TUNTUNAN

Bagaimana Agar Dekat dengan Rasulullah? Ternyata Cara Paling Mantap Bukan dengan Pergi ke Madinah

Dekat dengan Rasulullah saw. bagaimana caranya?

mukjizat.co – Semua kita mencintai Rasulullah saw., menyatakan sebagai pengikut beliau, dan ingin mendapatkan cinta dan syafaat. Kalau kita melaksanakan ibadah umrah, berada di Madinah adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Karena bisa membayangkan kehidupan masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Kita bisa membayangkan nilai-nilai langit dibumikan di tempat itu.

Suasana ruhani yang sangat tinggi pun tiba-tiba bisa kita rasakan sesaat berada di Raudhah. Sebuah tempat yang paling istimewa di Masjid Nabawi. Itulah tempat yang benar-benar dibangun dan digunakan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Rasulullah saw. menyebutnya sebagai taman surga. Para peziarah berbondong dan berebut untuk berada di tempat itu. Walaupun sekadar untuk memanjatkan doa dan mendirikan shalat, karena keterbatasan kesempatan yang diberikan.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya, Fiqh Sirah, menyebutkan, seandainya Rasulullah saw. dibangkitkan dan melihat orang berbondong-bondong ke Raudhah, pasti akan merasa tidak senang dan memarahi mereka. “Benarkah kalian mencintaiku dan berusaha untuk dekat denganku? Kenapa penampilan kalian tidak menarik? Kenapa pemahaman agama kalian sedikit? Kenapa kalian hampir-hampir tidak memiliki kekuatan dunia apapun? Kenapa umur dan waktu tersia-siakan? Kenapa kalian lebih senang dengan kesibukan yang melalaikan? Sungguh tali yang menghubungkan kalian denganku lebih getas dari benang laba-laba.”

Banyak orang yang lebih dekat dengan Rasulullah saw. walaupun mereka tidak berada di Madinah. Karena kedekatan dengan Rasulullah saw. itu tidak dengan fisik kita dan fisik Rasulullah saw. Kita akan dikatakan dekat jika akal dan ruh kita terhubung dengan Rasulullah saw. Akal kita memahami betul warisan ajaran Islam yang diberikan kepada umatnya. Ruh kita merasakan betul tanggung jawab melanjutkan dakwah dan perjuangan beliau menuntun seluruh umat manusia kepada Allah Taala.

Ada perbedaan yang sangat kentara antara Nabi Muhammad saw. dan nabi-nabi sebelum beliau. Sepanjang sejarah, nabi yang diutus Allah Taala mencapai jumlah 124.000 nabi. Adapun rasul mencapai 315 rasul. Setelah melaksanakan tugasnya memberi petunjuk kepada umatnya lalu dirasa akan segera meninggal dunia, seorang nabi/rasul pasti akan mewasiati umatnya untuk beriman dan mengikuti nabi yang akan diutus sepeninggal beliau. Seorang nabi meninggal akan digantikan nabi yang baru.

Sementara itu Rasulullah saw. adalah nabi terakhir. Tidak ada nabi baru sepeninggal beliau. Beliau tidak mewasiati umatnya untuk mengikuti nabi pelanjut dakwahnya.

Perbedaan ini diilustrasikan Syaikh Muhammad Al-Ghazali dengan kondisi seseorang yang berada di sebuah jalan panjang penuh bahaya, lalu membutuhkan bimbingan orang kuat dan mengetahui kondisi jalan. Ternyata penunjuk jalan itu ada dua macam. Ada penunjuk jalan yang langsung memegang tangan orang itu, lalu mengatakan, “Kamu aman bersamaku. Bahkan kamu berjalan sambil menutup mata pun akan selamat, karena bersama dan dekat denganku. Selagi aku selamat, kamu pasti juga akan selamat.”

Jika kita menggunakan model penunjuk jalan seperti ini, maka keberadaannya bersama kita adalah syarat utama agar kita selamat di jalan. Dibutuhkan jumlah penunjuk jalan yang sama dengan jumlah orang atau kelompok orang yang ingin selamat di jalan. Kita juga harus dekat dan tidak boleh berada jauh-jauh dari orang itu secara fisik.

Namun ternyata ada penunjuk jalan model lainnya. Orang itu tidak akan membersamai dan menemani kita terus. Dia hanya akan memastikan kita mendapatkan dan memahami peta jalan yang dibawanya. Penunjuk jalan ini sangat-sangat menekankan masing-masing kita memahami peta dengan benar-benar. Setelah itu, penunjuk jalan akan membersamai kita beberapa waktu untuk menunjukkan dan mempraktikkan peta itu. Lalu dia akan pergi, dan meminta kita berjalan sendiri dengan bermodalkan sebuah peta.

Seperti itulah perbedaan antara Rasulullah saw. dan nab-nabi sebelum beliau. Umat yang didakwahi nabi-nabi terdahulu boleh dibilang adalah umat yang belum dewasa, masih anak-anak, sehingga cocok bagi mereka penunjuk jalan yang harus selalu membersamai dan menuntun mereka. Sementara umat Islam, umat nabi terakhir, adalah umat yang telah dewasa. Dirasa aman untuk meninggalkan mereka menjalani kehidupan sendirian tanpa kehadiran seorang rasul. Asalkan mereka memahami dan taat terhadap petunjuk yang ada dalam peta hidup mereka. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda