HOW TO

Tuntunan Al-Quran Agar Waktu Tak Sia-Sia di Tahun 2020

Tuntunan Al-Quran Agar Waktu Tak Sia-Sia di Tahun 2020
Tuntunan Al-Quran Agar Waktu Tak Sia-Sia di Tahun 2020
Awal tahun 2020 ini bisa kita jadikan tonggak perubahan hidup dan manajemen diri kita.

mukjizat.co – Tuntunan Al-Quran tentang waktu. Berawal dari kisah Nabi Yusuf as., mari kita belajar tuntunan Al-Quran dalam mengatur waktu dengan baik agar terbebas dari krisis dan permasalahan lainnya. Apalagi kita berada di awal tahun 2020. Ini bisa dijadikan tonggak perubahan hidup dan manajemen diri kita.

Kisahnya terdapat dalam Surat Yusuf ayat 46 hingga 49.

“Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru, “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang 7 ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus-kurus dan 7 bulir (gandum) yang hijau dan (7) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Yusuf berkata, “Supaya kamu bertanam 7 tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

Kemudian sesudah itu akan datang 7 tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.”

Nabi Yusuf as. hebat dalam mengatur waktunya

Bagi seorang nabi, apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as. adalah sebuah mukjizat pemberian Allah Taala untuk membuktikan kenabiannya. Tapi dalam pandangan manusia, kemampuannya mungkin bisa dikategorikan dalam ilmu ilmu yang mempelajari tentang masa depan (futurologi).

Kemampuan orang dalam memprediksi masa depan akan membuat orang memiliki visi dalam hidupnya. Seperti apa diri seseorang pada tahun tertentu. Baru kemudian membuat perencanaan, langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai visi tersebut. Inilah kiranya yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as.

Nabi Yusuf as. merencanakan program penanggulangan krisis pangan untuk beberapa tahun ke depan. Durasi program adalah 14 tahun yang terbagi menjadi dua bagian; 7 tahun masa produksi pangan, dan 7 tahun masa paceklik atau kekurangan pangan.

Sejak dari awal beliau telah melakukan perbandingan dua periode itu. Bila periode produksi bisa berjalan dengan mulus, maka pada periode konsumsi rakyat dan banyak orang akan terhindar dari krisis pangan. Krisis pangan tidak akan berubah menjadi krisis kemanusiaan di mana banyak orang meninggal dunia kelaparan. Pentingnya tuntunan Al-Quran tentang waktu.

Baca juga:

Kekuasaan dan manajemen waktu

Kira-kira apa yang dilakukan Nabi Yusuf as.? Tentu beliau memegang kendali penuh dalam pelaksanaan program ini. Karena raja sudah sangat percaya kepada dirinya. Masa 7 tahun pertama benar-benar dimanfaatkannya untuk produksi pangan.

Sudah diperkirakan berapa kebutuhan pangan rakyat Mesir selama 14 tahun; 7 tahun saat ditambah 7 tahun yang tanpa produksi pangan sama sekali. Sebagai negara besar, Mesir juga dipastikan akan kebanjiran rakyat dari negeri-negeri lain yang datang untuk meminta bantuan pangan saat paceklik melanda negeri mereka.

Setelah didapatkan angka target produksi selama 7 tahun, langkah berikutnya yang ditempuh Nabi Yusuf as. adalah menentukan berapa luas lahan yang harus dibuka untuk produksi gandum. Beliau juga bisa memberi tekanan untuk para petani kapas dan komoditi lain yang bukan pangan untuk mengubah produksi mereka kepada pangan saja. tahun-tahun fokus memproduksi pangan.

Tak kalah penting adalah menyiapkan lumbung-lumbung raksasa yang digunakan untuk menyimpan gandum yang sangat melimpah tersebut. Bahkan dalam ayat di atas, Nabi Yusuf as. telah menentukan teknologi penyimpanan gandung tersebut agar kuat bertahan dalam waktu lama tetap layak konsumsi.

Ternyata Mesir selamat dari krisis. Bahkan bisa memberikan bantuan pangan kepada negeri-negeri lain yang membutuhkan. Ini semua berkat penangangan yang baik, terencana, termonitor.

Berencana, akhlak qurani

Tuntunan Al-Quran tentang waktu. Islam sangat memperhatikan perencanaan. Bahkan orang yang menjalani hidup dengan perencanaan diibaratkan dengan orang yang hidupnya nyaman, lempeng dan tanpa gangguan jalan yang berarti. Allah Taala berfirman:

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkel di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” [Al-Mulk: 22]. Orang yang berjalan dengan tujuan lebih jelas arahnya daripada orang berjalan tanpa tujuan

Nabi Yusuf as. juga menentukan prioritas apa yang harus dikerjakan dulu, apa yang harus dicapai dulu. Karena tujuan harus diurutkan prioritasnya. Hal ini akan mengefektifkan alokasi waktu.

Begitulah Rasulullah saw. diperintahkan untuk menentukan prioritas dakwahnya. Apa yang harus didakwahkan dulu. “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah,” [Al-Mudatsir: 1-5].

Menentukan prioritas siapa yang harus didakwahi dulu. “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” [Asy-Syuara: 214].

Nabi Yusuf as. juga memanfaatkan semua potensi yang dimilikinya. Yang pertama adalah potensi dirinya sendiri. “Berkata Yusuf, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” [Yusuf: 55].

Baca juga:

Potensi ladang pertanian yang subur di Mesir, perairan sungai Nil, dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Taala:

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [Ibrahim: 32-34].

Selain potensi, mengerahkan semua upaya dan sarana juga sangat dianjurkan, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” [Al-Anfal: 60].

Walaupun pada akhirnya keberhasilan program diserahkan kepada Allah swt. “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi.” [Al-Kahfi: 23].

Menghubungkan waktu dengan tujuan hidup

Tuntunan Al-Quran tentang waktu. Allah Taala yang menciptakan manusia, Dia juga yang telah menentukan tujuan utama hidup mereka. Bukan masing-masing. Tujuan itu adalah beribadah kepada Allah Taala. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Az-Zariyat: 56].

Apa pun yang ingin didapatkan seorang hamba harus membantunya mencapai tujuan utama yaitu kesuksesannya menghamba kepada Allah Taala. Jadi bagaimana melaksanakan ibadah dengan baik harus terus ada dalam benak dan pikiran setiap manusia. Dan ternyata waktu ibadah itu bermacam-macam dan memenuhi seluruh hidup kita.

Ada ibadah yang seumur hidup sekali (haji), ibadah yang tahunan (puasa Ramadhan), ibadah bulanan (puasa 3 hari pada pertengahan bulan), ibadah pekanan (shalat Jumat), ibadah pada bagian-bagian hari (shalat 5 waktu), dan ada juga ibadah yang setiap saat bisa kita laksanakan (berzikir).

Kalau sepanjang hidup kita memikirkan bagaimana melaksanakan ibadah kepada Allah Taala, maka sepanjang hidup kita akan memikirkan waktu, bagaimana mengaturnya. Jenis ibadah yang bermacam durasi dan waktunya juga mengisyaratkan bahwa mengevaluasi pelaksanaan tugas tidak menunggu akhir tahun, atau bahkan akhir hidup.

Evaluasinya dilaksanakan pada selesainya elemen terkecil dalam hidup kita. Kalau sukses dalam elemen terkecil, bisa dijamin sukses pada elemen-elemen yang lebih besar selanjutnya.

Baca juga:

Adil dalam membagi dan mengatur waktu

Pentingnya adil dalam membagi waktu adalah agar semua tugas dan kewajiban terlaksana. Jangan terlalu banyak memberikan alokasi waktu untuk satu tugas, karena sikap ini akan menjadikan tugas-tugas lain terbengkalai dan tidak dilaksanakan. Walaupun yang diberi kebanyakan waktu itu adalah ibadah kepada Allah Taala. Rasulullah saw bersabda:

“Rasulullah berkata kepada Abdullah bin Amru bin Ash, ‘Aku dengar engkau shalat sepanjang malam dan berpuasa di siang hari, benarkah?’ Abdullah menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ Rasulullah berkata, ‘Jangan seperti itu. Kamu juga harus tidur, kamu tidka boleh terus-terusan berpuasa. Karena ada kewajiban kepada fisikmu, matamu, tamumu, dan istrimu.” [Bukhari].

Rasulullah saw bersabda juga memberikan contoh bagaimana membagi waktu:

“Orang yang berakal hendaknya membagi waktunya. Ada untuk bermunajat kepada Allah, bermuhasabah diri, bertafakkur alam semesta, dan untuk diri sendiri seperti makan dan minum.”

Waktu untuk kesenangan dunia

Jangan dibayangkan bahwa ketika tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah, lalu seluruh hidupnya harus digunakan untuk shalat, berzikir, dan begitu seterusnya. Kesenangan duniawi juga harus mendapatkan porsinya dalam hidup kita.

“Hanzhalah datang kepada Rasulullah saw seraya berkata, ‘Aku sudah munafik.’ Rasulullah bertanya, ‘Kenapa?’ Hazhalah berkata, ‘Ketika sedang bersamamu kami ingat neraka dan surga hingga seperti kelihatan oleh mata kami. Tapi setelah pulang, kami bergaul dengan anak, istri, dan pekerjaan. Kami banyak terlupa.’ Rasulullah saw berkata, ‘Demi Allah, kalau kalian terus dalam kondisi seperti sedang bersamaku, pasti malaikat akan bersalaman dengan kalian di tempat duduk dan jalanan kalian. Hai Hanzhalah, sesaat untuk agamuku, sesaat untuk dirimu.” [Muslim].

Waktu untuk kesenangan dunia harus disediakan karena hati manusia memang mengalami kondisi fluktuasi dalam hal semangat melaksanakan ketaatan kepada Allah Taala. Umar bin Khattab ra. mengatakan:

“Setiap hati memiliki kondisi berselera dan bersemangat, juga memiliki kondisi tidak berselera dan malas. Maka manfaatkanlah masa dia berselera dan semangat, tinggalkan dia saat tidak berselera dan malas.” [Rabi’ul Abrar].

Baca juga:

Hindari sikap membuang-buang waktu

Rasulullah saw. menyebutkan beberapa penghalang kita dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Taala. Hendaknya saat masih memiliki kesempatan dan kemampuan, ketaatan itu dilaksanakan. Rasulullah saw. bersabda:

“Rebutlah lima hal sebelum datang lima hal yang lain; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” [Hakim].

Semua waktu adalah kesempatan

Kemudian, kesempatan itu ternyata hendaknya diciptakan, bukan dinanti. Misalnya, bersedekah bukan hanya ketika kaya, ketika miskin pun bisa. Bahkan sangat mungkin dalam kondisi kaya kita tidak mau bersedekah. Rasulullah saw bersabda:

“Segeralah beramal sebelum datang tujuh hal; miskin yang melupakan, kaya yang menyombongkan, sakit yang merusak, tua yang melumpuhkan, mati yang menghentikan, Dajal keburukan yang pasti akan datang, atau kiamat yang jauh lebih pedih.” [Tirmizi].

Karena faktor utama kesuksesan kita adalah bersegera, bukan menunggu kesempatan. Kita hidup bagaikan orang yang berada dalam perjalanan. Akan ada daerah-daerah yang mengancam keselamatan kita. Orang yang bersegera akan melewati daerah-daerah itu dengan selamat.

Orang yang takut (di jalan) pasti akan bersegera. Orang yang bersegera pasti akan sampai tujuan.” [Tirmizi].

Mengharap berkah doa Rasulullah saw.

Senada dengan tuntunan Al-Quran tentang waktu, di antara faktor kesuksesan aktivitas kita adalah didoakan oleh Rasulullah saw. Banyak yang tidak tahu bahwa ternyata Rasulullah saw. turut mendoakan kita sukses dalam aktivitas harian kita. Rasulullah berdoa:

“Ya Allah berkahilah umatku di masa paginya.” Beliau juga biasa memberangkatkan pasukan di di pagi hari.” [Abu Daud].

Doa Rasulullah saw. pasti terkabul. Oleh karena itu amal kebaikan apapun yang kita laksanakan di pagi hari, di awal hari, pasti akan tersawab keberkahan doa Rasulullah saw. ini sehingga akan mendapatkan hasilnya. Ada juga ulama menafsirkan “masa pagi” dengan segera di awal waktu. Artinya tidak menunggu-nunggu pelaksanaannya. Dalam kesempatan lain, beliau bersabda:

“Carilah rezeki dan selesaikanlah kebutuhanmu di pagi hari. Pagi hari itu penuh berkah dan kesuksesan.” [Ath-Thabrani].

Fathimah berkata, “Rasulullah datang kepadaku saat aku berbaringan. Beliau menggerakkanku dengan kakinya seraya berkata, ‘Puteriku, bangun dan lihatlah rezeki Allah. Janganlah engkau termasuk orang yang lalai. Sesungguhnya Allah membagi-bagi rezeki kepada manusia antara terbit fajar dan terbit matahari.’” [Baihaqi].

Bekerja sama dalam mengefesienkan waktu

Kadang kita sudah baik dalam mengatur waktu, tapi waktu kita akhirnya terbuang-buang juga karena faktor luar. Sahabat kita misalnya. Oleh karena itu, menejemen waktu akan berhasil kalau tercipta kerja sama yang solid dalam mensukseskannya.

Al-Quran telah mengatur semua itu. Perintah untuk menepati janji, misalnya. Ketika kita menepati janji dengan orang lain, kita sedang mengefesienkan waktu orang tersebut. Di lain waktu, orang tersebut juga akan terdorong untuk mengefesienkan waktu kita. Allah Taala berfirman:

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,” [Al-Mukminun: 8].

“kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa.” [Thaha: 40].

“Tanda orang munafik ada tiga. Jika berkata, dia bohong. Ketika berjanji, dia ingkar. Ketika diamanahi, dia berkhianat.” [Bukhari dan Muslim].

Pencuri waktu yang mengasyikkan

Tuntunan Al-Quran tentang waktu. Hendaknya kita berhati-hati dengan pencuri waktu yang kadang menyerang kita dengan cara yang mengasyikkan. Mengobrol lama dengan tamu misalnya, atau juga bertamu lama kepada sahabat. Oleh karena itu Al-Quran memberikan tuntunan kita bertama. Harus meminta izin. Karena bertamu berarti mengambil waktu pemilik rumah yang sebenarnya sedang dialokasikan kepada urusan lainnya.

Bahkan Al-Quran tidak hanya memerintahkan kita meminta izin. Tapi juga melihat kondisi tuan rumah, apakah ada penerimaan yang kita lihat pada wajahnya? Apakah pakaiannya menunjukkan dia sedang tidur atau hendak bepergian? Kalau semua itu menunjukkan tuan rumah tidak dalam kondisi siap menerima, hendaknya kita urungkan bertamu, walaupun dia mempersilahkan. Allah Taala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin (tasta’nisuu, melihat kondisi penerimaan tuan rumah)dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” [An-Nur: 27].

Sebenarnya, tuan rumah berhak untuk menolak kedatangan kita. Kalaupun dia menyatakan penolakan, hendaknya orang yang hendak bertamu segera mengurungkan kunjungannya. Tapi sangat sulit didapatkan tuan rumah yang menyatakan penolakannya dengan lugas. Penolakannya disampaikan dengan isyarat, misalnya dengan tidak dibukakannya pintu walaupun sudah calon tamu sudah mengucapkan salam berkali-kali.

Baca juga:

Calon tamu yang diperlakukan seperti itu hendaknya segela balik badan pulang ke rumahnya, tidak jadi bertamu. Rasulullah saw bersabda:

“Saat bertamu, kita berhak meminta izin tiga kali. Jika tidak diizinkan, hendaknya pulang.” [Bukhari].

Hal lain yang asyik tapi menghilangkan kesempatan adalah melamun dan berangan-angan panjang, tanpa melakukan apa-apa. Hasan Al-Basri berkata “Banyak berangan-angan akan membuat buruk beramal.” Senada dengan hal itu, Al-Qurthubi juga mengatakan, “Berangan-angan akan membuat malah bekerja, ingin bersantai, membuat bermalas, senang dunia, dan ingin mengikuti hawa nafsu.” Semoga tuntunan Al-Quran ini membuat waktu tak sia-sia di tahun 2020 ini. Amin Ya Rabbal ‘alamin. (sof1/www.mukjizat.co).

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.