SOSIAL

Begini Seharusnya Penguasa Memperlakukan Ulama

mukjizat.co – Ulama adalah pewaris nabi, demikian sabda Rasulullah saw. Baik dan buruknya kondisi umat akan sangat tergantung pada bagaimana ulama menjalankan perannya dengan baik. Membimbing umat kepada jalan yang diridhai Allah Taala.

Namun ternyata peran itu tidak mudah dilaksanakan. Karena selain ulama, pihak yang juga sangat berpengaruh menentukan arah kehidupan umat adalah penguasa. Sangat ideal jika penguasa adalah seorang ulama. Kebijakan yang diterapkan kepada rakyatnya akan sesuai dengan arahan agama. Karena mereka mengetahui dan menyadari kewajiban mereka untuk melaksanakannya.

Akan berbeda kondisinya jika penguasa bukan seorang ulama, sehingga harus ada hubungan yang baik. Keduanya bekerja sama antara pemegang kekuasaan politik dan otoritas agama dalam mewujudkan kebaikan. Agama memerlukan kekuatan; politik memerlukan penerang dan pembimbing.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan penguasa ketika berhadapan dengan para ulama.

Konsultasi dan Taat kepada Ulama

Allah Taala berfirman, “dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” [Ali Imran: 159]. Ulama harus dilibatkan dalam urusan orang banyak. Hal ini juga yang dicontohkan Rasulullah saw. Sebagai pemimpin, beliau mengajak para sahabat untuk membicarakan hal-hal yang penting di antara mereka.

Dalam sebuah kunjungan Khalifah Al-Mahdi bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama yang sangat disegani saat itu. Al-Mahdi berkata, “Ya Sufyan, kenapa engkau tidak sering datang kepadaku sehingga aku bisa berkonsultasi dalam banyak hal. Apa yang kau perintahkan pasti kami laksanakan. Apa yang kau larang pasti kami hentikan.”

Sufyan pun bertanya, “Wahai Khalifah, berapa biaya kunjunganmu ini?” Al-Mahdi menjawab, “Aku tidak tahu. Sudah ada yang menguruskannya untukku.”

Sufyan lalu menasihati, “Lalu jawaban apa yang akan kau berikan jika kelak Allah Taala menanyakannya pada Hari Kiamat? Ketika mengetahui jumlah pengeluaran perjalanan haji Umar bin Khattab, beliau mengatakan, “Apakah kita sudah berlaku salah dalam harta umat Islam?”

Kisah yang lain terjadi antara Abu Hanifah dan Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur. Saat itu ada pemberontakan dari warga Mosul. Pada upaya penyelesaiannya, disepakati bahwa jika terjadi pemberontakan lagi, Khalifah Al-Mansur berhak untuk memberantas dan membunuhi para pemberontak.

Kemudian Al-Mansur berkumpul dengan para ulama, termasuk di dalamnya Imam Abu Hanifah. Al-Mansur memulai pembicaraannya, “Bukan sahih hadits yang menyatakan bahwa orang-orang yang beriman wajib menerima dan melaksanakan kesepakatan di antara mereka?

Ada kesepakatan antara aku dan warga Mosul, bahwa jika mereka memberontak maka darah mereka telah halal bagiku. Sekarang mereka melakukan perlawanan kepada gubernurku. Halalkah darah mereka sekarang?”

Salah seorang ulama menjawab, “Engkau berkuasa atas mereka. Titahmu didengar mereka. Jika engkau memaafkan, itu sangat baik. Jika engkau menghukum, mereka memang layak untuk dihukum.”

Seakan tidak puas dengan jawaban ini, Al-Mansur lalu menanyakan pendapat Imam Abu Hanifah. Jawaban beliau, “Telah terjadi kesepakatan, tapi kehalalan darah mereka bukan milik mereka. Engkau juga tidak berhak menghalalkan darah mereka, karena hanya ada 3 hal yang bisa menghalalkan darah seorang Muslim.” Al-Mansur pun setuju dengan pendapat Imam Abu Hanifah.

Memuliakan Ulama

Allah Taala berfirman, “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” [Az-Zumar: 9].

Rasulullah saw.  bersabda, “Tidak termasuk golongan kita orang yang tidak memuliakan yang tua, menyayangi yang muda, dan menunaikan hak para ulama.” [Ahmad].

Ketika ulama negeri Syam, Makhul sedang mengajar di majlisnya, datang Khalifah Yazid bin Abdul Malik dengan pakaian kebesarannya. Para murid ingin memberikan tempat yang lega untuknya, tapi Makhul berkata, “Biarkan saja dia duduk seperti kalian agar bisa belajar tawadhu’.”

Imam Malik juga mendapatkan penghormatan yang amat besar dari Khalifah Al-Mansur. Setiap kali bertemu, Al-Mansur selalu memanggil Imam Malik untuk duduk dekat dengannya. “Duduk dekat sini, Abu Abdullah. Engkau adalah orang yang harus diberi segala kebaikan dan penghormatan.”

Mencintai dan Tidak Memusuhi Ulama

Dalam sejarah Islam, banyak peristiwa terjadi antara penguasa dan ulama. Ada penguasa yang sangat mencintai ulama seperti Harun Ar-Rasyid, Umar bin Abdul Aziz dan lainnya. Ada juga penguasa yang memusuhi ulama, seperti Al-Hajjaj, Ja’far bin Sulaiman, dan Ash-Shalih Ismail.

Penguasa yang memusuhi ulama telah berbuat kesalahan besar. Mereka mengetahui bahwa mencintai Rasulullah saw. adalah sebuah kewajiban. Sementara ulama adalah para pewaris Rasulullah saw. Oleh karena itu mencintai mereka juga merupakan sebuah kewajiban.

Oleh karena itu, Ali bin Abi Talib ra. mengatakan, “Mencintai ulama adalah peirntah agama yang akan dipertanyakan pada Hari Akhirat nanti.”

Bahkan Rasulullah saw. memberikan ancaman kepada orang yang memusuhi ulama. “Sesungguhnya Allah Taala berfirman, “Orang yang memusuhi kekasih-Ku maka akan Aku perangi.” [Bukhari, Muslim].

Ulama yang shalih dan berjuang untuk kebaikan umat Islam adalah orang-orang yang sangat dekat, takut dan mencintai Allah Taala. Karena itulah, mereka adalah orang yang paling layak dicintai Allah Taala juga.

Banyak sekali kebaikan berpadu pada diri mereka. Iman, kesalihan, kerja keras untuk memperbaiki umat, dan juga ketakwaan. Sungguh mereka sangat berhak untuk dicintai oleh para penguasa. Memusuhi mereka hanya akan mendatangkan murka Allah Taala. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment