BAHASA

Sastrawan Ini Tak Lagi Berkarya Karena Al-Quran

sastra al-quran
sastra al-quran

mukjizat.co – Sastrawan adalah seorang selebriti dalam kehidupan bangsa Arab. Bagaimana tidak, bait-bait yang dipilih sebagai syair terindah akan diberi hadiah berupa digantung di Baitullah, Ka’bah. Tapi sastrawan ini tak lagi berkarya karena Al-Quran.

Ide dan pikiran para sastrawan yang tersimpan dalam rangkaian kata-kata indah akan menjadi nyanyian semua orang. Namanya pun akan sangat terkenal, penggemarnya akan semakin banyak seiring dengan penyebaran karya-karya sastra mereka.

Rasulullah saw. menyadari pentingnya kedudukan seorang sastrawan. Oleh karena itu, beberapa sastrawan yang berhasil didakwahi hingga kemudian menjadi seorang Muslim, diminta tetap berkarya. Karya sastra mereka setelah menjadi seorang Muslim hendaknya untuk mendukung dan membela dakwah Islam.

Terkenallah nama-nama sastrawan andalan Rasulullah saw. saat itu. Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, dan Abdullah bin Ruwahah. Ada satu lagi, seorang sastrawan yang sangat terkenal di masa jahiliyah, namun tidak lagi banyak berkarya setelah masuk Islam. Dia adalah Labid bin Rabi’ah.

Rasulullah saw. sangat mendukung para sastrawan untuk berkarya. Suatu kali, beliau berkata kepada Hassan bin Tsabit, “Balas syair mereka. Malaikat Jibril mendukungmu.” Seakan kedudukan yang sangat mulia ini tidak menarik bagi Labid bin Rabi’ah. Padahal dulu syairnya ditempel di Ka’bah dan dibaca semua orang sehari-hari, tapi kini tidak bisa menghasilkan apa-apa.

Apa gerangan yang membuat kelu lisannya? Kemampuan sastrawan menghasilkan karyanya sangat tergantung kondisi kejiwaan yang sedang dialaminya. Bahkan ada sastrawan yang baru bisa banyak berkarya ketika kondisinya sedang berputus asa. Tapi dalam kondisi normal, sangat kesulitan berkarya. Kenapa sastrawan ini tak lagi berkarya karena Al-Quran?

Lalu apa kondisi kejiwaan labid bin Rabi’ah sehingga tidak berkarya? Suatu kali Umar bin Khattab ra. memintanya dibuatkan syair. Ternyata Labid hanya mengirimkan tulisan berisi ayat-ayat surat Al-Baqarah. Saat itu dia berkata, “Aku sudah mendapatkan ganti syairku yang jauh lebih indah. Al-Quran ini.”

Ternyata Labid bin Rabi’ah sedang jatuh cinta dengan Al-Quran. Jiwa sastrawannya seakan lumpuh ketika berhadapan dengan keindahan bahasa Al-Quran yang demikian tinggi. Belum lagi makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sepenuh hatinya sudah penuh dengan cinta kepada Kalam Allah ini.

Sirna semua dari kepalanya syair-syair karyanya bersama para penyair hebat lainnya. Malu rasanya untuk menghasilkan karya sastra, sementara di tangannya ada Al-Quran yang demikian indah. Tepat sekali jika kemudian Allah Taala berfirman tentang hubungan mereka dan Al-Quran:

“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” Inilah yang disadari Labid bin Rabiah, sehingga
sastrawan ini tak lagi berkarya karena Al-Quran. [Al-Israa’: 88]. (Sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.