BAHASA

Kenapa Banyak Tokoh Tidak Disebut Namanya dalam Al-Quran?

mukjizat.co – Banyak sekali kisah yang disebutkan dalam Al-Quran. Tapi sangat sedikit nama tokoh dalam kisah-kisah itu yang dinyatakan dengan lugas. Gaya seperti ini disebut dengan Mubhamat Al-Quran. Bukan hanya tokoh, nama tempat juga mengalami hal serupa.

Apa kira-kira sebab di balik fenomena Al-Quran ini? Para ulama sudah banyak membahas masalah ini. Yang terkemuka adalah Imam As-Suyuthi dalam buku momumentalnya, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran. Setidaknya ada 7 hal yang bisa memahamkan kita disembunyikannya nama-nama itu.

Pertama, nama-nama itu tidak disebutkan dalam satu ayat karena akan disebutkan dalam ayat yang lain. Ini bisa masuk dalam corak Tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an. Buku yang paling mewakili tafsir ini adalah karya Syaikh Asy-Syinqithi berjudul Adhwa’ul Bayan fi Idhahi Al-Quran bi Al-Quran.

Misalnya tentang orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah Taala (dalam Surat Al-Fatihah), diterangkan dalam Surat An-Nisa’ sebagai para nabi, siddiqin, syuhada dan shalihin.

Kedua, nama-nama itu tidak disebutkan karena saking terkenalnya. Al-Quran tidak membuang-buang energi untuk menerangkan hal yang sudah terang. Misalnya adalah raja kafir yang menentang dakwah Nabi Ibrahim as., terkenal namanya dengan Namruz.

Ketiga, nama disembunyikan untuk menjaga nama baik orang itu. Misalnya adalah “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” [Al-Baqarah: 204].

Banyak ulama menyebutkan bahwa orang itu adalah Al-Akhnas bin Syuraiq yang kemudian masuk Islam dan menjadi Muslim yang baik. Ini dengan mengganggap bahwa riwayat sebab turunnya ayat tersebut sahih adanya.

Keempat, karena penyebutan nama-nama tersebut tidak memberi manfaat yang berarti. Tidak menambah iman dan amal kita. Sehingga mengetahuinya tidak bermanfaat, dan tidak mengetahuinya juga tidak berbahaya. Al-Quran hanya mengandung hal-hal yang bermanfaat saja. Maka hal-hal seperti itu tidak disebutkan dalam Al-Quran.

Seperti nama-nama Ashabul Kahfi, nama wanita yang mencintai Nabi Yusuf as., nama suaminya, wilayah-wilayah tempat tinggal para nabi, dan sebagainya. Jika tokohnya ada, tapi namanya tidak disebutkan, maka kewajiban kita adalah mengambil pelajaran dari sifat dan perbuatan orang itu. Untuk dicontoh atau dihindari.

Kelima, sebagai pernyataan dari Al-Quran bahwa peristiwa yang dikisahkan bersifat umum dan berlaku untuk semua orang yang melakukannya. Misalnya ayat, “Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” [An-Nisaa: 100].

Keenam, untuk mengagungkan orang tersebut dengan memberikan gelar yang baik. Misalnya, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya).” [An-Nuur: 22].

“Ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” [At-Taubah: 40]. “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” [Al-Lail: 17].

Semua orang yang disebutkan dalam ayat-ayat ini adalah Abu Bakar As-Siddiq ra.

Ketujuh, untuk meremehkan orang itu dengan gelar yang buruk. Misalnya dalam ayat, “Sesungguhnya orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” [Al-Kautsar: 3].

Demikianlah keunikan Al-Quran, mengajak kita untuk berfikir, dan juga fokus kepada hal-hal yang penting bagi kita. Sangat berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang menyebutkan segala sesuatu dengan detail. Tak heran karena Al-Quran adalah kitab terakhir, yang akan berlaku hingga hari kiamat. (sof1/www.mukjzat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.