Kisah Imam Syafi’i Mengajari Putra Khalifah

0 komentar 201 kali dilihat

mukjizat.co – Imam Syafi’i adalah seorang tabi’in yang sangat cerdas. Hampir seluruh umat Islam di Indonesia mengenal nama beliau, karena mazhab fikih beliau menjadi pilihan amalan mereka. Kisah berikut adalah saat beliau berada di Irak, kisah Imam Syafi’i mengajari putra khalifah.

Dalam perjalanan ilmiahnya, Imam Syafi’i berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Mulai dari Gaza, Mekah, Madinah, Yaman, Irak, hingga Mesir. Saat berada di Irak, namanya sangat terkenal. Hingga Sang Khalifah, Harun As-Rasyid pun penasaran untuk bertemu dengannya.

Khalifah Harun Ar-Rasyid adalah murid Imam Malik, sama seperti Imam Syafi’i. Oleh karena itu, beliau sangat ingin anaknya menimba ilmu kepada beliau agar mendapatkan keberkahan ilmu seperti didapatkannya. Oleh karena itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirimnya kepada Imam Syafi’i.

Begitu sampai di kediaman Imam Syafi’i, ternyata pelajaran yang diterima anaknya sungguh sangat aneh. Saat masuk, putra khalifah mengucapkan salam, Imam Syafi’i pun menjawabnya. Setelah itu, pelajaran pun dimulai, tapi dengan cara yang sangat aneh. Imam Syafi’i menampar putra khalifah itu.

Putra khalifah pun terkaget-kaget, “Kenapa kau tampar aku, Imam?” Imam Syafi’i malah menjawan, “Pelajaran pertama sudah selesai. Kau boleh pulang ke istana.”

Saat bertemu dengan ayahnya, khalifah, diceritakannya peristiwa yang baru saja terjadi itu. Khalifah Harun Ar-Rasyid berkomentar, “Aku tidak percaya. Tidak mungkin Imam Syafi’i melakukan hal itu kalau bukan kau yang salah. Kamu pasti melakukan sesuatu yang membuatnya marah.”

Sang putra pun meyakinkan ayahnya bahwa dirinya tidak melakukan apa-apa, “Bahkan aku belum berkata apa-apa. Tiba-tiba beliau menamparku.”

Khalifah bertanya lagi, “Atau mungkin beliau bertanya sesuatu tapi kau malah diam saja.” Sang putra menjawab, “Imam hanya menanyakan satu pertanyaan saja. Menanyakan apakah aku benar-benar putra khalifah, lalu tiba-tiba beliau menamparku.”

Setelah itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid pun mengatakan, “Kalau begitu, hal ini tidak bisa didiamkan.” Sang putra pun mengusulkan, “Bagaimana kalau Ayah panggil beliau saja ke istana?”

Khalifah Harun Ar-Rasyid menjawab, “Tidak mungkin aku panggil beliau ke sini. Imam Malik mengajariku bagaimana seharusnya aku memuliakan para ulama. Kalau beliau memukulmu, pasti ada alasan yang tidak kita ketahui.”

Maka Khalifah Harun Ar-Rasyid pun bergegas pergi ke kediaman Imam Syafi’i. “Tahukah engkau, Imam, kenapa aku datang kesini?” Imam Syafi’i menjawab, “Iya, aku tahu. Bahkan aku menunggu-nunggu kedatanganmu.”

Khalifah bertanya, “Apa yang menyebabkanmu memukul putraku? Apakah dia membuatmu marah?” Imam menjawab, “Tidak ada apa-apa. Bahkan dia anak yang shalih dan sangat sopan.” Khalifah semakin penasaran, “Aku yakin, semua yang kau lakukan pasti ada tujuannya. Bolehkah aku mengetahuinya?”

Maka Imam Syafi’i pun memanggil putra khalifah, “Nak, sini. Duduk di sampingku.” Duduklah putra khalifah dengan penuh ketaatan di samping imam. “Aku sudah berbuat zhalim kepadamu, memukulmu tanpa sebab,” kata Imam Syafi’i memulai pembicaraannya.

“Benar, Imam. Kenapa engkau lakukan itu?” tanya putra khalifah. Imam Syafi’i menjelaskan, “Engkau adalah putra khalifah. Sebentar lagi engkau juga akan menjadi khalifah, insya Allah. Aku memukulmu supaya engkau tahu bagaimana rasanya orang dizhalimi. Sehingga saat engkau dewasa nanti tidak akan pernah berbuat zhalim kepada seorang pun. Itulah pelajaran pertama dariku.”

Khalifah Harun Ar-Rasyid pun menimpali, “Pelajaran pertama dan paling penting, Imam.” demikianlah, kisah Imam Syafi’i mengajari putra khalifah. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda