SYARIAH

Syaikh Qaradhawi: Beriman dengan Takdir Tetap Wajib Berusaha

Takdir dan usaha
Takdir dan usaha
Orang yang melakukan usaha sangat mengimani takdir Allah Taala.

mukjizat.co – Ulama masyhur di kalangan umat Islam dunia, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, melihat adanya salah paham yang dialami umat Islam. Banyak orang yang menjadikan iman dengan takdir sebagai alasan untuk tidak melakukan usaha. Tawakal menjadi alasan untuk tidak menjauh dari wabah penyakit. Keridhaan menjadi alasan untuk tidak mau berobat.

Menurut beliau, semua Muslim harus meyakini bahwa segala sesuatu di alam raya sudah tertulis di Al-Lauhul Mahfuzh. Mati, rezeki, sukses, gagal, bahagia, menderita, dan semuanya. Seorang Mukmin harus mengimani hal ini, walaupun tidak mengetahui bagaimana Allah menulisnya, bagaimana tulisannya, dan sebagainya.

“Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Al-Lauhul Mahfuzh).” [Yunus: 61].

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Al-Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al-Hadid: 22].

Syaikh Qaradhawi mengatakan, “Mengimani hal ini tidak berarti membuat kita tidak melakukan usaha. Karena Allah Taala tidak hanya menuliskan hasil, tapi juga menuliskan faktor-faktor menuju hasil tersebut. Misalnya saat Allah menulis seseorang sukses, Allah juga menulisnya rajin, serius, giat, tekun, dan sebagainya sehingga layak mendapat sukses seperti dituliskannya.”

Jadi melakukan usaha tidak bertentangan dengan iman kepada takdir. Suatu kali Rasulullah saw. ditanya tentang obat dan usaha pengobatan, apakah hal itu bisa menolak takdir Allah? Jawaban Rasulullah saw., “Itu semua termasuk takdir Allah Taala.” [Ahmad].

Ketika mewabah sebuah penyakit di negeri Syam, Umar bin Khattab ra. dan para sahabat membatalkan kunjungannya ke negeri tersebut. Ada yang bertanya kepadanya, “Engkau lari dari takdir Allah?” Maka Umar ra. menjawab, “Iya, aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

“Di antara alasan yang membenarkan kita tetap berusaha adalah bahwasanya takdir dirahasiakan Allah Taala. Kita baru mengetahui catatan kita setelah hal itu terjadi. Sebelum terjadi hendaknya kita melakukan ketentuan Allah lain yang dinamakan sunnatullah di alam raya. Hukum sebab-akibat, hukum sosial, hukum sejarah, dan sebagainya, yang bisa kita pahami dan kita usahakan,” kata Syaikh Qaradhawi.

Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. dalam dakwahnya. Beliau membuat perencanaan, menyiapkan pasukan, latihan militer, memproduksi senjata, mengirimkan mata-mata, memakai aksesoris militer, menggali parit, menguasai sumber air, dan sebagainya. Semua itu adalah faktor kemenangan yang bisa dipahami dan dilakukan oleh siapapun. Ketika semua itu sesuai dengan catatan Allah, maka kemenangan pun dapat diraih.

Syaikh Yusuf Qaradhawi juga menyinggung tentang wabah penyakit. Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah saw. mewanti-wanti umat Islam, “Larilah dari orang yang menderita kusta, seperti kalian lari dari singa.” [Bukhari]. Rasulullah saw. juga memutus mata rantai penularan wabah dengan melarang mereka berkumpul, “Orang sakit jangan berkumpul dengan orang sehat.” [Bukhari].

Maka setelah penjelasan ini, tidak boleh ada orang yang tidak mau melakukan usaha dengan alasan pasrah dan beriman dengan takdir Allah. Muhammad Iqbal mengatakan, “Muslim yang lemah beralasan dengan takdir (untuk tidak melakukan usaha). Sementara Muslim yang kuat meyakini bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah yang tidak bisa ditolak dan dihindari.”

Baca juga:

Ketika umat Islam menghadapi pasukan Romawi, Al-Mughirah bin Syu’bah ra. menemui  panglimanya. Beliau ditanya, “Siapa kalian?” Jawaban beliau, “Kami adalah takdir yang Allah gunakan untuk menguji kalian. Kalaupun kalian berada di awan, kami pasti akan naik menemui kalian, kalau tidak, kalian pasti akan turun menemui kami.”

Seorang Muslim tidaklah menjadikan takdir sebagai alasan untuk gagal, sakit, hidup menderita, dan sebagainya. Adapun ketika dia sudah berusaha, mengerahkan semua daya upayanya, tapi tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, atau tertimpa hal yang dikhawatirkan, barulah saat itu dia boleh mengatakan, “Ini sudah takdir Allah.”

Dalam sebuah pertandingan, seseorang kalah dan mengatakan, “Cukuplah bagiku Allah sebagai penolong.” Maka Rasulullah saw. pun marah dan mengatakan, “Allah mencela orang yang lemah. Maka engkau harus cerdas dalam melawan. Saat kalah barulah katakan cukup bagimu Allah sebagai penolong.” (sof1/www.mukjizat.co).

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.