SYARIAH

Meluruskan Fikih Gerakan SPK dalam Menyikapi Wabah Corona

Meluruskan Fikih Gerakan SPK dalam Menyikapi Wabah Corona
Meluruskan Fikih Gerakan SPK dalam Menyikapi Wabah Corona
Beragama harus dengan fikih, bukan dengan emosi. Mengikuti fatwa ulama lebih selamat.

mukjizat.co – Pemerintah menghimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah demi menakan penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. Kegiatan seperti belajar, bekerja dan beribadah baiknya dilakukan di rumah.

“Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Jawa Barat Minggu (15/3/2020).

Hal senada juga dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu atau rawatib, tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya,” demikian dalam salah satu poin fatwanya tentang menyikapi wabah COVID-19.

Namun ada sebuah gerakan yang menamakan dirinya SPK mengkritik sikap hati-hati umat Islam ini. Propaganda gerakan ini terlihat demikian massif di berbagai media sosial. Berikut petikannya:

……………

Corona makin berkuasa, makin menjadi raja.

Raja yg menghantui semua org, baik yang beragama atau tidak beragama.

_Bahkan menghantui org2 yg sudah sering haji dan umrah juga.

Kini,,,,,

Setanpun melakukan Pesta.

Setan dan bala tentaranya bahagia, senang karena sukses targetnya.

Karena faktanya, banyak orang lebih takut kepada Corona daripada berdoa kepada Tuhannya, ALLAAH SUBHAANAHU WATA’AALA.

Saya sangat khawatir,,_

Sebentar lagi Jumatan dilarang karena takut terkena korona.

Kalau ini terjadi,,,,,

_Sungguh setan semakin di atas segalanya.

…………….

Syaikh Basyir Hasan, salah seorang ulama anggota Ikatan Ulama Muslim Sedunia (IUMS) merasa prihatin dengan sikap keagamaan kelompok-kelompok seperti ini. Menurutnya, keislaman mereka lebih condong kepada emosi daripada pemahaman fikih. Beliau menuangkannya melalui sebuah artikel di situs IUMS.

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Rasulullah saw. memerintahkan muazin membacakan “Shallu fi rihalikum” (Shalatlah di tempat kalian) saat turun hujan? Padahal hujan adalah rahmat dari Allah, dan tidak menyebabkan penyakit yang mematikan?

Apakah mereka tidak mengetahui pendapat ulama Mazhab Malikiyah dan lainnya yang membolehkan seseorang tidak melaksanakan shalat berjamaah dan shalat Jumah karena merasa terancam dengan adanya wabah?

Baca juga:

Bukankah para ulama memandang bahwa shalat berjamaah adalah sunnah muakkadah, sementara menjaga keselamatan nyawa kita adalah kewajiban yang harus diutamakan?

Bukankah himbauan tidak shalat berjamaah adalah fatwa para ulama di banyak belahan dunia, mulai dari Kuwait, Libanon, Mesir, termasuk juga ikatan ulama Muslimin sedunia (IUMS)? Bukankah mereka adalah ulama yang mendalam ilmunya dan bertakwa kepada Allah Taala?

Bukankah selain melanggar sunnah (meninggalkan shalat berjamaah dalam kondisi darurat), mereka juga telah menolak keringan yang diberikan Allah Taala? Padahala Allah Taala sangat ridha saat keringanan-Nya diterima, sama ridha-Nya saat kewajiban-Nya dilaksanakan?

Bukankah rukhshah (keringanan) adalah salah satu hukum Allah Taala, sama dengan melaksanakan kewajiban aslinya? Orang yang menolak keringanan dari Allah bisa dikatakan telah berlebih-lebihan dalam beragama. Sementara orang yang berlebih-lebihan dalam beragama dikatakan oleh Rasulullah saw. akan celaka.

“Salah satu bentuk berlebih-lebihan dalam beragama adalah menolak keringanan di saat seharusnya menerima keringanan.”

Bahkan sikap ini kadang menyebabkan mereka jatuh kepada perbuatan maksiat. Dalam Shahih Bukhari dikisahkan bahwa perjalanan Rasulullah saw. dan para sahabat dalam Pembukaan Kota Mekah bertepatan saat mereka berpuasa.

Ketika mereka sampai di sebuah daerah, kondisi tubuh mereka sudah sangat keletihan. Padahal matahari sudah hampir terbenam. Rasulullah saw. menghentikan perjalanan, dan meminta segelas air. Beliau juga mengajak para sahabatnya ikut membatalkan puasanya sebelum datang maghrib.

Ternyata ada beberapa sahabat yang tidak mau membatalkan puasanya, maka Rasulullah saw. berkata, “Mereka telah membangkang. Mereka telah membangkang.”

Peristiwa ini membuktikan bahwa menolak keringanan bisa membuat seorang Mukmin menjadi pembangkang (pelaku maksiat). Kemaksiatannya apa? Berlebih-lebihan dalam beragama. Berlagak takwa dan ahli ilmu melebih para ulama dan orang shalih.

Dalam peristiwa itu, bisa saja Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kesulitan boleh membatalkan puasanya. Orang yang masih kuat dipersilahkan melanjutkan puasanya.” Tapi ternyata hal itu tidak disabdakannya.

Bisa saja saat itu Rasulullah saw. bersabda, “Bersabarlah kalian. Sebentar lagi maghrib akan segera tiba.” Tapi hal itu tidak disabdakannya.

Bisa saja saat itu beliau mempersilahkan para sahabat untuk membatalkan puasa mereka, sementara beliau melanjutkan puasanya. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Beliau sendiri yang mencontohkan bagaimana menerima keringanan dari Allah Taala.

Semua itu agar orang-orang mengetahui betapa Islam adalah agama yang mudah, penuh toleransi, dan luas bisa dilaksanakan dalam setiap situasi dan kondisi. Sebaliknya, beliau malah mengomentari orang yang tidak mengikutinya sebagai orang-orang pembangkang.

Dalam peristiwa lain ada seorang sahabat yang terluka di bagian kepalanya, sementara beliau junub. Ketika hendak melaksanakan shalat, beliau bertanya kepada rekan-rekannya, “Adakah keringanan bertayamum untuk orang dengan kondisiku?” Mereka menjawab, “Tidak ada keringanan bagimu karena ada air.”

Maka beliau pun menuruti fatwa mereka. Beliau mandi, dan akhirnya meninggal dunia. Ketika hal itu didengar oleh Rasulullah saw., beliau mengatakan, “Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membalas mereka setimpal. Kenapa mereka tidak bertanya saat tidak tahu? Bukankah obat orang yang tidak tahu adalah bertanya?” [Abu Daud]. (iums/sof1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:


Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.