SYARIAH

Umat Islam Tertinggal, Bolehkah Meniru Bangsa Lain?

mukjizat.co – Bolehkah meniru bangsa lain dalam hal yang baik dan bermaslahat? Tidak sebuah kaidah dalam Islam yang mengatur hal ini. Tapi apakah dalam praktiknya umat Islam terdahulu telah melakukannya?

Ternyata Rasulullah saw., Khulafa’ur Rasyidin, para sahabat, dan umat Islam zaman berikutnya tercatat melakukannya. Mereka kadang meniru bangsa lain yang lebih maju dari mereka, dalam hal-hal kebaikan dan mengandung maslahat untuk umat Islam.

Bahkan kalau teliti, kita dapati Al-Quran mengajari kita untuk mengambil pelajaran dan kebaikan bahkan dari bukan manusia. Nabi Sulaiman as. misalnya, mengambil kebaikan dari burung Hudhud, dan ternyata membawa kemenangan yang sangat besar untuk umat Islam saat itu.

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.

Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” [An-Naml: 20-22].

Ujung kisah ini menyebutkan, Ratu Bilqis pun menyatakan keimanannya, dan tunduk kepada Nabi dan Raja Sulaiman as.

“Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” [An-Naml: 44].

Dalam kisah lain, disebutkan salah seorang anak Nabi Adam as. juga belajar dari burung gagak. Bahkan dia mencela dirinya yang tidak mengetahui seperti yang diketahui oleh burung hitam tersebut.

“Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” [Al-Maidah: 30-31].

Al-Quran mengajari kita untuk belajar kepada burung Hudhud dan gagak. Kira-kira kita boleh belajar kepada sesama manusia, jika dia berbeda keyakinan dengan kita? Padahal di luar nikmat keimanan, setiap manusia mendapatkan anugerah besar berupa kemampuan akal, pengalaman, penelitian, dan sebagainya, yang telah menjadikan sebuah bangsa maju.

Sirah Nabawiyah menuturkan kepada kita, bagaimana umat Islam yang belum seberapa besar negaranya dikepung kekuatan gabungan beberapa suku, sehingga sering disebut dengan Perang Ahzab (Sekutu). Strategi perang yang dipilih saat itu adalah dengan membentengi Madinah dengan parit. Sehingga perang ini juga dikenal dengan Perang Khandaq (Parit).

Ternyata strategi perang ini tidak dikenal oleh bangsa Arab, karena berasal dari Persia. Salam Al-Farisi (Orang Faris, Persia) lah yang melontarkan ide itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. menerima usulan tersebut, sehingga perang berakhir dengan selamatnya kota Madinah dan misi penghancuran orang-orang Musyrikin dan Munafikin.

Sirah tidak menyebutkan sama sekali bahwa Rasulullah saw. mengomentari ide itu, “Untuk apa kita meniru Persia? Untuk apa kita mengikuti orang-orang Majusi yang syirik kepada Allah itu?”

Dulu tidak ada azan sebagai penanda masuknya waktu shalat. Rasulullah saw. pun berkumpul dengan para sahabat untuk menentukan bagaimana mengumumkan telah masuknya waktu shalat.

Banyak ide bermunculan. Ada sahabat yang mengusulkan terompet, seperti yang dilakukan Yahudi. Ada sahabat yang mengusulkan lonceng, seperti Nasrani. Rapat tetap bersuasana teduh. Rasulullah saw. sama sekali tidak memarahi para sahabat yang mengusulkan ide-ide meniru umat lain itu. Hingga akhirnya munculkan ide azan yang berasal dari mimpi.

Mimbar yang digunakan di masjid-masjid kita juga awalnya adalah ide Tamim Ad-Dari saat Rasulullah saw. terlihat membutuhkannya untuk menyampaikan khutbah. Ad-Dari mendapatkan ide tersebut setelah berkunjung ke negeri-negeri Syam. Siapakah yang berada di negeri-negeri itu? Mereka adalah orang-orang Romawi beragama Nasrani.

Dalam melaksanakan politik luar negerinya, Rasulullah saw. menggunakan media surat. Namun ada seorang sahabat mengatakan, “Mereka tidak akan mau menerima surat yang tidak dibubuhkan stempel.” Maka Rasulullah saw. pun membuat sebuah stempel yang bertuliskan “Muhammad Utusan Allah”.

Kisah-kisah sejarah ini tidak ingin menunjukkan bahwa hal-hal tersebut dibolehkan. Tapi ingin memberitahukan bahwa meniru dan mengikuti sisi kebaikan bangsa lain, walupun berbeda akidah adalah hal yang dibolehkan. Asal tidak bertentangan yang aturan dalam Islam. Semoga bermanfaat. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda