TUNTUNAN

Hadiah Untuk Santri Indonesia

Santri adalah aset bangsa. Dari kecil sudah belajar berjuang dan berkorban.

mukjizat.co – Santri adalah aset segar bangsa ini. Jika dipelihara dan dirawat dengan baik, maka masa depan bangsa ini akan semakin cemerlang. Sejak kecil mereka sudah terlatih untuk berjuang dan berkorban, bisa dibayangkan bagaimana mereka saat besar dan memimpin bangsa ini. Jabatan akan benar-benar mereka jadikan sarana untuk memperjuangkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Karena itu, nasihat para kyai untuk santri sangat diperlukan.

Ikhlas. Belajar menuntut ilmu dengan penuh keikhlasan, tidak hanya ilmu yang didapatkan tapi juga pahala dan kedudukan mulia di sisi Allah Taala. Hari, pekan, bulan, dan bahkan tahun-tahun yang panjang dan penuh dengan pengorbanan semua akan diubah menjadi pahala dan kenikmatan surga. “Setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya.” [Bukhari].

Beramal. Belajar bukan hanya mencari tahu, tapi juga mengamalkan apa yang sudah diketahui. “Orang yang mengamalkan apa yang telah diketahuinya, maka Allah akan mengajarkan ilmu yang belum diketahuinya.” [Abu Nu’aim]. “Seseorang baru dikatakan ulama setelah mengamalkan ilmunya.” [Ibnu Hibban].

Iman dan takwa. Beribadah yang melahirkan ketakwaan akan sangat membantu santri mudah belajar. Seperti itulah yang dilakukan ulama terdahulu. “Jika ada orang hendak menuntut ilmu (hadits), sebelumnya dia mesti fokus beribadah 20 tahun lamanya.” [Syaikh Muhammad Awamah].

Jauhi maksiat. Ilmu adalah cahaya, tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat. Inilah pegangan Imam Syafi’i selama beliau menuntut ilmu hingga menjadi seorang imam.

Guru yang meneladankan ilmu dan amalnya. Harus ada guru yang akhlaknya mencerminkan ilmunya. Keyakinan guru akan mengalir menjadi keyakinan santri. “Sesungguhnya ilmu ini adalah agamamu, maka lihatlah dari siapa kau mengambilnya.” [Ibnu Sirin]. Duduk yang lama bersamanya akan lebih bernilai daripada duduk lama dengan buku.

Siap berletih-letih. Ulama mendapatkan ilmunya dengan perjuangan yang sulit. “Ilmu tidak akan diraih dengan badan yang tidak letih.” [Abi Katsir]. “Ilmu ini tidak bisa diraih dengan kekuasaan dan gengsi. Orang yang memperjuangkannya dengan perasaan rendah hati, siap hidup pas-pasan, dan berbakti kepada ulama, pasti akan meraihnya.” [Imam Syafi’i].

Sabar dengan waktu yang lama. Ada santri yang ingin mendapatkan ilmu dengan instan. Bisakah? “Saudaraku, ilmu tidak akan bisa diraih tanpa enam hal. Kecerdasan, keseriusan, usaha yang sungguh-sungguh, biaya yang mencukupi, berdekatan dengan guru, dan waktu belajar yang panjang.” [Imam Juwaini].

Rendah hati kepada ulama. Jangan pernah merasa sudah menyamai atau menandingi ilmu mereka, apalagi ulama terdahulu. “Kami belajar ilmu hadits, mengkritik para ulama periwayat hadits. Padahal mungkin mereka sudah memarkir kendaraan mereka di surga 200 tahun yang lalu.” [Yahya bin Ma’in].

Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’i. Kadang terjadi perbedaan di antara keduanya. Tapi mereka tetap saling menghormati, bahkan saling mengunjungi.

“Belajarlah adab sebelum belajar ilmu.” [Imam Malik].

Selamanya menjadi santri. Jangan pernah merasa telah sampai tujuan. “Seseorang masih dikatakan berilmu selama dia masih belajar. Jika dia telah meninggalkan ilmu dan merasa cukup sejatinya dialah orang terbodoh. [Said bin Jubair].

Percaya diri. “Hanyalah para ulama pewaris nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka orang yang mengambilnya telah mengambil bagian yang sangat besar.” [HR. Abu Daud].

Akui ketidaktahuan. “Orang yang mengetahui hendaknya memberitahu. Orang yang tidak mengetahui hendaknya mengatakan tidak tahu. Mengatakan tidak tahu dalam hal yang tidak diketahuinya adalah sebuah ilmu.” [Ibnu Mas’ud].

“Malaikat saja tidak malu mengakui ketidaktahuan mereka saat mengatakan, ‘Maha Suci Allah, yang kami tahu hanyalah yang Engkau ajarkan kepada kami.” [Imam Sya’bi].

Jangan tinggalkan ilmu generasi awal. “Setiap berganti masa, maka pastilah masa yang baru lebih sedikit ilmunya dari masa yang sebelumnya.” [Ibnu Mas’ud]. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda