ADA APA DENGAN DIA

Sayidah Aisyah Istri Rasulullah SAW

Sayidah Aisyah Istri Rasulullah SAW5
Sayidah Aisyah Istri Rasulullah SAW5
Kisahmu selalu membimbing kami.

mukjizat.co – Beberapa hari ini lini masa media sosial ramai membicarakan Aisyah. Lebih tepatnya lagu tentang Aisyah. Ternyata semua orang sedang membicarakan tentang cover lagu AISYAH ISTRI RASULULLAH. Konon versi awalnya lagu ini berasal dari negeri jiran.

Lirik versi Bahasa Indonesianya, terasa milenial sekali. Sangat menonjolkan satu sisi yang bisa membuat anak-anak muda terobsesi. Sisi romantisme. Cover versi Bahasa Arabnya cukup baik. Kalau saja yang mengcovernya dalam bahasa Indonesia mirip yang Bahasa Arab, mungkin akan lebih baik lagi. Diksi-diksi yang dipilih akan lebih elegan.

Dahsyatnya, cover bahasa Indonesia lagu ini pun banyak jumlahnya. Dengan masing-masing perolehan jutaan. Viewer jutaan di youtube dalam waktu yang sangat singkat adalah luar biasa. Masya Allah.

Satu hal positif, kejenuhan akibat pandemi ini, membuat orang-orang mencari hiburan. Bagusnya, yang mereka dapatkan adalah lagu semacam ini. Hadir mengisi kekosongan. Terutama bagi kalangan milenial dan generasi Z.

Bagi orang tua seharusnya, ini adalah titik awal untuk bisa masuk mengenalkan kembali dengan lebih lengkap siapa sebenarnya Aisyah ra. Karena jika sudah menganggapnya cukup dengan seperti ini dikhawatirkan akan terjadi mis-persepsi atau justru hanya mengagumi satu sisi saja dari sekian kemuliaan yang sangat banyak yang ada pada beliau. Aisyah istri Rasulullah saw.

Keturunan mulia

Adalah Aisyah binti Abdullah bin Abi Quhafah (atau lebih dikenal dengan Abu Bakar).

Abu Bakar mendapatkan gelar (As-Shiddiq) karena orang pertama yang membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah saw. Beliau adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan laki-laki dewasa.

Adapun ibunya, adalah Ummu Ruman binti ‘Amir bin Uwaimir. Juga salah satu perempuan generasi pertama yang memeluk Islam di Makkah.

Aisyah ra., ia dilahirkan empat tahun setelah masa kenabian.

Rasulullah saw. melihat Aisyah dalam mimpi

Sebelum Rasulullah saw. menikahi Ibunda Aisyah ra., beliau pernah melihat dirinya dalam mimpi.

Rasulullah saw. bercerita kepada Ibunda Aisyah ra.:

“Aku pernah melihatmu dalam mimpi selama tiga malam berturut-turut. Malaikat datang menemuiku membawamu dengan tertutup kain sutra berwarna putih. “Inilah istrimu,” katanya kepadaku. Aku menyingkap kain sutra yang menutup muka. Ternyata ia adalah dirimu.”

“Jika mimpi ini berasal dari Allah pasti akan terwujud,” kataku lirih. [Bukhari No.3895 dan 5078].

Pernikahan penuh berkah

Dua tahun setelah Khadijah binti Khuwailid ra. wafat, Khaulah binti Hakim Al-Aslamiyah melamar Aisyah ra. menjadi istri Rasulullah saw.

Khaulah masuk rumah Abu Bakar. Bertemu dengan Ummu Ruman.

“Wahai Ummu Ruman, kebaikan dan keberkahan apa yang Allah limpahkan kepada keluarga kalian?” kata Khaulah.

“Kebaikan apa yang kamu maksudkan?” Ummu Ruman balik bertanya.

“Rasulullah saw. mengutusku untuk melamar Aisyah baginya,” jawab Khaulah.

“Senang sekali aku mendengarnya. Tunggulah, sebentar lagi Abu Bakar datang,” sambut Ummu Ruman dengan perasaan gembira.

Ketika itu, usia Aisyah ra. masih sangat belia. Rasulullah saw. menikahinya dengan mahar 500 Dirham.

Hari bahagia

Rasulullah saw. datang ke rumah kami. Duduk bersamanya beberapa orang laki-laki dan wanita Anshar.  

