Alasan Khabib Nurmagomedov Serang Penonton Usai Lumpuhkan McGregor

0 komentar 385 kali dilihat

mukjizat.co – Dalam laga UFC 229, Khabib Nurmagomedov berhasil mengalahkan Conor McGregor, Minggu (7/19/2018). Namun laga itu diwarnai aksi rusuh yang dibuat Khabib Nurmagomedov di akhir laga juara kelas ringan itu. Akhirnya Khabib Nurmagomedov buka suara terkait ulahnya yang membuat rusuh di Octagon.

Sesudah dinyatakan menang, Khabib justru semakin emosional pada orang yang diduga tim McGroger di luar arena. Bukan tanpa alasan, Khabib menjelaskan aksi dirinya usai laga pada saat konferensi press. Dilansir dari Independent, Khabib Nurmagomedov mengatakan jika dirinya kehilangan ketenangan usai mendengar ucapan rasis sebelum pertarungan. Sebelum pertarungan berlangsung McGregor sempat mengucapkan kata-kata rasis yang menyinggung Khabib.

Pada laman tersebut, Khabib menyebut jika dirinya hanya manusia biasa yang tidak bisa menahan umpatan yang berbau rasis. “Saya ingin meminta maaf pada komisi atletik, maaf pada Vegas,” ujar Khabib. “Ini bukan sisi baikku, aku manusia dan aku tidak tahu bagaimana orang dapat berkata dengan sekotor itu, saya tidak sadar langsung keluar arena saja,” lanjut Khabib. “Bagaimana kalau dia bicara tentang keluarga dan agama saya? Mungkin orang-orang akan membicarakan kebringasanku tapi saya ingat pesan ayah saya tentang rasa hormat,” pungkas Khabib.

Apakah wajar amarah yang dirasakan Khabib kemarin? Dalam literatur Islam hal itu disebut dengan istilah ghirah. Ghirah adalah cemburu dalam hati seseorang, yang berakar dari agama, atau tersinggung karena agamanya dinistakan. Ghirah adalah unsur jiwa untuk menjaga hidup dan sehatnya hati.

Hati yang sehat menyimpan segala perasaan, dan bisa bereaksi positif ketika terpapar hal yang positif, bereaksi negatif ketika terpapar hal yang negatif. Allah Taala berfirman:

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.” [Al-Maidah: 78-80].

Rasulullah saw. juga bersabda, “Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku dengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah.” [Diriwayatkan Muslim].

Tingkatan marah menurut Imam Al-Ghazali

Kurang. Yaitu tidak punya marah, atau marahnya sangat lemah. Imam As-Syafi’i: orang yang dipancing marah tapi tidak bisa marah adalah keledai. Efek buruknya, orang seperti ini akan kehilangan harga diri.

Berlebih. Jika marah sudah keluar batasnya sehingga membuat seseorang tidak bisa mempertimbangkan dengan akal dan agamanya. Orang seperti ini akan kehilangan mata hati, pemikiran dan pilihan. Dia seakan selalu dipaksa marah. Penyebab biasanya karena bawaan dan kebiasaan.

Sedang. Inilah marah yang baik. Yaitu marah yang menunggu perintah akal dan agama. Orang seperti ini akan marah ketika harus marah, dan akan reda ketika harus berhenti marah. Menjaga emosi dalam batasan inilah yang disebut istiqamah, seperti yang diperintahkan Allah Taala. (tribunnews/sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda