AKHLAK

Berpisah Tapi Jangan Lupakan Masa-masa Indah

Judul di atas adalah salah satu kaidah pergaulan dalam Al-Quran.

mukjizat.co – Judul di atas adalah salah satu kaidah pergaulan dalam Al-Quran. Benar, terdapat dalam ayat yang menjelaskan masa-masa pasca perceraian. Ketika bahtera rumah tangga tidak bisa dipertahankan, Allah Taala memberikan jalan keluar yang penuh dengan emosi. Sedih, marah, kecewa, dan sebagainya. Tapi hendaknya suasana tersebut tidak membuat lupa orang yang mengalaminya dengan masa-masa indah penuh kesetiaan dan kebaikan antar kedua pasangan. Allah Taala berfirman:

“Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” [Al-Baqarah: 237].

Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu.” Ayat ini terletak setelah potongan “kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah”. Ini adalah sebuah anjuran untuk saling memaafkan dan mengakui kebaikan pasangan kita. Sementara kalimat “Dan janganlah kamu melupakan” bukanlah berarti larangan untuk lupa, tapi larangan untuk mengabaikan dan tidak berusaha mengingat keutamaan dan kebaikan pasangan kita.

Hubungan dalam lembaga pernikahan pastinya telah mengalami masa-masa indah. Suami-istri saling memberi dan membahagiakan. Namun jika ternyata takdir menyatakan keduanya harus terpisah, hal ini bukan berarti kenangan indah itu harus sirna. Fisik boleh berpisah, tapi akhlak harus tetap dijunjung, yaitu dengan mengakui kebaikan pasangan. Dimulai dari kata maaf yang tentunya akan mendekatkan yang jauh, dan melembutkan yang keras.

Kebaikan orang lain tidak boleh dilupakan. Rasulullah saw. lah orang yang mencontohkan hal ini. Saat ditolak dan diusir dari Taif setelah berdakwah selama satu bulan di sana, Rasulullah saw. berniat kembali ke Mekah. Apakah Mekah aman bagi beliau? Tidak. Makanya Rasulullah saw. baru masuk Mekah setelah mendapatkan jaminan keamanan (jiwar) dari seorang musyrik bernama Al-Muth’im bin Adiy. Bahkan Al-Muth’im memerintahkan empat orang anaknya untuk mengambil senjata dan melindungi Rasulullah saw.

Ini adalah sebuah kebaikan. Walaupun yang melakukannya adalah seorang musyrik, apalagi ternyata musyrik ini meninggal dunia sebelum sempat berislam dan menjadi pengikut Rasulullah saw. Usai Perang Badar, sambil melihat para musyrikin yang tertawan di tangan pasukan Muslim, Rasulullah saw. berkata, “Seandainya saja Al-Muth’im masih hidup, lalu menjadi mediator untuk memohonkan maaf kepadaku, tentu aku akan membebaskan tawanan-tawanan perang ini.”

Dalam hidup kita, banyak sekali ikatan hubungan. Pernikahan, perbesanan, kerja, pertemanan, organisasi, dan sebagainya. Alangkah baiknya jika kita menerapkan kaidah Al-Quran ini. Hubungan terputus, tapi sungai cinta tetap mengalir, hak dan kewajiban tetap terpelihara, dan hati tetap bersihd dari kebencian. Sementara jika kaidah Al-Quran ini tidak diterapkan, perpisahan yang menyedihkan akan berlanjut dengan panasnya pertikaian dan permusuhan. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.