Ibuku langsung menghampiriku yang sedang bermain ayunan. Beliau menurunkanku. Beliau  rapikan rambutku dan mengusap mukaku dengan air.

Ibu membimbingku ke dekat pintu yang menghubungkan ke ruang tamu. Jiwaku berdebar karena merasa malu dan segan.

Kemudian ibu membawaku masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang duduk di atas sofa di tengah rumah kami. Ibu mendudukkanku di ruangan tak jauh dari tempat duduk Rasulullah saw.

Ibu berkata kepada Rasulullah saw., “Mereka adalah keluargamu. Semoga Allah memberkahimu bersama mereka, dan semoga Allah memberkahi mereka karena dirimu.”

Pindah ke rumah suci

Sejak umur 9 tahun, Ibunda Aisyah ra. tinggal di rumah suci tepat di samping Masjid Nabawi. Rumah yang menjadi tempat turunnya wahyu. Rumah Rasulullah saw. yang penuh kebahagiaan dan kedamaian. Aisyah istri Rasulullah saw.

Di rumah inilah, Ibunda Aisyah ra. tumbuh berkembang di bawah pancaran sinar iman dan taqwa. Padahal sebelumnya Allah juga telah menjadikannya wanita cemerlang, cerdas dan genius.

Beliau banyak menghafal sabda Rasulullah saw. yang merekam akhlak dan perilaku beliau terutama di dalam rumah.

Usianya memang masih sangat belia, tapi ibunda Aisyah ra. mampu menunaikan kewajiban rumah tangganya dengan sangat baik. Sehingga, ia mendapatkan kedudukan istimewa di sisi sang suami, Rasulullah saw.

Kekasih bagi kekasih Allah Taala

Suatu ketika, Rasulullah saw. mengutus Amru bin Ash memimpin pasukan. Ia pulang membawa kemenangan besar untuk kaum muslimin.

Saat bertemu, Amru bin Ash bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?”

“Aisyah,” jawab Rasulullah saw.

“Kalau dari kaum lelaki?” ia kembali bertanya.

“Ayahnya,” tegas Rasulullah saw.  

Ibunda Aisyah ra. pun sangat mencintai Rasulullah saw. Bahkan berharap mendapat keturunan darinya, seperti yang didapatkan oleh Ibunda Khadijah ra. Tapi takdir ternyata berkata lain.

Maka sesuai petunjuk Rasulullah saw, Ibunda Aisyah ra. menggunakan kun-yah dengan keponakannya, Abdullah bin Zubair. Akhirnya beliau dikenal dengan panggilan Ummu Abdillah. 

Rasulullah saw. sangat mencintai dan memuliakan Ibunda Aisyah ra. Hal itu karena Ibunda Aisyah lebih memilih kehidupan akhirat ketimbang dunia.

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasanya, maka kemarilah agar aku berikan mut’ah (kesenangan) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan kehidupan akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.” [Q.S. Al-Ahzab ; 28-29].

Ayat ini langsung dijawab Ibunda Aisyah ra., “Aku hanya menginginkan Allah dan Rasul-Nya, juga negeri akhirat yang abadi.”

Rasulullah saw. memperlakukan Ibunda Aisyah ra. dengan penuh kelembutan. Bahkan tak jarang Rasulullah saw. bercengkerama dengannya.

Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah saw. beradu lari dengan Ibunda Aisyah. Dan ternyata Rasulullah saw. kalah. Hingga pada kesempatan berikutnya, setelah berat badan Ibunda Aisyah ra. bertambah, Rasulullah saw. berhasil mengalahkannya.

“Wahai Aisyah, kita impas. Dulu kau menang, dan kini aku yang menang,” kata Rasulullah saw. saat itu.

Rasulullah saw. selalu mendoakannya, “Ya Allah, ampunilah dosanya yang telah lampau dan yang akan datang. Dosa yang disembunyikan maupun yang dilakukan terang-terangan olehnya.”

Doa ini pun membuat Ibunda Aisyah ra. sangat bahagia. Merasa sangat senang karena diistimewakan.

Melihat reaksi itu Rasulullah saw. pun berkata, “Demi Allah, itu adalah doaku kepada Allah untuk semua umatku di setiap shalatku.”

Anas bin Malik ra. meriwayatkan bahwa cinta pertama yang tumbuh dalam Islam adalah cinta Rasulullah saw. kepada Ibunda Aisyah ra.

Ada seorang lelaki mencela Ibunda Aisyah ra. di hadapan Ammar bin Yasir. Maka, ia pun berkata kepadanya, “Enyahlah kamu. Adakah kamu menyakiti kekasih Rasulullah saw?

