Ketika Nabi Diuji Rabi Yahudi

0 komentar 80 kali dilihat

mukjizat.co – Seorang rabi Yahudi bernama Zaid bin Sa’anah sedang mencari kebenaran. Semua tanda kenabian sudah di wajah Rasulullah saw. sudah dilihat dan diyakininya. Hanya ada dua tanda yang sampai saat ini belum dipastikan. Pertama, kebijaksanaannya lebih besar daripada kemarahannya. Kedua, semakin diperlakukan buruk akan semakin bijaksana. Zaid pun bercerita:

Suatu hari aku berada di suatu tempat. Kulihat Rasulullah didatangi oleh seseorang yang menunggang kendaraannya. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, sukuku yang berada di kampung telah kau janjikan mendapat rezeki yang melimpah saat kau ajak mereka masuk islam. Saat ini, setelah masuk islam, mereka tertimpa paceklik.

Aku khawatir mereka akan meninggalkan islam karena tertarik harta dunia, sama saat mereka masuk islam juga karena janji rezeki. Bagaimana jika engkau mengirimkan bantuan kepada mereka. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Maka Rasulullah menoleh ke Ali bin Abi Talib, bertanya, “Apakah kita mempunyai sesuatu untuk mereka?”

Ali ra. pun menoleh ke Rasulullah saw. dan menjawab, “Demi Allah, kita tidak punya sesuatu untuk membantu mereka.”

Maka aku segera mendekat ke Muhammad. Kukatakan, “Ya Muhammad, maukah engkau memakai uangku dulu, dan nanti kau membayarnya dengan hasil panen kebun kurma bani anu bin anu (menyebutkan nama sebuah suku), pada waktu yang kita sepakati?”

Rasulullah saw. menjawab, “Boleh, tapi aku tidak akan membayarnya dengan hasil panen kebun itu secara keseluruhan. Aku akan mengembalikannya sejumlah uang yang kau pinjamkan.”

Maka aku berikan kepadanya sejumlah uang emas. Begitu diterima, Rasulullah saw. langsung memberikan semuanya kepada orang itu untuk disampaikan kepada suku yang sedang kesusahan, berikan uang ini kepada sukumu. Seperti diketahui semua orang, Rasulullah saw. senang memberi seperti orang yang tidak takut miskin. Laki laki itu pun pergi membawa uang Rasulullah saw.

Sebelum jatuh tempo yang disepakati, aku melihat Rasulullah saw. sedang bersama beberapa orang sahabatnya. Aku datangi beliau. Tanpa basa basi aku tarik bajunya dan kukatakan, “Muhammad, bayar hutangmu. Jadi benar yang kudengar selama ini, keluarga besarmu di Mekah suka menunda-nunda dalam membayar hutang.”

Melihat Rasulullah saw diperlakukan kasar seperti itu, Umar bin Khattab ra., yang saat itu ada di tempat itu, pun langsung mendatangiku dan menghardik,  “Hai musuh Allah, kamu berkata keras seperti itu kepada Rasulullah? Kamu berlaku kasar seperti itu kepada Rasulullah? Demi Allah, seandainya saja aku tidak takut dimarahi Rasulullah tentu aku sudah memenggal lehermu dengan pedangku ini.”

Walaupun diancam seperti itu, aku malah melihati Rasulullah, menunggu apa yang akan dikatakannya. Rasulullah saw. menoleh ke Umar ra. dan mengatakan, “Jangan seperti itu, Umar. Seharusnya kau menasihatiku agar baik dalam membayar hutang, dan menasihatinya agar baik dalam meminta pembayaran hutang.”

Lalu Rasulullah saw. berkata kepada Umar ra., “Ambil dan berikan haknya. Lalu tambah 20 shaa’ sebagai ganti rugi setelah kau takut-takuti tadi.”

Umar ra. pun menuruti perintah Rasulullah saw. Aku pun bertanya kepada Umar, “Ini tambahan apa?” Umar ta. menjawab, “Rasulullah memerintahku menambah hakmu karena tadi aku menakut-nakuti kamu.”

Aku kembali bertanya, “Kamu tahu siapa aku? Aku zaid bin Sa’anah.” Umar ra. kaget, “Rabi Yahudi? Kenapa kau lakukan itu kepada “Rasulullah?”

Akhirnya aku jelaskan maksud dan tujuan perbuatannya itu. Saat ini aku sudah yakin dengan kenabian beliau. Aku sudah ridha Allah tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku. Maka aku pergi bersama Umar ra. ke masjid untuk mengikrarkan syahadat di depan Rasulullah saw.

Hari hari berikutnya membuktikan bahwa keislaman Zaid itu benar-benar tulus. Semua peperangan bersama Rasulullah diikutinya. Dirinya mendapatkan kesyahidan dalam perang Tabuk. Posisinya sedang maju menyerang, bukan sedang mundur melarikan diri. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda