Bagaimana Rasulullah Menghadapi Hoaks Kaum Munafik (bagian 2)

0 komentar 239 kali dilihat

mukjizat.co – Hoaks di zaman Rasulullah saw. berasal dari kaum munafik. Penyebaran hoaks sangat berbahaya untuk individu dan umat Islam. Karena itu penyebaran hoaks menjadi senjata andalan kaum munafik dalam menghancurkan umat Islam. Mereka adalah musuh dari dalam yang selalu mengancam. Lalu bagaimana Rasulullah menghadapi hoaks kaum munafik?

Tabayyun dan tatsabut

Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al-Hujurat: 6].

Sikap tabayyun adalah sikap hati-hati dan tidak terburu-buru dalam menilai sesuatu. Huruf (إن) yang bermakna “jika” di dalam ayat di atas dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang jarang terjadi. Artinya, orang yang menggunakan akalnya akan selalu tersadar dan jarang terjatuh dalam mempercayai berita hoaks.

Akibat dari tidak tabayyun adalah menzhalimi orang lain tanpa keyakinan dari kita. Hal ini akan menyebabkan penyesalan jika bencana sudah terjadi. Rasulullah bersabda, “Tabayyun berasal dari Allah, sedangkan terburu-buru berasal dari setan.”

Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Jangan kalian cepat percaya orang yang membawa kabar buruk tentang orang lain. Kebanyakan mereka curang, walaupun bertampang orang shalih. Ketahuilah, orang yang terburu-buru mengatakan hal yang buruk tentang orang lain, pasti mengatakannya tanpa keyakinan.”

Mengembalikan kepada sumbernya, ahlinya, atau ulama

Allah Taala berfirman, “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” [Al-Anbiya: 7].

Allah Taala berfirman, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [An-Nisaa’: 83].

Menahan dan tidak menyebarkannya

Allah Taala berfirman, “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” [An-Nur: 16].

Berita bohong dalam ayat di atas dibahasakan dengan kata (بهتان) karena membawa makna kebohongan yang membuat orang terheran dan tidak percaya. Sehingga aneh, kalau mendengar berita semacam ini masih mau menyebarkannya.

Allah Taala berfirman, “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” [An-Nur: 17]. Ayat ini ingin memperingatkan kita. Kalau ingat akibatnya, jangan ulang lagi. Tidak mengulanginya lagi adalah tanda keimanan. Itu salah satu bagaimana Rasulullah menghadapi hoaks kaum munafik.

Allah Taala berfirman, “Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” [An-Nur: 14].

Melawan hoaks dengan bukti yang kuat

Ja’far menjelaskan kepada Raja An-Najasyi tentang agama Islam dengan sangat baik hingga mengalahkan keterangan hoaks Amru bin Ash. Bisa dicontohkan juga dengan hoaks tentang orang-orang Madinah yang lemah dan berpenyakitan, dibantah dengan umrah dan berlari-lari di Makah.

Menumbuhkan semangat dalam diri umat

Perang Hamra’ul Asad membantah hoaks orang-orang munafik bahwa Rasulullah saw. dan para sahabat kalah dalam perang Uhud. Padahal saat itu para sahabat masih keletihan dan terluka-luka.

Allah Taala berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” [Ali Imran: 172].

Lebih mengedepankan husnu zhan kepada orang lain

Allah Taala berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hasyr: 10].

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah ada orang di antara kalian yang menceritakan kepadaku tentang keburukan salah seorang sahabatku. Aku ingin selalu menemui kalian dengan hati yang bersih.”

Allah Taala berfirman, “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [An-Nur: 12]. Demikianlah, ternyata banyak sekali ayat dan hadits Nabi saw. yang menerangkan bagaimana Rasulullah menghadapi hoaks kaum munafik. (sof1/mukjizat.co).

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda