SYARIAH

Ada yang Harus Dirindukan Melebihi Baitullah

Ada yang Harus Dirindukan Melebihi Baitullah

mukjizat.co – Orang berlomba-lomba melaksanakan haji dan umrah karena kerinduan pada Baitullah. Tapi tahukah kita bagaimana rindu yang benar? Ada fenomena yang sekarang terjadi pada umat Islam, yaitu mengulang-ulang ibadah haji, atau haji sunnah. Fenomena yang sangat nyata ini ternyata menarik perhatian Dr. Yusuf Al-Qardhawi yang kemudian membahasnya dalam buku beliau, Fiqih Prioritas.

Di musim haji, masih banyak umat Islam kaya yang selalu ingin menikmati musim haji. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang juga melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Mereka demikian mudah mengeluarkan harta demi menikmati suasana ruhaniyah musim haji dan Ramadhan. Kadang-kadang mereka juga mengajak beberapa orang fakir untuk melaksanakan ibadah haji dengan tanggungan mereka, padahal orang-orang itu tidak memiliki kewajiban untuk melaksanakannya.

Namun mereka demikian berat mengeluarkan dana ketika diminta turut menyumbang untuk perjuangan Palestina melawan Yahudi, menghadapi gelombang kristenisasi di Indonesia atau Bangladesh, mendirikan Islamic Center, menyiapkan kader yang spesialis dan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk dakwah, atau untuk menerbitkan buku yang sangat bermanfaat untuk umat Islam.

Padahal dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa amal-amal yang bernilai jihad lebih tinggi kedudukannya daripada amal-amal yang bernilai haji. Allah swt. berfirman:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang lalim.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.” [At-Taubah: 19-21].

Di sisi lain, ibadah haji yang mereka lakukan hukumnya adalah sunnah, sedangkan jihad melawan sekularisme, dekadensi moral, dan semua permasalahan umat Islam, hukumnya adalah wajib. Bahkan seorang penulis terkenal dari Mesir, Fahmi Huwaidi, mengatakan bahwa menyelamatkan Bosnia Herzegovina lebih wajib dari ibadah haji. Pendapat ini benar adanya. Karena kewajiban yang mendesak segera dilaksanakan lebih utama didahulukan daripada kewajiban yang masih bisa ditunda.

Menurut data, dari seluruh jamaah haji yang ada, hanya 15% saja yang melaksanakan ibadah haji wajib. Selebihnya melaksanakan ibadah haji sunnah. Demikian juga yang melaksanakan ibadah umrah di sepanjang tahun, terutama di bulan Ramadhan. Seandainya saja mereka mau berpikir dan merelakan ibadah haji sunnah mereka demi menolong saudara-saudara mereka yang sangat membutuhkan, tentu akan sangat bermanfaat. Banyak sekali umat Islam yang terangkat dari garis kemiskinan, banyak madrasah yang akan didirikan, dan sebagainya.

Aku mengenal beberapa orang kaya di Mesir dan Qatar. Ada beberapa di antara mereka yang setiap tahun melaksanakan ibadah haji sejak 40 tahun yang silam. Tidak sendirian berangkat, mereka juga mengajak sanak-saudara, kolega bisnis, dan sebagainya. Kadang jumlah rombongan mereka mencapai 100 orang.

Suatu ketika saat pulang kunjungan dari Indonesia melihat begitu besar tantangan kristenisasi, aku bertemu dengan mereka. kukatakan, “Bagaimana kalau kalian berniat tahun depan tidak pergi haji? Ongkos haji masing-masing kalian kalau dikumpulkan bisa untuk membangun sebuah proyek Islami yang cukup besar.”

Seorang dari mereka menjawab, “Kalau sudah datang bulan Dhulhijjah, kami benar-benar merasakan kerinduan yang tidak bisa ditahan untuk melaksanakan ibadah haji. Ruh-ruh kami seakan melayang-layang di sana. Kami benar-benar merasa bahagia dapat turut menikmati wuquf di Arafah bersama jamaah yang lain.”

Seandainya pemahaman mereka benar, iman mereka kuat, dan mereka memahami fiqih prioritas, tentu mereka akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar ketika berhasil mendirikan proyek Islami untuk menyantuni anak yatim, memberi tempat tinggal bagi para pengungsi, mendidik orang-orang yang putus sekolah, atau memberikan lapangan pekerjaan untuk para pengangguran. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment