk melakukan hal terbaik dalam hidupnya. Dialah pemenang dalam perlombaan kebaikan.

Tobatnya biasa disebut dengan taubatan nashuha. Tobat yang selalu memberikan nasihat kepada orangnya untuk selalu selalu berada jauh dari kemaksiatan. Begitu orang terlihat menginginkan kemaksiatan, tobatnya memberikan lampu merah sehingga kembali kepada ketaatan.

Jiwa orang itu dinamakan dengan nafsun muthmainnah, jiwa yang tenang. Ada beberapa orang yang masuk dalam kategori tobat seperti ini. Ada orang yang syahwatnya sudah tenang karena tunduk kepada ilmu dan makrifah orang tersebut. Tapi ada juga orang yang masih berjibaku dalam perjuangan menundukkan jiwanya.

Tingkatan kedua

Orang yang bertobat, lalu istikamah dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban utama dan meninggalkan larangan-larangan utama. Di sisi lain dia masih melakukan perbuatan dosa, tapi bukan karena keinginan penuhnya. Dia gagal dalam ujian menghadapi perbuatan maksiat.

Begitu melakukan perbuatan dosa, orang ini selalu mencela jiwanya, menyesali perbuatannya, dan bertekad untuk lebih berhati-hati lagi pada masa mendatang. Inilah yang dinamakan nafsun lawwamah, jiwa yang selalu mencela begitu jatuh dalam kemaksiatan.

Jiwa tidak mau dijatuhkan dalam perbuatan yang buruk, akhirnya marah dan mencela pemilik jiwa tersebut. Ini adalah tingkatan jiwa yang sangat baik, walaupun masih di bawah tingkatan pertama.

Kebanyakan orang yang bertobat memiliki kondisi seperti ini. Karena perbuatan maksiat memiliki aroma yang sangat akrab dengan elemen pembentuk manusia. Pasti ada ketertarikan antara keduanya.

Orang seperti ini harus berusaha keras menjadikan amal kebaikannya lebih berat daripada perbuatan dosanya. Dia akan mendapatkan ampunan Allah Taala. Seperti difirmankan Allah Taala:

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” [An-Najm: 32].

Tingkatan tiga

Orang yang bertobat, beristikamah sementara waktu, lalu kalah oleh syahwatnya dalam beberapa jenis perbuatan dosa. Dia melakukan perbuatan dosa itu karena kalah melawan syahwat yang demikian kuat menariknya.

Di sisi lain, orang ini masih rutin dalam melaksanakan ketaatan, meninggalkan sejumlah perbuatan dosa karena masih kuat dalam melawan syahwatnya.

Hanya ada 1-2 jenis syahwat yang tidak bisa ditahannya sehingga terjadilah perbuatan maksiat itu. Dalam hatinya, dia juga mempunyai keinginan besar agar Allah Taala memupus syahwat yang telah merepotkannya itu.

Dia ingin sekali terbebas dari kebiasaan berbuat dosa hanya karena kalah dalam melawan syahwat tertentu. Maka ketika akhirnya melakukan perbuatan dosa itu, dia menyesali perbuatannya dan bertekad untuk tidak kembali melakukannya di masa mendatang.

Jiwa orang seperti dinamakan dengan nafsun mas’ulah, jiwa yang akan ditanya pertanggung jawabannya oleh Allah Taala. Ada harapan besar mendapatkan ampunan dari Allah Taala.

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk.  Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka.  Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [At-Taubah: 102].

Walaupun demikian, kondisi seperti adalah sangat berbahaya. Karena sangat mungkin kematian menjemputnya sebelum sempat bertobat benar-benar meninggalkan kebiasaan perbuatan maksiatnya. Kalau meninggal dalam keadaan melakukan perbuatan dosa, maka kematiannya adalah su’ul khatimah, kematian yang buruk.

Tingkatan keempat

Orang yang bertobat, dan beristikamah sementara waktu, lalu kembali tenggelam dalam kubangan maksiat, tanpa ada keinginan besar untuk bertobat kepada Allah Taala.

Orang ini melakukan perbuatan maksiat tanpa diiringi rasa penyesalan. Sudah hilang sensivitas terhadap sebuah perbuatan apakah termasuk dalam keburukan atau kebaikan. Tidak ada rasa benci kepada keburukan.

Orang dengan tingkatan tobat seperti ini disebut dengan mushirrun alal ma’shiyah, orang yang tidak mau meninggalkan perbuatan maksiatnya. Jiwa yang dimilikinya disebut dengan nafsun ammarah bis-suu’, jiwa yang selalu memerintahkan melakukan perbuatan buruk.

Ada kekhawatiran besar orang seperti ini akan meninggal dunia dalam keadaan su’ul khatimah, kematian yang buruk. Walaupun jika meninggal dalam kondisi bertauhid, mengesakan Allah Taala, akan diampuni Allah Taala setelah menjalani masa hukuman sementara waktu di neraka.

Sangat mungkin akan langsung diampuni Allah Taala karena ada suatu faktor, yang hanya Allah Taala yang mengetahui, yang membuatnya berhak mendapatkan ampunan. Tapi mengandalkan hal semacam ini adalah spekulasi tingkat tinggi.

Kawan, marilah berkaca pada keempat tingkatan tobat di atas. Masuk ke dalam tingkatan manakah kita? Apakah pada Ramadhan kali ini tingkatan kita sudah menaik? Semoga. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Ulama mendapatkan Lailatul Qadar dengan perasaan ini

Rasulullah saw memvonis pendosa dengan penuh rahmat

Hikmah saat musibah, tobat saat maksiat

Ternyata hati manusia sama seperti batu

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment