AKHLAK

Akibat Khatib Melecehkan Nabi

Akibat Khatib Melecehkan Nabi

mukjizat.co – Semua orang Islam harus memuliakan Rasulullah saw. Bukan hanya dipertanyakan keimanannya, orang yang melecehkan Nabi saw. juga ternyata mendapatkan hukuman langsung dari Allah Taala. Inilah kisah akibat khatib melecehkan Nabi saw.

Thaha Husein adalah seorang pemikir terkemuka dari Mesir. Banyak karyanya yang mendunia, terutama dalam bidang Bahasa Arab dan sastranya. Namun tak sedikit buah pemikirannya yang kontroversial, dan menjadi perdebatan di kalangan umat Islam.

Usaha pembunuhan Rasulullah saw.

Thaha Husein adalah menteri pendidikan di Mesir pada tahun 50 an abad yang lalu. Gelar doktoralnya diraih di Prancis pada tahun 1918. Prestasi yang gemilang pada pendidikan tinggi itu diperolehnya walaupun kondisi matanya yang buta sejak umur dua tahun.

Saat kembali ke tanah air, Thaha Husein disambut dengan sangat mulia oleh Raja Fuad yang saat itu berkuasa di Mesir. Dalam sebuah khutbah Jumat yang juga dihadiri raja dan Thaha Husein, khatib ingin memuji-muji raja dan intelektual yang baru saja pulang ke tanah air.

Khatib saat itu mengatakan, “Laa ‘abasa walaa tawalla lamma jaa’ahul a’maa” (Dia tidak bermuka masam dan berpaling, saat didatangi seorang yang buta). Mirip dengan bunyi ayat pertama dan kedua surat Abasa (عَبَسَ وَتَوَلَّى. أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى). “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.” [Abasa: 1-2].

Ternyata di antara yang hadir pada shalat Jumat itu seorang ulama besar Al-Azhar, Syaikh Muhammad Syakir. Begitu selesai shalat, beliau berdiri dan mengatakan kepada para jamaah, “Ayo kita ulangi shalat kita dengan shalat Zhuhur, karena imam dan khatib kita telah kafir.” Maka jamaah pun kembali melaksanakan shalat dengan imam yang berbeda. Inilah akibat khatib melecehkan Nabi saw.

Dalam pandangan Syaikh Muhammad Syakir, khatib telah melecehkan Rasulullah saw. secara tidak langsung. Rasulullah saw. yang ditegur oleh Allah Taala karena lebih mementingkan berbicara dan mendakwahi para pemimpin Quraisy daripada berbicara kepada Abdullah bin Umi Maktum yang datang kepada beliau.

Khatib ingin mengatakan bahwa Raja Fuad tidak seperti Rasulullah saw. Rasulullah saw. tidak menyambut kedatangan seorang yang buta, sementara Raja Fuad menyambut dan memuliakan seorang yang buta (Thaha Husein).

Kisah Cinta Fitri di Zaman Nabi

Syaikh Muhammad Syakir menuliskan alasan hukum ini, dan menyampaikannya kepada raja. Namun ada sekelompok orang yang dengki kepada Syaikh Muhammad Syakir, mendorong khatib untuk menuntut Syaikh Muhammad Syakir ke pengadilan, dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Dalam pengadilan, Syaikh Muhammad Syakir mengatakan, “Untuk menjadi saksi ahli, aku tidak ingin ulama Al-Azhar atau ulama Bahasa Arab. Cukuplah seorang orientalis yang tidak beriman kepada Allah Taala, tapi memahami bahasa Arab. Biarkan dia memutuskan apakah perkataan khatib itu melecehkan Nabi saw. atau tidak.” Ternyata khatib itu kemudian mundur dan menarik berkas tuntutannya.

Syaikh Ahmad Syakir, putra Syaikh Muhammad Syakir, mengatakan, “Allah Taala tidak membiarkan pencela Nabi saw. ini hidup bebas tanpa dihukum. Awalnya dia bisa merasa bebas dan menyombongkan diri karena berlindung kepada orang-orang berkuasa di negeri ini.

Tapi tak lama kemudian aku melihatnya sungguh sangat hina. Dia menjadi pelayan di masjid yang bertugas menerima dan menyimpan sandal para jamaah masjid. Suatu hari aku melihatnya agak rikuh saat bertemu denganku, karena kami sama-sama mengenal.” Inilah buruknya akibat khatib melecehkan Nabi saw. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.