TADABUR

Tadabur Surat Al-Kahfi (5): Kenapa Dunia Begitu Indah Menggoda?

Pahala di balik godaan dunia.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” [Al-Kahfi: 7-8].

mukjizat.co – Dunia penuh dengan pernik-pernik. Tapi untuk menjelaskannya bisa diringkas menjadi satu kata yang sangat mewakili. Ujian. Ya, ujian adalah kata yang sangat mewakili kehidupan panjang kita di dunia.

Ujian adalah sebuah sunnatullah. Aturan Allah Taala yang membuat rentetan kehidupan ini sangat serasi.

Kita di dunia diuji dengan dihadapkan kepada dua pilihan saja; hal yang membuat Allah Taala ridha, atau membuat-Nya murka.

Hal spesifik yang diuji dalam diri kita adalah syahwat. Syahwat sendiri merupakan piranti dalam sistem diri manusia yang Allah Taala install agar manusia mau dan bisa mempertahankan hidupnya. Hidupnya yang enak, hidupnya yang panjang, dan hidupnya yang berkualitas.

Materi yang diujikan kepada syahwat kita seperti Allah Taala firmankan:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [Ali Imran: 14].

Sistem diri kita telah dioperasikan untuk suka lawan jenis, harta, anak, kekuatan, dan sebagainya.

Karena sudah sistem, maka Allah Taala tidak memerintahkan kita untuk mencabutnya dari diri kita. Bahkan Allah Taala menyediakan apa yang digantrungi syahwat itu. Asalkan caranya sesuai dengan yang digariskan.

Kalau kita menuruti hal ini, maka kita lulus. Selamat dan bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sungguh Maha Baiknya Allah Taala; menjadikan jalan ke surga berupa hal-hal yang mengenakkan. Kita hanya diminta untuk menaati batasan, dan mensyukurinya sebagai nikmat dari Allah Taala.

Karena manusia hidup di atas bumi, maka sudah otomatis Allah Taala jadikan bumi ini penuh hiasan. Penuh ujian terhadap syahwat kita. Hidup kita pun dikelilingi ujian itu. Tidak ada celah untuk keluar ke zona tanpa ujian.

Karena ujian-ujian itu diadakan agar kita terhubung dengan Allah Taala. Kita taat, takut, berharap, hanya kepada Allah Taala. Perasaan-perasaan dalam hati kita terhubung dengan Asmaa’ dan Sifat Allah Taala.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” [An-Nazi’at: 40-41].

Namun dengan ujian juga kita bisa jatuh terhinakan. Kita bisa berkubang dalam syahwat yang kotor, terputus dari Allah Taala.

Itulah penjelasan bahwa beriman itu berat. Karena semua orang beriman pasti akan diuji Allah Taala. Dengan isi dunia itu.

Dunia benar-benar menggoda. Karenanya Rasulullah saw. memberikan tuntunan kepada kita:

“Tinggalkanlah dunia untuk para pencintanya. Karena orang yang mengambil dunia lebih dari keperluannya, yang diambilnya akan menjadi sebab kebinasaannya tanpa disadari.” [Ad-Dailami, hadits hasan].

Suatu kali Rasulullah saw. berjalan bersama para sahabat. Terlihatlah seonggok bangkai kambing yang dibuang pemiliknya. Rasulullah saw. mengatakan, “Demi Allah, Dzat yang memegang nyawaku, sungguh bagi Allah dunia lebih hina daripada bangkai ini bagi pemiliknya.” [Ahmad].

Dunia sungguh menggoda. Wanitanya pun sangat menawan hati. Kita boleh memilikinya, tapi ingat nasihat Rasul kita:

“Jauhilah wanita Khadhra’u Diman.” Para sahabat bertanya, “Apa itu Khadhra’ud Diman?” Rasulullah menjelaskan, “Wanita cantik yang tumbuh di lingkungan yang buruk.” [Al-Qudha’i].

Nabi Yusuf as. adalah profil kesuksesan dalam ujian dunia. Beliau diuji dengan syahwat wanita yang sangat berat. Masih muda, jauh dari keluarga, diharapkan oleh perempuan cantik berjabatan, berstatus sebagai pembantu yang harusnya hanya mengenal kata taat.

Tapi apa jawaban Yusuf as? “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” [Yusuf: 23].

Ternyata pahala untuk Yusuf as. muda tidak harus menunggu sampai akhirat. Yusuf as. malah menjadi pejabat, orang yang terkemuka, kata-katanya didengar, berpengaruh, dan sebagainya. Kira-kira apa yang akan dialami Yusuf as. jika menurut syahwatnya? (Sof1/mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.