Sikap Rasulullah Kepada Wanita Sungguh Sangat Berkelas

0 komentar 207 kali dilihat

mukjizat.co – Sungguh Rasulullah saw. telah berjuang bagaimana memberikan kemerdekaan kepada kaum wanita. Caranya adalah dengan memberikan keteladanan dari pribadi beliau langsung.

Saat ini sekitar 65% wanita mengalami berbagai bentuk kekerasan rumah tangga. Sebanyak 4 juta wanita di Jerman setiap tahunnya menjadi korban. Jumlah yang hampir saja juga terjadi di Amerika. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Bagaimana dengan ajaran Islam?

Memang wanita mempunyai sejenis kelemahan, tapi bukan sebuah kelemahan yang buruk. Di satu sisi kelemahan ini ada bukan atas kehendak mereka, dan di sisi lain kelemahan ini juga disenangi oleh orang lain.

Kelemahan yang ada bukan atas kehendak mereka adalah kelemahan fisik mereka. Sementara kelemahan yang disenangi orang lain adalah kelemahan hati dan emosional mereka. Semakin lembut dan tenang seorang wanita, maka dia akan semakin menarik.

Rasulullah saw. melihat dan memahami kelemahan ini. Makanya beliau berusaha melindungi wanita dari gangguan fisik dan perasaan. Banyak sekali peristiwa yang ditujukan Rasulullah saw. untuk menunjukkan bagaimana bersikap kepada wanita.

Rasulullah saw. juga sering memberikan pesan agar memperlakukan wanita dengan baik. “Perlakukanlah wanita dengan baik,” demikian pesannya. Bahkan pesan serupa beliau sampaikan dalam khutbah wada’ (perpisahan) dalam haji terakhir beliau. Beliau yakin pesan itu didengar puluhan ribu jamaah dengan penuh perhatian. Karena khutbah perpisahan adalah hal yang sangat penting di mana Rasulullah saw. tidak akan berkhutbah lagi di depan orang sebanyak itu. Karena sebentar lagi beliau akan meninggal dunia.

“Perlakukanlah wanita dengan baik, karena mereka tertawan bersamamu.” [Tirmizi].

Dikatakan tertawan karena pemegang keputusan berada di tangan laki-laki. Bahkan keputusan untuk bercerai juga di tangan laki-laki. Karena kuatnya laki-laki dan lemahnya wanita, mereka berada dalam posisi yang tidak bisa banyak berkehendak dan berusaha. Makanya Rasulullah saw. berusaha memotivasi kaum lelaki agar lebih sayang lagi kepada mereka.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” [Tirmizi].

Rasulullah saw. juga menyampaikan pesan yang sangat mengena, mengatakan bahwa kaum wanita itu setara dengan kaum lelaki dalam hal kedudukan dan kemuliaan. Kedudukan dan kemuliaan mereka tidak berkurang sedikitpun hanya karena mereka wanita.

“Wanita adalah saudara (yang sepadan) dengan laki-laki.” [Tirmizi].

“Janganlah seorang Mukmin (laki-laki) membenci seorang Mukmin (perempuan). Jika ada satu perangai yang tidak disukainya, pasti saat itu ada perangai lain yang disukainya.” [Muslim].

Semua sabda ini tentunya beliau pahami dari firman Allah Taala yang senada dengan itu:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [An-Nisaa’: 19].

Namun ada yang lebih menarik dari itu semua, yaitu bagaimana Rasulullah saw. menunjukkan langsung praktik memperlakukan wanita dengan penuh penghormatan. Jadi sabda-sabda beliau bukan hanya sebagai obat penenang bagi kaum wanita, tapi benar-benar terbukti dalam sikap. Bukan hanya sekali ditunjukkannya, tapi setiap hari saat Rasulullah saw. bersama para istrinya.

Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah saw. memuliakan mereka. Bahkan kita pun berani menantang dunia untuk menunjukkan satu peristiwa bahwa Rasulullah saw. menghinakan wanita. Bagaimana kasih sayah Rasulullah saw. telah melebihi kasih sayang seorang ayah.

“Abu Bakar ra. memohon izin untuk menemui Nabi saw.  Tapi ketika akan masuk, ia mendengar suara Aisyah ra. meninggikan suaranya marah. Maka setelah masuk, Abu Bakar ra. menarik Aisyah ra. untuk memukulnya seraya berkata, “Kenapa aku melihat kamu mengeraskan suara di hadapan Rasulullah saw?” Lalu Nabi saw. menghalanginya hingga Abu Bakar ra. keluar sambil marah. Saat Abu Bakar ra. keluar, Nabi berkata, “Lihatlah bagaimana aku selamatkan kamu dari murka ayahmu!” Abu Bakar ra. lalu berdiam diri di dalam rumah selama beberapa hari. Setelah itu ia memohon izin lagi untuk menemui Rasulullah saw., dan ia mendapati keduanya telah berbaikan. Lantas ia berkata kepada keduanya, “Sertakanlah aku dalam kedamaian kalian seperti kalian telah menyertakanku dalam kemarahan kalian.” Nabi saw. menimpali, “Kami telah lakukan, kami telah lakukan.” [Abu Daud].

Kadang salah seorang istri beliau melakukan kesalahan besar di depan banyak orang. Bahkan kadang kesalahan itu sempat membuat Rasulullah saw. merasa malu dan terganggu. Namun demikian, beliau memahami kesalahan itu, dan memaklumi kelemahan istrinya. Rasulullah saw. tidak bersikap reaktif, tapi memaafkannya dengan mudah saja.

“Rasulullah saw. pernah berada di rumah salah seorang istrinya. Kemudian salah seorang istri beliau menyuruh pelayannya mengirimkan sebuah nampan yang berisi makanan. Kemudian isteri beliau (tuan rumah) memukul nampan tersebut dengan tangannya hingga pecah. Nabi saw. mengambil dua pecahan tersebut dan menggabungkan sebagian dengan yang lainnya. Lalu mengembalikan makanan pada tempatnya (semula) seraya berkata, “Ibu kalian sedang cemburu.” Kemudian mereka makan. Beliau menahan utusan dan nampannya hingga mereka selesai, lalu beliau menyerahkan nampan yang tidak pecah kepadanya, dan beliau menyimpan nampan yang pecah di rumahnya (istri yang memecahkannya).” [Abu Daud].

Sikap Rasulullah saw. juga sangat memuliakan para janda.

“Orang yang membantu kebutuhan wanita janda dan orang miskin sama seorang orang yang yang berjihad di jalan Allah Taala, atau orang yang selalu qiyamullail dan berpuasa.” [Bukhari].

Beliau juga tidak segan melakukannya sendiri. Mengurusi kebutuhan janda dan orang miskin.

“Pernah ada seorang budak perempuan yang berada di kota Madinah, menggandeng tangan Rasulallah saw. lalu diajaknya pergi untuk membantu urusannya.” [Bukhari].

Pernahkah ada dalam sejarah, seorang pemimpin negara yang pergi kesana kemari hanya untuk mengurusi keperluan seorang wanita biasa, bahkan hanya seorang budak? Allahumma Shallu ‘alaih. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda