FLORA FAUNA

Kisah Ular dalam Al-Quran

Kisah Ular dalam Al-Quran
Kisah Ular dalam Al-Quran
Ternyata Al-Quran juga mengisahkan tentang ular yang bermacam-macam.

mukjizat.co – Kisah ular dalam Al-Quran. Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan kemunculan anak-anak ular kobra di pemukiman warga. Jauh dari habibat mereka seperti sungai, semak-belukar, dan sebagainya. Akhirnya publik pun harus mendapatkan edukasi tentang ciri-ciri ular berbisa dan sifat-sifatnya yang berbahaya.

Ternyata Al-Quran juga mengisahkan tentang ular. Dalam  penjelasannya, ular dibahasakan dengan kata “tsu’ban” dan “hayyah”. Penggunaan dua kata ini ternyata menyimpan sebuah rahasia kehebatan Al-Quran. Tidak ada sinonim dalam Al-Quran. Kata yang berbeda memberikan makna yang berbeda pula, walaupun tipis sekali perbedaan tersebut.

Allah Taala meletakkan kata dengan begitu tepatnya. Akan berubah menjadi tidak tepat ketika diganti dengan kata lain yang mungkin dianggap sebagai sinonim. Inilah di antara banyak bentuk kemukjizatan Al-Quran dalam sisi bahasa.

Dalam kisah dakwah Nabi Musa as. disebutkan tiga kali mukjizat tongkat yang bisa berubah menjadi ular, yaitu:

  • ketika beliau menerima wahyu di Gunung Thursina,
  • ketika berhadapan dengan Firaun,
  • dan ketika berhadapan dengan para tukang sihir dalam sebuah acara besar yang diadakan Firaun untuk mematahkan dakwah beliau.

Ternyata kata ular disebutkan dengan bentuk berbeda dalam tiga kesempatan tersebut.

Baca juga:

Di Bukit Thursina

Pada kisah ular dalam Al-Quran pertama adalah saat Nabi Musa as. dalam perjalanan Yordania-Mesir. Dalam suasana gelap dan dingin itu, Nabi Musa as. yang ditemani anak-istrinya, melihat secercah cahaya. Beliau meninggalkan mereka untuk pergi mendekat kepada cahaya tersebut.

Ternyata Allah Taala memanggilnya, dan mengangkatnya menjadi seorang nabi. Sebagai bukti kenabiannya, beliau diberi mukjizat di antaranya tongkat yang saat dilempar berubah menjadi ular.

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى. قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآَرِبُ أُخْرَى. قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى. فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى. قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى.

“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”.

Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.  Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” [Thaha: 17-21].

Berhadapan dengan Firaun

Pada kisah ular dalam Al-Quran kedua, Nabi Musa as. sudah sampai ke Mesir. Beliau mendatangi Firaun, memintanya untuk beriman dan membebaskan bangsa Bani Israil. Ketika diminta memberikan bukti kenabian, Nabi Musa as. melempar tongkatnya, dan berubah menjadi seekor ular.

وَقَالَ مُوسَى يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ. حَقِيقٌ عَلَى أَنْ لَا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ. قَالَ إِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِآَيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ. فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ. وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ. قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ.

“Dan Musa berkata: “Hai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel (pergi) bersama aku”.

Firaun menjawab: “Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar”. Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya.

Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Firaun berkata: “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai,” [Al-A’raf].

Baca juga:

Berhadapan dengan Para Penyihir

Pada kisah ular dalam Al-Quran ketiga, Nabi Musa as. dipertemukan Firaun dengan para ahli atau tukang sihir kebanggaan dan andalannya. Saat itu dikisahkan bahwa mereka melemparkan tali-tali yang dilihat oleh hadirin menjadi ular-ular yang meliuk-liuk.

Tapi saat Nabi Musa as. melemparkan tongkatnya, ular-ular jadian-jadian itu ditelan habis oleh ular atau tongkat Nabi Musa as. Mereka tersadar dan mengakui bahwa apa yang dipertunjukkan Nabi Musa as. berbeda dengan sihir mereka. Itu bukan sihir, tapi mukjizat yang membuktikan bahwa dirinya benar-benar utusan Allah Taala. Mereka beriman yang berakhir dengan hukuman mati dari Firaun yang murka.

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

“Dan kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” [Al-A’raf: 117].

Analisis kebahasaan

Ternyata ada perbedaan bahasa yang digunakan dalam masing-masing tiga kisah di atas.

  • Dalam kisah pertama, ular dibahasakan dengan kata “hayyah”.
  • Dalam kisah kedua, ular dibahasakan dengan kata “tsu’ban”.
  • Dalam kisah ketiga, tidak disebutkan ular, tapi disebutkan dengan kata “hiya” yang merupakan kata ganti untuk bentuk feminin. Bisa kembali kepada ular, bisa juga kembali kepada tongkat.

Lalu apa perbedaannya? Ternyata digunakan kata berbeda dalam aksi yang sama, yaitu melempat tongkat, karena disesuaikan dengan tujuan aksi tersebut.

  • Kali pertama Nabi Musa as. diperintahkan melempar tongkatnya bertujuan agar beliau yakin bahwa dirinya benar-benar telah diangkat menjadi seorang nabi. Itulah mukjizat yang menjadi buktinya.
  • Kali kedua Nabi Musa as. melemparkan tongkat agar berubah menjadi ular dengan tujuan membuat Firaun takut. Setelah takut diharapkan akan beriman.
  • Kali ketiga Nabi Musa as. melempar tongkat dengan tujuan mengalahkan para tukang sihir, sehingga mereka dan para hadirin bahwa apa yang ditunjukkannya bukanlah sihir, tapi mukjizat dari Allah Taala.

Untuk tujuan-tujuan itulah, Allah Taala membahasakan ular dengan bahasa yang berbeda. Dalam kamus, “Hayyah” bermakna ular kecil. Cukuplah tongkat itu berubah menjadi ular kecil agar Nabi Musa as. yakin bahwa dirinya telah diangkat menjadi nabi.

Baca juga:

Sementara “tsu’ban” bermakna ular besar. Diperlukan ular besar yang berubah dari tongkat Nabi Musa as. agar Firaun merasa ketakutan, dan akhirnya beriman. Kalau berubahnya menjadi ular kecil, mungkin Firaun tidak akan takut, bahkan mungkin akan melihatnya sebagai hal yang lucu.

Sementara dibahasakan dengan kata “hiya” yang tidak bisa dipastikan apakah berubah menjadi ular atau tetap dalam bentuk tongkat, karena yang penting adalah bahwa benda itu memakan ular jadi-jadian karya para tukang sihir. Sehingga mereka merasa yakin bahwa Nabi Musa as. adalah seorang utusan Allah Taala, bukan seorang tukang sihir.

Itulah kisah ular dalam Al-Quran yang membuat kita semakin takjub dengan kehebatan bahasa Al-Quran. Semakin yakin bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Allah Taala. Tidak akan bisa seperti ini kalau Al-Quran adalah hasil karya manusia. Wallahu A’lam. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment