KEJIWAAN

Tilawah Dulu Tilawah Sekarang

tilawah dulu tilawah sekarang
Tilawah dulu tilawah sekarang

mukjizat.co – Tilawah dulu tilawah sekarang. Generasi sahabat adalah generasi terbaik dalam sejarah Islam. Melahirkan tokoh-tokoh yang tidak hanya memberikan kontribusi untuk umat Islam, tapi juga dunia. Seakan kehadiran mereka dalam panggung sejarah adalah hadiah dari Allah Taala untuk umat manusia.

Masih lamakah kita harus menunggu rahim kaum Muslimat melahirkan orang-orang sekaliber mereka? Lama-sebentar penantian itu ternyata ditentukan bagaimana sikap umat Islam kepada Al-Quran saat ini. Karena Al-Quranlah yang telah membentuk para sahabat menjadi seperti itu.

Para sahabat sangat mengagungkan Al-Quran saat membaca atau mendengarkannya. Mereka rasakan betul bahwa yang mereka dengar adalah firman Allah Taala Pencipta langit dan bumi. Mereka merasa sangat beruntung dipilih Allah Taala bisa berkesempatan membaca atau mendengarkan firman itu. Tilawah dulu tilawah sekarang.

Sikap seperti itu berhasil membuka hati mereka sehingga siap untuk memahami dan merenungi setiap bacaan. Tidak ada penghalang sama sekali yang membuat hati kesulitan mendapatkan cahaya hidayah yang sedang dipancarkan Allah Taala melalui setiap huruf mulia itu.

Saat berhadapan dengan bacaan Al-Quran, mereka rasakan benar-benar bahwa Allah Taala sedang berfirman dan memberi petunjuk kepada mereka Masing-masing merasa sedang diajak bicara secara khusus oleh Allah Taala Penciptanya. Allah Taala sedang berbicara kepadanya bukan kepada orang lain. Kesungguhan dan perhatian pun hadir menyertai lantunan bacaan mereka.

Ketika ayat berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman” mereka merasa sedang dipanggil, lalu menunggu-nunggu apa yang akan disampaikan Allah Taala setelah itu. Mereka ingin segera mengetahui. Bukan sekadar mengetahui lalu sudah, tapi mengetahui untuk dilaksanakan sedetil-detilnya dengan penuh kepasrahan dan ketundukan kepada Pemberi perintah dan larangan. Tilawah dulu tilawah sekarang.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [An-Nur: 51].

Terus seperti apakah sikap umat Islam sekarang kepada Al-Quran? Umat Islam saat ini telah mewarisi Islam secara sangat mudah tanpa pengorbanan yang berarti. Namun Islam yang mereka terima telah terpotong-potong sehingga bentuk utuhnya sangat sulit dikenali. Esensi Islam sudah hambar dirasakan.

Ditambah lagi kondisi umat yang sedang lemah, tidak bersemangat, dan tidak ideal. Agama pun tidak mendapatkan tempat utama dalam prioritas hidup mereka. Al-Quran tidak dirasakan betul sebagai firman Allah Taala Tuhan semesta alam. Terlalu sering Al-Quran ditinggalkan; tidak dibaca atau didengarkan. Kalau pun dibaca, tidak ada perenungan dan perasaan. Sehingga tidak ada perubahan kondisi sesudah dan sebelum membacanya.

Tilawah dulu tilawah sekarang. Saat mendengarkan seseorang membacanya, perhatian lebih banyak tertuju kepada nada yang sedang dibawakan. Tak ubahnya seperti mereka sedang mendengarkan orang yang sedang membawakan sebuah lagu, na’udzu billahi min zalik.

Ketika pembaca berhasil membawakan bacaannya dengan nada yang sangat tinggi dan panjang, maka para pendengar akan memberikan penghargaan yang meriah. Walaupun mungkin dengan ungkapan-ungkapan yang bernilai dzikir.

Mereka tidak terpengaruh dengan getaran hidayah yang dipancarkan Al-Quran, karena memang mereka tidak mau merenungkan makna dengan hati mereka. “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [Al-A’raf: 204].

Kesibukan banyak dari mereka memang adalah mengejar dunia. Dunia memenuhi akal dan hati mereka. Semua itu menjadi penghalang sampainya getaran hidayah Al-Quran ke dalam hati mereka. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” Seperti itulah tilawah dulu tilawah sekarang. [Al-Muthaffifin: 14]. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment