PERISTIWA

Banyak yang Meremehkannya, Ternyata Sahabat Ini Sangat Disayangi Rasulullah

mukjizat.co – Di pagi hari menjelang siang itu suasana Al-Madinah terlihat sibuk. Para sahabat sedang tekun dengan pekerjaan dan tugas masing-masing.

Namun ada satu sahabat yang terlihat tidak mempunyai aktivitas. Dia diam menyendiri di dalam masjid. Rasulullah saw. yang melihatnya langsung mendekat berniat untuk mengajaknya berbincang.

“Ada apa sahabatku, kenapa engkau terlihat seperti murung?” demikian Rasulullah saw. membuka perbincangannya.

Orang yang memang benar murung itu pun menjawab, “Aku merasa seakan aku adalah dagangan yang tidak laku.” Sepertinya dia sedih memikirkan dirinya yang tidak seperti sahabat lainnya, dipentingkan oleh sahabat-sahabat lainnya.

Secara fisik, sahabat ini memang tidak rupawan. Berkulit hitam, bertubuh pendek, dan berwajah kurang menarik. Tersiar ungkapan saat itu, para suami tidak akan cemburu kalau sahabat ini berbicara dengan istri-istri mereka. Tidak mungkin para istri akan tertarik pada dirinya.

Melihat hal yang kurang tepat itu, Rasulullah saw. pun meluruskan, “Tidak benar demikian. Engkau bagaikan dagangan yang sangat bernilai dalam pandangan Allah.”

Tidak hanya itu, Rasulullah saw. benar-benar ingin menghapus perasaan sedih sahabatnya itu. Beliau menawarkan sesuatu yang benar-benar tidak terpikirkan dalam benak sahabat itu. “Maukah kau menikah?” demikian pertanyaan yang sangat mengagetkan.

“Siapa yang mau menikah denganku? Tidak ada, Rasulullah,” demikian sahabat itu menyadari keadaan dirinya. Hal yang akan segera diluruskan langsung oleh Rasulullah saw. melalui sebuah tawaran, “Pergilah ke rumah seorang Anshar, katakan bahwa Rasulullah melamar putrinya.”

Sahabat tadi pun akhirnya menuruti anjuran Rasulullah saw. untuk melamarkan putri salah seorang penduduk Anshar. “Aku datang diutus Rasulullah saw. untuk melamarkan putri kalian,” demikian sahabat itu mengungkapkan maksud kedatangannya. Hal yang disambut gembira seisi rumah karena akan mempunyai hubungan keluarga dengan Rasulullah saw.

Merasa ada kesalahpahaman, sahabat tadi pun meluruskan, “Bukan untuk menikah dengan Rasulullah, tapi menikah denganku.” Suasana gembira pun kontan berubah drastis penuh dengan kebingungan. Bagaimana mungkin mereka akan menikahkan putri kesayangan mereka dengan sahabat ini.

Dalam suasana bimbing antara menerima atau menolak perintah Rasulullah saw. itu keluarlah putri mereka dari dalam kamarnya. Dengan agak kecewa, dia berkata, “Ayah, ibu, kenapa kalian mempertimbangkan lamaran Rasulullah? Bukankah pilihan beliau itu pasti baik?”

Gadis manis itu teringat dengan ayat, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Al-Ahzab: 36].

Maka dengan penuh keyakinan, gadis itu pun berkata, “Aku siap menikah dengannya.” Singkat cerita, keduanya pun menikah dan hidup bahagia. Pernikahan mereka tentu menjadi berita besar di Al-Madinah. Bagaimana tidak, orang yang diremehkan banyak orang itu diterima menikah dengan salah satu gadis Anshar.

Suatu ketika terjadi sebuah peperangan. Banyak sahabat yang gugur syahid saat itu. Di akhir peperangan, Rasulullah saw. menanyakan siapa saja yang hari itu dimuliakan Allah Taala dengan mati syahid.

Para sahabat menyebutkan satu persatu sahabat mereka yang gugur. Gema takbir pun menimpali setiap kali nama mereka disebutkan. Hingga akhirnya tidak ada lagi nama yang mereka sebutkan. Rasulullah saw. pun berkata, “Tapi aku tidak melihat Julaibib. Apakah dia juga gugur?”

Ternyata sahabat ini memang takdir hidupnya tidak mulia di mata sesama manusia. Hingga saat gugur sebagai pahlawan dalam medan perang pun namanya tidak tersebutkan. Rasulullah saw. bersama para sahabat pun mencari Julaibib. Hingga didapati memang telah menjemput ajalnya dalam kondisi mulia itu.

Rasulullah saw. kemudian mengangkat jenazah sahabat terkasihnya itu dengan wajah sedih. Para sahabat lain bukan hanya sedih, mereka juga kaget melihat Rasulullah saw. sendiri yang mengangkat jenazahnya. Jarang ada sahabat mendapatkan kemuliaan seperti ini.

Saat selesai menggali lubang kuburan pun Rasulullah saw. sendiri yang memasukkannya ke liang lahat. Kulit Julaibib bersentuhan langsung dengan kulit mulia Rasulullah saw. Para sahabat menangis semuanya. Mereka sungguh iri dengan Julaibib. Orang yang selama ini diremehkan ternyata saat ini kondisinya diimpikan oleh semua orang.

Benar kata Rasulullah saw., “Maukah kusampaikan kepada kalian tentang penghuni surga?” Para sahabat menjawab. “Tentu.” Beliau bersabda, “Orang-orang yang lemah dan diremehkan. Andaikan orang ini bersumpah atas nama Allah (berdoa), pasti Allah kabulkan.” [Bukhari, Muslim].

Ternyata ada penilaian langit yang sering berbeda dengan penilaian bumi. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.