AKHLAK

Beberapa Kisah Ulama dan Penguasa

Ada orang-orang yang kepribadiannya telah dididik dengan akidah Islam sehingga banyak orang yang menganggap mereka diciptakan dari tanah yang berbeda dari kebanyakan orang.

mukjizat.co – Ada orang-orang yang kepribadiannya telah dididik dengan akidah Islam sehingga banyak orang yang menganggap mereka diciptakan dari tanah yang berbeda dari kebanyakan orang. Hal itu karena mereka benar-benar beriman kepada Allah Taala, dan demi keimanannya mereka berani melakukan apa saja dan mengorbankan apa saja.

Seperti itulah kehidupan para ulama di zaman as-salafus salih. Mereka terus dalam kondisi siap siaga dalam menjaga Islam. sikap mereka yang seperti itu menunjukkan bahwa Islam agama yang mereka yakini memang agama yang layak untuk diperjuangkan dengan penuh pengorbanan.

Hasan Al-Basri

Setelah Umar bin Hubairah ditunjuk menjadi gubernur Irak oleh Yazid bin Muawiyah, dia memanggil beberapa ulama Irak di antaranya Hasan Al-Basri, Muhammad bin Sirin, dan Asy-Sya’bi. Dia berkata kepada mereka, “Yazid bin Muawiyah adalah khalifah Allah Taala atas hamba-Nya. Telah disumpah menjadi khalifah yang menyumpah umat untuk taat kepadanya. Dia telah mengangkatku sebagai gubernur di sini. Apa pandangan kalian?”

Ibnu Sirin dan Asy-Sya’bi menjawab dengan redaksi yang tidak lugas agar selamat dari kemurkaan Ibnu Hubairah. Sementara Hasan Al-Basri mengatakan, “Ibnu Hubairah, takutlah Allah dalam menghadapi Yazid, jangan sebaliknya takut Yazid ketika berhadapan dengan Allah. Allah telah melindungimu dari murka Yazid, sementara Yazid tidak akan bisa melindungimu dari murka Allah. Sesungguhnya Allah jadikan kekuasaan sebagai penolong agama dan hamba Allah, maka jangan kau manfaatkan agama dan hamba Allah untuk mendapatkan ridha penguasa. Karena tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.”

Al-Auza’i

Setelah runtuh negara Bani Umayyah, Abdullah bin Ali Al-Abbasi datang ke Syam, membunuhi banyak orang dari kalangan Bani Umayyah. Saat itu, Abdullah memanggil Imam Abdurrahman Al-Auza’i, menanyakan, “Apa pendapatmu tentang masalah membunuh orang-orang Bani Umayyah?”

Al-Auza’i menjawab, “Ada perjanjian antara engkau dan mereka. Sebaiknya engaku penuhi isi perjanjian itu.” Maka Abdullah pun mengatakan, “Kalau begitu, hapus perjanjian itu. hingga tidak ada lagi perjanjian antara diriku dan mereka.” Al-Auza’i merasa dirinya juga akan segera dibunuh Abdullah karena sikapnya, tapi dia teringat dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah Taala. Maka keluarlah dari mulutnya, “Membunuhi mereka adalah perbuatan haram bagimu.”

Abdullah benar-benar marah, sementara Al-Auza’i sudah bersiap mendengar perintah untuk dibunuh. Tapi ternyata Abdullah malah memerintahkan pasukannya untuk mengeluarkan Al-Auza’i dari ruangan.

Huthaith Al-Zayyat

Ketika Huthaith Al-Zayyat ditangkap, Al-Hajjaj bertanya, “Kamu Huthaith?” Huthaith pun menjawab, “Iya. Tanyakanlah kepadaku semaumu. Karena aku sudah berjanji kepada Allah Taala: jika ditanya aku akan menjawab dengan jujur, jika disiksa aku akan sabar menahan, dan jika dibebaskan aku akan bersyukur.”

Al-Hajjaj pun bertanya, “Apa pendapatmu tentang diriku?” Huthaith menjawab, “Engkau adalah musuh Allah Taala di atas bumi karena telah melanggar aturan dan membunuh orang hanya karena tuduhan.” Al-Hajjaj bertanya lagi, “Lalu apa pendapatmu tentang Raja Al-Malik bin Marwan?” Huthaith menjawab, “Al-Malik bin Marwan lebih jahat darimu. Kamu hanyalah salah satu dari dosanya.”

Maka Al-Hajjaj pun memerintahkan pasukannya untuk menyiksa Huthaith. Selama disiksa, Huthaith sama sekali tidak berkata apa-apa. Lalu pasukan mengabarkan kepada Al-Hajjaj, “Sebentar lagi Huthaith akan segera meninggal dunia.” Maka Al-Hajjaj memerintahkan mereka untuk membuang Huthaith ke pasar. Huthaith pun meninggal di pasar. Berapakah umurnya saat itu? 18 tahun.

Sufyan Ats-Tsauri

Sufyan Ats-Tsauri adalah seorang imam dalam keilmuan Islam. Beliau pernah dipertemukan dengan Raja Abu Ja’far Al-Mansur. Al-Mansur pun bertanya, “Katakan apa yang kau butuhkan dariku.” Ats-Tsauri pun menjawab, “Takutlah kepada Allah. Dunia sudah penuh dengan perbuatan zhalim.”

Al-Mansur menundukkan, lalu kembali mengangkatnya dan bertanya, “Katakan apa yang kau butuhkan dariku.” Ats-Tsauri pun menjawab, “Engkau menjadi raja seperti ini adalah karena berkat perjuangan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Saat ini anak-cucu mereka sedang mati kelaparan. Takutlah kepada Allah, berikanlah hak-hak mereka.”

Al-‘Izz bin Abdussalam

Raja Ismail berkoalisi dengan Pasukan Salib untuk bisa melawan pemimpin Muslim di Mesir, Najmudin bin Ayyub. Melihat hal itu, Al-‘Izz pun marah, dan menyampaikan kritikannya melalui khutbah Jumat.

Raja yang mendengar kabar khutbah itu pun langsung mengeluarkan surat perintah penangkapan, dan melarangnya untuk berkhutbah dan memberikan fatwa. Saat berada dalam tahanan, seorang utusan menawari Al-‘Izz agar mengakui kesalahannya kepada raja sehingga semua jabatan akan dikembalikan bahkan ditambah.

Ternyata jawaban Al-‘Izz bin Abdussalam menjawab, “Aku tetap tidak akan setuju dengan raja, walaupun dia mencium tanganku.” (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.