HOW TO

Bagaimana Rasulullah Menghadapi Hoaks Kaum Munafik? (bagian 1)

Rasulullah saw. dan umat Islam adalah korban hoaks kaum munafik.

mukjizat.co – Hoax tentang Rasulullah saw. yang berasal dari kaum munafik sangat berbahaya melebihi hoax dari lainnya. Berbahaya untuk individu dan umat Islam. Karena kemunafikan telah mengubah fitrah menjadi maksiat. Lalu bagaimana Rasulullah menghadapi hoaks kaum munafik?

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.” [Al-Ahzab: 60-61].

Munafik adalah menampakkan keimanan padahal hatinya tidak beriman. “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” [Al-Munafiqun: 1].

Hoaks yang mereka sebarkan

Rasulullah saw. mengambil harta ghanimah yang bukan bagiannya. Allah Taala pun bantah hoax itu, “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.” [Ali Imran: 161].

Ayat ini turun saat umat Islam kehilangan baju merah yang merupakan salah satu ghanimah Perang Badar. Orang-orang munafik mengatakan, “Mungkin Rasulullah saw. yang mengambilnya.” [HR. Tirmidzi dan Abu Daud].

Rasulullah saw. tidak adil dalam pembagian harta. Allah Taala berfirman, “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” [At-Taubah: 58].

Mereka menuduh Rasulullah saw. mengambil harta dari orang-orang kaya, membagi-bagikannya kepada keluarga atau rekan dekatnya.

Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa dalam Hunain mendengar seorang munafik mengatakan, “Pembagian harta perang ini tidak mengharapkan ridha Allah Taala.” Beliau kabarkan kepada Rasulullah saw., beliau berkomentar, “Ya Allah kasihanilah Musa, dia disakiti lebih berat dari ini tapi bersabar.” Ya Allah, bagaimana Rasulullah menghadapi hoaks kaum munafik. Begitu sabar.

Rasulullah saw. gampang percaya dan mudah ditipu. Allah Taala berfirman, “Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.” [At-Taubah: 61]

Orang munafik merasa bebas menghina Rasulullah saw. saat beliau tidak ada, karena menurut mereka Rasulullah saw. akan percaya saja apa yang mereka katakan. Padahal Rasulullah saw. hanya percaya kebaikan dan hal yang sesuai dengan syariat. Ini bahkan baik karena bagi Rasulullah saw, segala kebaikan harus didengar dan dipercaya. Perkataan orang yang beriman dengan sebenarnya harus dipercaya, dan hal itu bisa menjadi rahmat bagi mereka, semakin cinta kepada Rasulullah saw. dan berjuang membantu dakwah beliau. Sementara orang yang senang menyakiti Rasulullah saw. akan mendapatkan siksaan yang pedih.

Perkataan Rasulullah saw. tidak perlu didengarkan karena tidak ada nilainya. Allah Taala berfirman, “Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.” [Muhammad: 16].

Mereka duduk bersama para sahabat mendengarkan perkataan Rasulullah saw. hanya dengan telinga mereka, tanpa hati. Setelah selesai, mereka menghina, “Rasulullah berkata apa tadi?”

Tujuan mereka adalah menyebarkan opini bahwa perkataan Rasulullah saw. tidak usah diperhatikan. Hati mereka sudah tidak bisa menerima hidayah, dan mereka hanya bisa mengikuti hawa nafsu.

Rasulullah saw. tidak bisa memilih istri yang shalihah atau tidak bisa mendidik istrinya. Karenanya, menurut mereka, Ibunda Aisyah ra. berbuat mesum dengan sahabat bernama Sofwan bin Al-Mu’attal. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” [An-Nur: 11].

Kata “golongan” berarti kelompok yang bersatu mempunyai sebuah tujuan. Kata “dari kami” berarti yang melakukannya adalah orang munafik dan orang muslim yang tidak hati-hati. Kata “baik bagi kamu” karena peristiwa ini menjadi hiburan bahwa Allah Taala bahwa Dia selalu mendukung umat Islam; bisa mengungkap siapa yang kuat dan lemah imannya; bisa mengungkap siapa orang munafik; dan mendapatkan pahala kesabaran dalam ujian. Pada artikel berikutnya kita akan bahas satu persatu bagaimana Rasulullah menghadapi hoaks kaum munafik itu. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.