KEJIWAAN

Bagaimana Al-Quran Menghilangkan Rasa Takut dan Sedih dalam Diri Kita?

Bagaimana Al-Quran menghilangkan rasa takut dan sedih dalam hati kita?

mukjizat.co – Bagaimana Al-Quran menghilangkan rasa takut dan sedih dalam diri kita? Para ahli Neuro-Linguistic Programming (NLP) menyebutkan bahwa hal paling penting dalam kepribadian yang kuat adalah perasaan tidak takut, atau yang disebut juga dengan kepercayaan diri. Lalu bagaimana cara mendapatkan rasa tidak takut ini? Mereka menambahkan, cara paling baik mendapatkan rasa tidak takut adalah dengan menghadapi apa yang ditakutinya itu. Dengan menghadapinya, dia akan mempunyai kekuatan untuk menghilangkan rasa takutnya itu. Namun tersisa masalah, yaitu kekuatan apa yang bisa digunakan untuk menghadapi apa yang ditakuti itu?

Para ahli NLP juga menerangkan, kepribadian yang kuat itu juga akan muncul ketika kita bisa tampil dengan rasa percaya diri yang tinggi, tidak menampakkan rasa sedih, galau, ataupun lemah. Dengan tampil seperti ini, orang yang melihat kita akan mempunyai kesan bahwa kita adalah orang yang mempunyai kepribadian yang kuat. Lagi-lagi para ahli itu menekankan bahwa kita harus menekan rasa sedih dan rasa takut agar mempunyai kepribadian yang kuat.

Lalu sebagai seorang Muslim yang menjadikan Al-Quran sebagai pedoman, kira-kira apa yang dituturkan Al-Quran dalam masalah ini? Allah Taala berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ *الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ *لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran (rasa takut) terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.  Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” [Yunus: 62-64].

Sedikit mengkaji sisi kebahasaan dalam ayat ini, akan membuat kita bertambah yakin dengan kesesuaian tuntunan Al-Quran dengan kondisi kejiwaan kita sebagai manusia. Misalnya perbedaan dalam membahasakan dua macam rasa; rasa takut dibahasakan dengan kata benda (khauf), sementara rasa sedih dibahasakan dengan kata kerja (yahzanun).

Rasa takut merupakan sebuah reaksi kejiwaan yang muncul secara otomatis tanpa kendali manusia. Semua manusia dan binatang mempunyai rasa takut ini. Karena itulah dibahasakan dengan kata benda. Sementara rasa sedih adalah sebuah tindakan perasaan yang berada di bawah kontrol manusia, sehingga dalam situasi yang sama ada orang yang merasa sedih, ada juga orang yang tidak merasa sedih. Karena itulah dibahasakan dengan kata kerja.

Urutan penyebutan dalam ayat di atas juga memberikan isyarat yang sangat penting. Rasa takut (khauf) disebutkan lebih dahulu daripada rasa sedih (yahzanun). Menunjukkan bahwa efek rasa takut akan lebih besar daripada rasa sedih.

Rasa takut berasal dari luar manusia, oleh karena itu disebutkan kata (‘alaihim/terhadap mereka), ada sesuatu dan situasi yang memberikan rasa takut di sekitaran manusia. Sementara rasa sedih berasal dari dalam jiwa pribadi manusia, sehingga ada kata (hum/mereka).

Dalam proses hadirnya rasa takut, Al-Quran mengisyaratkannya dengan susunan kata (laa khaufun) baru kemudian (‘alaihim). Menunjukkan bahwa rasa takut akan sangat cepat hadir, yaitu hanya se-per sekian detik. Atau bahwa rasa takut adalah sesuatu yang sangat mengejutkan. Sementara dalam rasa sedih, Al-Quran mengisyaratkannya dengan susunan kata (hum/mereka, manusia) baru kemudian (yahzanun). Hal itu karena manusialah yang memproses rasa sedih itu, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa berjam-jam, dan tidak mengejutkan.

Rasa takut itu terhadap hal yang akan terjadi (masa depan), sementara rasa sedih itu terhadap hal sedang atau sudah terjadi (masa lalu). Masa depan adalah sebuah rahasia, tidak seperti masa lalu yang sama-sama kita ketahui. Manusia lebih memikirkan masa depannya daripada masa lalunya. Oleh karena itu, Al-Quran lebih dulu menyebutkan rasa takut daripada rasa sedih, untuk memberikan ketenangan padanya dalam hal yang lebih mengganggu jiwa. Seperti itulah susunannya dalam setiap ayat dalam Al-Quran, jika kedua-duanya disebutkan sekaligus. Kata takut juga lebih banyak disebutkan dalam Al-Quran daripada sedih.

Sekarang kita bahas dalam kerangka keimanan. Seorang Mukmin yang telah melatih dirinya untuk takut kepada Allah Taala tidak akan takut kepada yang lain. Oleh karena itu, kalau kita ingin menghilangkan rasa takut dalam hati kita, caranya hanyalah dengan menghadirkan Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Kuatnya Allah Taala. Bandingkan hal itu dengan keagungan, kekuasaan, dan kekuatan orang yang sedang kau takuti. Sama sekali tidak sebanding, bahkan seluruh manusia di bumi pun. Keyakinan seperti inilah yang membuat seorang Mukmin lebih bisa dalam berhadap-hadapan dengan sesuatu yang menurut orang lain menakutkan.

Para ahli NLP juga menyebutkan bahwa ada sebuah cara yang sangat penting untuk dipraktikkan untuk mendapatkan kepribadian yang kuat. Yaitu dengan merenung, berfikir dalam dan rileks. Bisa dilakukan dnegan duduk rileks, dan memikirkan apa akibat dari rasa takut yang sedang dialaminya. Sebaliknya kita merenungkan apa hasil yang bisa dipetik ketika tidak merasa takut dan mempunyai kepribadian yang kuat. Hal demikian bisa membuat otak kita lebih terdorong untuk tidak merasa takut.

Inilah yang dilakukan Al-Quran, menyebutkan bahwa orang yang tidak dihinggapi rasa takut, mereka beriman dan merasa takut kepada Allah Taala (yattaqun). Kalau sudah demikian, maka hasilnya adalah kabar gembiri (lahum al-busyra). Oleh karena itu, kalau sehari-hari kita bisa mempunyai hubungan yang erat dengan Allah Taala (ibadah) maka kita akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa, berasal dari Allah Taala yang Maha Kuat. Itulah bagaimana Al-Quran menghilangkan rasa takut dan sedih dalam diri kita. (sof1/kaheel/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.