KEBERKAHAN

Kenapa Jamaah Haji Senang dengan Orang Madinah?

Kenapa Jamaah Haji Senang dengan Orang Madinah

mukjizat.co – Mayoritas jamaah haji betah saat berada di Madinah. Mereka senang dengan penduduknya. Ini adalah sebuah keberkahan karena penduduk Madinah adalah para tetangga Rasulullah saw. Keberkahan itu juga tampak dalam sifat dan akhlak mereka.

Semua ini sudah berlangsung lama. Tepatnya saat Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah orang-orang yang harus meninggalkan rumah, harta, dan keluarganya di Mekah. Sementara Anshar adalah penduduk Madinah yang siap menampung dan membantu saudara-saudara mereka seiman dari Mekah.

Untuk terjalin hubungan yang erat dan saling membantu yang sangat dibutuhkan Muhajirin, Rasulullah saw. akhirnya mempersaudarakan orang per orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka terbentuklah kehidupan bermasyarakat yang sangat indah, belum pernah terwujud dalam sejarah manusia.

Menyambut Tamu

Walaupun tidak kenal, para penduduk Madinah memperlakukan siapapun yang berkunjung ke Madinah sebagai tamu. Mereka mau akrab dengan orang lain, dan orang lain pun senang akrab dengan mereka.

Ini berlaku sejak zaman Rasulullah saw. Mereka menyambut kaum Muhajirin dengan penuh cinta. Menyediakan apa saja yang mereka butuhkan. Tak aneh jika ada seorang orientalis yang menyematkan pada mereka gelar “malaikat yang hidup di bumi”.

Mudah Memaklumi

Ini karakter mereka dalam berinteraksi sehari-hari. Dalam pergaulan sosial, jual-beli, dan sebagainya. Mereka lebih terlihat sebagai orang-orang yang tenang dan berdada lapang (penyabar). Keberkahan hidup bersama Rasulullah saw. ternyata sangat kental terasa dan terwariskan hingga anak-cucu.

Suara Lembut

Penduduk Madinah tidak berbicara dengan suara yang keras. Begitu terdengar orang bersuara keras dalam keramaian, misalnya, maka orang-orang Madinah akan melihatnya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh.

Ini jelas ada akarnya dari zaman Nabi saw. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” [Al-Hujurat: 2].

Di zaman Umar bin Khattab ra., beliau pernah mendengar seseorang berkata keras di masjid Nabawi. Beliau langsung mendatanginya dan bertanya tentang daerah asalnya. Ternyata orang itu berasal dari Thaif. Maka Umar ra. berkata, “Kalau saja engkau bukan orang asing, tentu aku sudah memukulmu.”

Akrab dengan Sesama

Penduduk Madinah bersifat heterogen. Bukan hanya dari bangsa Arab saja. Tapi dalam pergaulan sehari-hari ada keakraban sesama warga tanpa memandang asal-usul mereka.

Tentu ini adalah tradisi masyarakat Madinah yang sudah kuat sejak ditanamkan oleh Rasulullah saw. saat mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Di zaman itu sudah ada Abu Bakar (Arab Quraisy), Salman (Persia), Bilal (Habasyah), Shuhaib (Romawi), dan lainnya.

Hubungan Harmonis dalam Keluarga

Hubungan antar anggota keluarga terlihat sangat harmonis dan saling menghormati. Sesama saudara memanggil dengan sebutan “Akhi dan Ukhti”. Suami-istri memanggil dengan sebutan “Abu…. Dan Ummu….”. Kepada orang dewasa yang bukan anggota keluarga memanggil dengan sebuat “Ammu…. dan Khalah….”.

Ini yang diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kakek-nenek mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil, dan menghormati yang besar.”

Hubungan Sesama Tetangga

Hubungan sesama tetangga di Madinah sungguh unik dan berbeda dengan tempat-tempat lain. Pepatah Arab yang menyebutkan “Carilah tetangga sebelum mencari rumah” sungguh sangat nyata terlihat di Madinah. Demikian juga pepatah “Tetangga dekatmu lebih penting daripada saudara jauhmu.”

Kalau ada hajatan di salah satu rumah, misalnya, maka seluruh tetangga akan membuka pintunya untuk turut berpartisipasi. Dalam masalah pendidikan pun demikian, masing-masing orang tua akan mengganggap anak-anak tetangga mereka sebagai anak mereka sendiri. Turut merasa bertanggung jawab atas baiknya akhlak mereka.

Kalau ada kepala keluarga salah satu rumah sedang bepergian, maka para tetangga merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga itu. Mereka akan terus bekerja sama hingga kepala keluarga itu pulang ke rumahnya.

Demikian beberapa keistimewaan penduduk Madinah. Sehingga tak heran jika ada penduduk Madinah yang bepergian ke luar daerah atau ke luar negeri, mereka akan sangat merindukannya, dan ingin segera pulang ke Madinah. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.