BAHASA

Salut, Seorang Badui Mempermalukan Ulama Tentang Bahasa Al-Quran

Keaslian bahasa Al-Quran pasti terjaga.

mukjizat.co – Al-Quran adalah wahyu dari Allah Taala. Karena karakteristiknya yang sangat hebat, di antara hikmah Allah Taala menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran, wahyu terakhir-Nya.

Karena Al-Quran dijamin Allah Taala dari kepunahan, bahasa Arab pun turut mendapat jaminan tersebut. Di antara fenomena proses terwujudnya jaminan tersebut adalah banyaknya cabang ilmu yang menjadikan bahasa Arab sebagai objek kajiannya.

Dulu, bahasa Arab tersimpan dengan aman dalam syair-syair yang menjadi dendangan para penyair dalam hajatan-hajatan sastra mereka. Dalam hal ini orang-orang Arab pedalaman, yang juga dikenal dengan badui, mempunyai peran yang cukup besar. Kehidupan mereka yang terisolir menjadi gudang penyimpanan bahasa sehingga tidak terpengaruh dengan bahasa lain.

Di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, ada seorang ulama bahasa dari Irak bernama, Al-Ashma’i. Beliau adalah ulama yang diandalkan khalifah dalam diskusi-diskusi ilmiah di istana. Sering pendapat Al-Ashma’i dijadikan sebagai pendapat penentu untuk mengakhiri perdebatan.

Suatu kali, Al-Ashma’i mengajar bahasa Arab di majlisnya. Dalam penyampaian selalu ada ayat Al-Quran, hadits, dan bait-bait syair untuk menguatkan keabsahan kaidah dan pendapatnya.

Sampailah Al-Ashma’i membacakan sebuah ayat. Al-Ashma’i membaca:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُواْ أَيْدِيَهُمَا جَزَاء بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Pengampun dan Penyayang.”

Mendengar bacaan itu, seseorang yang tampak seperti seorang badui berdiri dan mengatakan, “Ya Al-Ashma’i, apa yang baru saja kau baca itu?”

“Firman Allah,” jawab Al-Ashma’i. Orang badui itu pun kembali memprotes, “Tidak mungkin ini firman Allah.”

Al-Ashma’i terlihat kebingungan dengan sikap orang badui ini. “Hati-hati bicaranya, Pak. Ini adalah benar-benar firman Allah,” demikian Al-Ashma’i menasihati.

Orang badui masih saja berbicara, “Tidak mungkin Allah berfirman seperti itu. Bacaan tadi tidak mungkin dari Al-Quran.”

“Apakah kamu hafal Al-Quran sehingga bicara seperti ini?” tanya Al-Ashma’i.

“Tidak, aku tidak hafal Al-Quran,” jawab orang badui itu.

“Makanya aku beritahu bahwa yang aku baca tadi adalah sebuah ayat dalam Surat Al-Maidah,” Al-Ashma’i menerangkan.

Orang-orang pun mulai gelisah. Mereka kesal dengan sikap orang badui yang terkesan tidak sopan karena mengritik seorang ulama besar. “Sabar, sabar. Kita lihat ke mushaf Al-Quran saja, kalau begitu,” usul Al-Ashma’i.

Ketika membuka Surat Al-Maidah ayat 38, ternyata bacaannya adalah:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Maidah: 38].

Al-Ashma’i pun menyadari kesalahannya. Ternyata ayat itu diakhiri dengan kata “azizun hakim” bukan “ghafurun rahim”. Dia pun kagum dengan kehebatan dan ketelitian seorang badui yang tidak hafal Al-Quran.

“Bagaimana bisa engkau mengetahui bahwa bacaanku salah, padahal engkau tidak hafal Al-Quran?” tanya Al-Ashma’i.

Orang badui itu pun menerangkan, “Kalimat perintah (potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah) ini disebutkan dengan nada yang menunjukkan keperkasaan dan kebijksanaan. Bukan pengampunan dan kasih sayang.”

Al-Ashma’i pun mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar bodoh.” Demikianlah keaslian Al-Quran. Setiap bagian di dalamnya menunjukkan bahwa itu ada firman Allah Taala yang tidak mungkin mengalami kesalahan. Jika berasal dari manusia, sebuah kitab akan penuh dengan kesalahan. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda