BINGKAI

Di Ragunan, Kita dan Binatang Disamakan

mukjizat.co – Di akhir masa liburan sekolah, saya menyempatkan diri mengajak istri dan anak-anak menyegarkan diri dengan jalan-jalan ke kebun binatang di Ragunan.

Hari sudah cukup siang saat kami berhasil meninggalkan rumah kami di pinggiran luar Jakarta bagian selatan. Ragunan pun sudah cukup ramai dengan pengunjung dan pedagang. Banyak hal baru yang kami lihat karena memang lama tak berkunjung ke sana.

Lumayan kepingin juga untuk memulai perjalanan dengan makan jajanan yang ditawarkan di pinggiran jalanan kebun binatang. Karena memang paginya tidak sarapan optimal, dan matahari pun sudah hampir menunjukkan tibanya makan siang.

Tapi Si Kecil tidak sabaran untuk bertemu dengan binatang kesayangannya. Dia tidak mau acara makan diawalkan. Semua luluh untuk mengikuti kemauan Si Kecil. Sepanjang jalan mengikuti langkah semangat Si Kecil, pandangan mata tak bisa lepas dari makanan yang tertata apik di sepinggiran jalan.

Ada hal yang cukup menarik perhatian, dan membuat saya bertanya-tanya, kenapa banyak sekali orang berjualan pecel sayur? Apa enaknya makan pecel saat jalan-jalan di kebun binatang?

Tapi pikiran itu berhenti hanya dalam lamunan saya yang memang sedang lapar. Hal yang sama ternyata dialamani istri. Dia juga bertanya-tanya tentang hal itu. Bedanya, dia mendapatkan jawaban, sementara saya tidak.

“Abi tahu kenapa banyak orang berjualan pecel sayur? Menurutku, sayuran itu nantinya akan jadi makanan binatang kalau memang tidak habis dijual,” demikian jelas istri bersemangat seakan berhasil memecahkan sebuah teka-teki besar.

Penjelasan istri barusan lewat begitu saja, karena sibuk dengan anak-anak yang mulai berpencar mencari kandang tempat binatang yang menarik menurut mereka.

Jam menunjukkan hari sudah cukup siang untuk tidak segera melaksanakan shalat zhuhur. Kami pun segera melaksanakan shalat begitu melihat saung mushalla.

Seusai shalat, anak-anak tidak kuasa lagi untuk menolak ajakan makan siang. Kami pun berjalan memilih-milih jejeran penjual pecel sayuran. Ternyata sayuran bersambal kacang itu tak senikmat dalam pandangan. Itulah nafsu.

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makanan dan minuman. Kepada-Nyalah kami akan dibangkitkan dan dikumpulkan,” santap makan pun selesai.

Jalan-jalan berikutnya adalah untuk menghabiskan kandang-kandang yang tersisa. Dengan sisa-sisa tenaga juga. Kaki seakan tidak lagi melangkah, tapi diseret pelan-pelan.

Sambil terseok dan diprotes Si Kecil yang masih bersemangat itu, sesekali saya melihat kandang-kandang binatang seperti reptil misalnya, ternyata ada tumpukan makanan yang tidak asing di mataku hari itu.

Ternyata tumpukan makanan itu adalah sayuran yang komposisinya sama persis dengan pecel sayur yang baru saja kami santap selepas shalat Zhuhur tadi.

“Ternyata di Ragunan, kita manusia disamakan persis dengan binatang penghuninya. Memakan makanan dengan komposisi dan macam sayuran yang sama. Seperti itulah orang jika hanya memikirkan makan dan dunianya,” bisikku kepada istri.

Saat itu juga saya teringat dengan firman Allah Taala, “(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” [An-Nazi’at: 33]. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.