Rasulullah saw. pernah menasihati Ibunda Ummu Salamah, salah seorang istri Rasulullah saw. yang lain, “Wahai Ummu Salamah, janganlah engkau sakiti aku dengan menyakiti diri Aisyah. Sungguh, Allah tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku berada dalam selimut, kecuali dalam selimut Aisyah.”

Suatu ketika, Rasulullah saw. menyaksikan Ibunda Shafiyah, salah seorang istri beliau yang lain, bersikap yang membuat Ibunda Aisyah ra. kurang nyaman. Maka Shafiyah berkata Aisyah, “Wahai Aisyah, apakah engkau berkenan meminta Rasulullah saw. agar memaafkanku? Kalau mau, jatah hariku bersamanya aku berikan kepadamu.” Maka Ibunda Aisyah pun mengiyakannya. Aisyah istri Rasulullah saw.

Maka, Ibunda Aisyah pun mengambil kerudung milik Ibunda Shafiyah yang telah dilumuri minyak za’faran dicampur sedikit air. Kemudian beliau duduk di di samping Rasulullah saw.

“Hai Aisyah, menjauhlah dariku. Sekarang bukan giliranmu bersamaku!” Tegas Rasulullah saw.

Ibunda Aisyah pun menjawab “Ini adalah karunia Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”

Kemudian Ibunda Aisyah menjelaskan masalahnya.

Ibunda Aisyah, seorang ulama

Ibunda Aisyah ra. adalah wanita yang paling memahami hukum Islam. Dia adalah istri Rasulullah saw. yang paling cerdas, dan paling banyak menghafal hadits.

Imam Hakim berkata, “Seperempat dari hukum syariat dinukil darinya.”

Kamar Ibunda Aisyah ra. menjadi majlis ilmu bagi para penuntut ilmu. Beliau membuat tabir penyekat yang memisahkan antara dirinya dengan para lelaki yang bukan mahramnya.

Ibunda Aisyah ra. menyaksikan langsung peristiwa turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. Beliau pernah menuturkan, “Aku menyaksikan Rasulullah saw. sedang menerima wahyu ketika cuacu di luar sangat dingin. Badannya menggigil hebat. Air keringat mengalir membanjiri keningnya.”   

Ibunda Aisyah ra. senantiasa bertanya dan mendiskusikan permasalahan dengan Rasulullah saw.

Maka apabila para sahabat Rasulullah saw. berbeda pendapat tentang sesuatu, mereka mendatangi rumah Ibunda Aisyah ra. untuk bertanya dan memastikan kebenaran dalilnya.

Ibunda Aisyah ra. pun diberi kebebasan berfatwa pada masa Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, hingga beliau meninggal dunia.

Urwah bin Zubair mengatakan, “Selama menyertai Aisyah ra., aku belum menemukan seorang pun yang lebih tahu darinya tentang maksud sebuah ayat diturunkan, yang lebih paham tentang ibadah wajib atau sunnah, tentang syair dan hari-hari bersejarah bangsa Arab, juga tentang ilmu nasab, keputusan hukum pengadilan dan pengetahuan medis.” Aisyah istri Rasulullah saw.

Ibunda Aisyah ra. mampu menghafal ribuan hadits Rasulullah saw. Ada 2210 hadits yang diriwayatkan darinya.

Beliau dikenal memiliki hafalan dan ingatan yang kuat. Sehingga, ia mampu meriwayatkan banyak ilmu dari Rasulullah saw.

Keutamaan Aisyah ra. di antara para istri Rasulullah saw.

Beliau berkata, “Aku diberikan sembilan Keistimewaan yang tidak diberikan kepada wanita yang lain:

  1. Jibril turun membawa gambarku pada saat Rasulullah saw. istirahat, ketika ia diperintahkan untuk menikahiku.
  2. Rasulullah saw. menikahiku ketika masih perawan,
  3. Rasulullah saw. meninggal dunia dan kepalanya berada di pangkuanku, lalu beliau dimakamkan di dalam rumahku.
  4. Malaikat selalu memenuhi rumahku.
  5. Wahyu pernah turun kepada Rasulullah saw. dan aku sedang berada dalam selimut bersamanya, beliau tidak memisahkan tubuhnya dari diriku.
  6. Aku adalah putri dari Khalifah dan sahabat dekatnya.
  7. Allah menurunkan kesaksian atas kesuciaanku langsung dari langit.
  8. Aku diciptakan sebagai perempuan yang suci bagi lelaki yang suci.
  9. Aku telah dijanjikan ampunan dan rezeki yang mulia dari Allah.

Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Wahai Aisyah, inilah Jibril datang mengucapkan salam kepadamu.”

“Waalaihis salam warahmatullah. Wahai Rasulullah, engkau melihat sesuatu yang tidak bisa kami lihat,” jawabnya.

Ibunda Aisyah ra. pernah bermimpi, lalu diceritakan kepada ayahnya, “Aku melihat tiga buah bulan jatuh ke atas pangkuanku.”

Abu Bakar pun menafsikannya, “Jika benar mimpimu, kelak akan dikuburkan dirumahmu tiga orang penduduk bumi yang terbaik.” Bulan itu adalah Rasulullah saw., Abu Bakar As-Sidiq, dan Umar bin Khattab ra. Aisyah istri Rasulullah saw.

Ibunda Aisyah ra., wanita bertakwa

Ibunda Aisyah ra. adalah wanita yang zuhud dan ahli ibadah. Ia berpuasa sunnah sepanjang tahun. Tidak berpuasa hanya pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Sebagian besar waktunya, dihabiskan untuk shalat sunnah, terutama qiyamullail. Setiap kali shalat malam, air matanya pun mengalir dan membasahi kedua matanya yang suci. 

Beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam. Seperti Rasulullah saw. Apabila sedang sakit, ia melakukannya sambil duduk.

Shalat beliau amat panjang. Abdullah bin Abu Musa pernah datang ingin bertemu Aisyah ra. ketika tiba dirumahnya, beliau sedang shalat Dhuha.

Beliau berkata kepada pembantunya, “Kalau begitu aku akan menunggunya hingga selesai shalatnya.”

Pembantunya menjawab, “Percuma. Kau akan menunggu sangat lama.”

Beliau juga mampu berpuasa ketika hari sangat panas. Abdurrahman bin Abu Bakar pernah datang menemui Aisyah ra. pada hari Arafah. Beliau sedang berpuasa sambil memercikkan air ke kepalanya guna mengurangi panas.

“Berbukalah, wahai saudariku,” saran Abdurrahman.

“Kenapa aku berbuka, padahal Rasulullah saw. berkata, ‘Puasa pada hari Arafah bisa menebus dosa selama satu tahun sebelumnya,” jawabnya dengan penuh keyakinan.

Beliau adalah wanita dermawan dan berhati mulia. Tidak pernah ada sekeping Dirham atau Dinar yang tersimpan di rumahnya.

Urwah bin Zubair melihat Ibunda Aisyah ra. membagi-bagikan 70.000 Dirham, padahal beliau selalu menggunakan kebaya yang bertambal-tambalan.

Pernah suatu ketika, beliau mendapatkan hadiah uang sebanyak 80.000 Dirham dari Mu’awiyah ra. Dalam sekejap, tak tersisa satu Dirham pun di tangannya. Aisyah istri Rasulullah saw.

Pembantu pun berkata kepadanya, “Tidakkah kau sisakan satu Dirham untuk membelikan kami daging?”

“Andaikata kau bilang dari awal, pasti kulakukan untukmu,” jawab beliau.

Dilakukannya hal ini karena beliau selalu teringat sabda Rasulullah saw. “Lindungilah dirimu dari api neraka, walaupun hanya dengan sekeping biji kurma.”

Namun demikian, beliau selalu berucap, “Jika mati kelak, aku ingin menjadi orang yang dilupakan oleh semua orang.”

Hari berduka pun tiba

Ibunda Aisyah ra. wafat pada usia yang ke 66. Tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 58 H, setelah menderita sakit yang membelenggu dirinya di atas tempat tidur hingga ajal menjelang.

Abu Hurairah ra. yang menshalatinya, wali Khalifah Marwan bin Hakam di Madinah. Jenazahnya dikuburkan di pemakaman Baqi’.

Semua orang tak kuasa menbendung air mata kesedihan, mengantarkan kepergian wanita suci, Ibunda Aisyah ra. Ibu kaum mukminin. Wanita mulia yang memiliki keutamaan dalam ilmu, kedermawanan dan ketaqwaan. Semoga Allah swt. melimpahkan rahmat-Nya kepadanya, dan menempatkannya di taman surga-Nya yang maha luas. Aisyah istri Rasulullah saw. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.