SOSIAL

Kisah: Saat Penguasa dan Ulama Harmonis

Ulama dan Pemimpin politik
Ilustrasi (youm7.com)

mukjizat.co – Idealnya, hubungan antara ulama dan pemimpin politik adalah saling membantu. Karena peran dan posisi keduanya memang saling membutuhkan.

Harun Ar-Rasyid dan Imam Malik

Imam Malik pernah mendatangi Harun Ar-Rasyid untuk memberikan motivasi agar khalifah memprioritaskan program yang pro-rakyat. “Kurang apa lagi kemuliaan dan senioritas Umar bin Khattab ra? Tapi beliau masih mau datang kepada rakyat kecil, menyalakan api di dapur dan meniup-niupnya sehingga asap keluar dari sela-sela jenggotnya,” demikian kata Imam Malik.

Kali yang lain, Imam Malik datang saat Harun Ar-Rasyid duduk tepekur di depan catur. Imam Malik datang tapi tidak mau duduk. Beliau bertanya, “Apakah yang kau lakukan ini benar, wahai pemimpin umat Islam?” Harun Ar-Rasyid menjawab, “Tidak.” Imam Malik menambahkan, “Kalau tidak benar, berarti salah.” “Kalau begitu, tidak ada lagi catur ditata di depanku selamanya,” demikian kata Harun Ar-Rasyid.”

Muawiyah dan Abu Muslim Al-Khaulani

Abu Muslim Al-Khaulani pernah mendatangi Muawiyah. Saat bertemu, Al-Khaulani mengatakan, “Assalaamu’alaikum, pekerja.” Orang-orang di sekitar pun berusaha meluruskan bahwa Muawiyah adalah pemimpin, bukan pekerja. Namun Al-Khaulani tetap menyebutnya pekerja.

Hingga akhirnya Muawiyah berkata, “Biarkan saja. Al-Khaulani lebih tahu apa yang dikatakannya.” Benar, Al-Khaulani segera menjelaskan maksud kata-katanya, “Orang sepertimu tak lain seperti orang yang dipekerjakan untuk menggembala kawanan kambing.

Kalau dia benar dalam mengurus kambingnya, maka akan mendapatkan upah. Tapi kalau tidak beres dalam mengurusnya, maka bukan upah yang didapat tapi hukuman.”

Muawiyah pun mengatakan, “Semuanya terjadi atas kehendak Allah Taala.”

Beginilah Seharusnya Penguasa Memperlakukan Ulama
Beberapa Kisah Ulama dan Penguasa yang Berakhir Tragis
Beginilah Seharusnya Sikap Ulama kepada Penguasa

Quthuz dan Al-Izz bin Abdis Salam

Suatu ketika Saifuddin Quthuz berencana memungut dana dari rakyat untuk biaya perang melawan Tartar. Rencana ini kemudian diperdengarkan kepada para ulama, termasuk di dalamnya Imam Al-Izz bin Abdis Salam.

Imam Al-Izz bin Abdis Salam mengatakan, “Ketika musuh datang, maka kewajiban semua rakyat untuk memeranginya. Pemerintah juga diperbolehkan memungut dana dari rakyat untuk keperluan tersebut.

Tapi dengan syarat sudah tidak ada dana lagi di kas negara, semua aset pejabat sudah dijual, dan hanya tersisa senjata dan kuda perangnya. Para pejabat sudah sama kondisinya dengan rakyat biasa. Adapun bila kondisinya belum seperti itu, memungut dana perang dari rakyat tidak diperbolehkan.” Quthuz pun menuruti pendapat Imam Al-Izz bin Abdis Salam.

Syu’aib bin Harb dan Harun Ar-Rasyid

Syu’aib bin Harb bercerita, “Saat aku berjalan menuju Mekah, aku melihat rombongan Harun Ar-Rasyid. Aku berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang kumiliki untuk amar makruf nahi munkar.

Tapi ada bagian dalam hati yang memperingatkan bahwa Harun Ar-Rasyid adalah pemimpin yang sangat berkuasa. Kau bakal dibunuh jika membuatnya murka. Begitu kami berdekatan, aku berteriak, “Hai Harun. Kau sudah membuat rakyat menderita. Bahkan binatang pun ikut menderita.”

Aku pun dipanggil untuk datang bertemu dengan Harun Ar-Rasyid. Saat kumasuk, Harun Ar-Rasyid sedang duduk sambil memegang sebatang tongkat. “Kenapa kau memanggil dengan menyebut namaku?”

Aku pun menjawab, “Aku berdoa kepada Allah juga dengan menyebut Nama-Nya. Ya Allah, Ya Rahman. Allah juga menyebut makhluk yang paling dikasihnya dengan namanya, Muhammad. Sebaliknya, Allah menyebut musuh yang sangat dibencinya dengan menyebut kun-yahnya, Abu Lahab.”

Harun Ar-Rasyid tidak bisa berkata apa-apa. Dia langsung membolehkan Syu’aib bin Harb untuk pergi. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.