TUNTUNAN

Taat Lalu Lintas, Bukti Ketakwaan

Patuh aturan di jalan raya ternyata sangat diperintahkan dalam Islam.

www.mukjizat.co – Menjadi Mukmin yang salih ternyata tidak terbatas di masjid dan tempat-tempat pengajian. Kesalihan kita bahkan akan sangat diuji ketika kita berada di tempat seperti jalanan yang ramai misalnya. Makanya sangat penting mengetahui bagaimana kita bisa salih dalam berkendara karena taat lalu lintas adalah bukti ketakwaan.

Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan, “Bertakwalah kamu di mana saja berada. Berbuatlah baik setelah tergelincir dalam perbuatan buruk. Bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” [HR. Tirmidzi]. Bertakwa di jalanan termasuk di dalamnya, hal itu bisa dilakukan dengan cara menghormati adab-adab Islam dalam berkendara.

Bahkan kalau kita melaksanakan adab berkendara, kita akan mendapatkan keimanan yang bertambah kuat. Kita akan semakin bertakwa kepada Allah Taala. misalnya dengan menghayati doa berkendara (سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ) [Az-Zukhruf: 13-14]. Bahwa berkendara adalah salah satu tanda kekuasaan Allah swt. Hendaknya orang yang banyak berkendara semakin bertambah keimanannya. Keselamatan berkendara ada di tangan Allah swt.

Di jalanan hendaknya kita bersikap tawadhu. Allah Taala berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” [Al-Furqan: 63]. Tawadhu, sopan (ketika meminta jalan), terima kasih (ketika diberi jalan), sedang kecepatannya, tidak menyerobot jalan, dan tidak panas dan emosi ketika dizalimi pengguna jalan yang lain.

Sikap sombong juga harus dihindari di jalanan. Allah Taala berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al-Isra: 36]. Tidak merasa lebih berhak atas jalan, tidak merasa harus diutamakan, dan alangkah baiknya jika mendahulukan orang lain, terutama yang lebih lemah.

Rasulullah saw. bersabda,  “Pengendara memberi salam kepada pejalan kaki. Pejalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikir member salam kepada rombongan yang banyak. Orang muda member salam kepada orang tua.[HR. Bukhari, Muslim].

Perintah bertakwa berarti hendaknya menghadirkan rasa takut kepada Allah Taala. Takut meninggal di jalan. Rasulullah saw. mengajari kita doa, “Aku berlindung kepadamu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya keadaan baik dari-Mu, dan adzab yang mendadak, dan seluruh kemurkaan dari-Mu.” Meninggal di jalan raya adalah mati mendadak sehingga orang yang mengalaminya sangat mungkin tidak ada kesempatan bertobat, karena tidak ada peringatan dini seperti sakit.

Takut bermaksiat kepada Allah swt. Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah duduk-duduk di jalanan.” Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, tapi kami harus duduk-duduk di jalanan untuk membahas sesuatu.” Lalu Rasulullah saw. mengatakan, “Jika kalian memang keukeuh untuk melakukannya, maka berilah hak-hak jalanan.” Para sahabat pun bertanya, “Apa hak-hak jalanan?” Rasulullah saw. menjawab, “Menjaga pandangan, tidak mengganggu orang lain, menjawab salam, dan amar makruf nahi munkar.” [HR. Muslim].

Takut mengganggu orang lain. Cara kita menggunakan jalan jangan sampai mengganggu pengguna yang lain. Rasulullah saw. sangat menekankan agar kita memperhatikan cara kita menggunakan jalan. Misalnya dengan mengatakan bahwa orang akan masuk surga karena melancarkan jalan. Rasulullah saw. bersabda, “Aku melihat seseorang bolak-balik di surga, hanya karena memotong pohon di tengah jalan yang mengganggu orang lain.” [HR. Muslim].

Bahkan, Allah swt. menjanjikan ampunan untuk orang yang membersihkan jalan dari hal yang berbahaya. Rasulullah saw. bersabda, “Ketika seseorang berjalan, dan menemukan duri, kemudian menyingkirkannya, maka Allah berterima kasih kepadanya, dan mengampuninya.” [HR. Muslim].

Sebaliknya, ada ancaman siksaan bagi yang mengganggu perjalanan orang lain. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang mengganggu Muslim lain di jalanan, maka laknat orang itu akan dikabulkan.” [HR. Haitsami].  “Takutlah kepada dua macam laknat. Apa dua laknat tersebut? Laknat kepada orang yang buang air di jalan orang atau tempat berlindung orang.” [HR. Muslim].

Karena itulah Rasulullah saw. mengajari kita sebuah doa agar kita tidak mengganggu perjalanan orang lain, “Aku berlindung kepada-Mu dari sesat dan disesatkan, berbuat salah atau dipaksa berbuat salah, menzhalimi atau dizhalimi, atau berbuat jahat atau dijahati.” [HR. Empat Kitab Sunan].

Oleh karena itu, menaaati peraturan lalu lintas adalah wajib. Dalilnya adalah mashlahat mursalah. Fatwa-fatwa ulama menunjukkan hal serupa. Hal itu karena merupakan kewajiban pemerintah menyediakan semua hal yang memberikan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. Umar bin Khattab berkata, “Kalau ada seekor baghal tergelincir di Irak, maka Allah akan menanyakannya kepadaku, ‘Kenapa tidak engkau ratakan jalannya?’” Demikianlah salih dalam berkendara di jalan juga sangat penting, rupanya, karena taat lalu lintas adalah bukti ketakwaan. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.