Komunis Uni Soviet Akui Kewalahan Hadapi Islam

0 komentar 188 kali dilihat

mukjizat.co – Komunisme menganggap agama sebagai candu bagi rakyat yang akan menghalangi terwujudnya kemajuan. Persepsi seperti itu seutuhnya salah, karena komunisme ini muncul dengan latar belakang kekejaman yang dilakukan lembaga agama yang salah. Agama langit yang telah didistorsi.

Namun ternyata sikap komunisme ini diberlakukan kepada semua agama, tidak hanya agama yang telah dipolitisasi. Islam, agama yang sama sekali tidak menghalangi rakyat untuk mewujudkan kemajuannya, pun menjadi sasaran pembumihangusan mereka. Islam sangat tidak tepat disandangi dengan status seperti itu.

Memang secara politik, komunisme melihat Islam sebagai benteng sangat kuat yang menghalangi penyebaran paham itu. Padahal pemeluk Islam tidak melakukan propaganda sehebat mereka. Islam hanya mempertahankan sendi-sendinya yang kuat, akidahnya yang jelas dan benar, sistemnya yang unik dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Semuanya sesuai dengan kondisi realistis individu dan masyarakat di manapun dan kapanpun.

Semua itu karena memang Islam adalah agama dari Allah Taala Yang Maha Mengetahui segala sesuatu termasuk kondisi manusia. Allah Taala berfirman, “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?’ [Al-Mulk: 14].

Karena itulah komunisme melakukan perang total melawan Islam. Baik kepada ajarannya maupun kepada para pemeluknya. Dalam perang pemikiran, opini, dan juga militer. Usaha besar yang mereka lakukan ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang menggembirakan mereka. Karena itulah, salah seorang pemimpin komunis, Vyacheslav Molotov, mengatakan, “Komunisme tidak akan pernah menyebar di Timur sebelum kita jauhkan rakyatnya dari batu yang mereka sembah di Hijaz, atau kita habisi Islam.” (Ensiklopedi Gerakan Keagamaan dan Pemikiran, WAMY).

Akhirnya mereka membuat perencanaan dan makar untuk melawan Islam. Mereka mengetahui betul bahwa Islam memberikan pengaruh besar dalam diri pemeluknya. Umat Islam sangat sulit dipisahkan dengan agamanya. Islam benar-benar agama yang kuat, sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia.

Ada sebuah dokumen resmi pemerintah Uni Soviet yang membicarakan tentang Islam, “Sudah 50 tahun Uni Soviet resmi menjadi negara sosialis. Selama itu pula negara sosialis terbesar di dunia ini telah melakukan perang terhadap Islam. Tapi kawan-kawan yang memperhatikan gerakan agama di Uni Soviet mengaku bahwa Uni Soviet masih menghadapi tantangan dalam negeri di wilayah-wilayah Islam. seakan-akan prinsip-prinsip Lenih belum merasuk ke dalam darah kaum Muslimin. Walaupun kekuatan kesadaran telah memerangi agama, tapi Islam masih menyinarkan pancarannya, masih mengalirkan kekuatan. Buktinya jutaan generasi baru di wilayah-wilyah Islam berani memeluk agama Islam. Bahkan mereka terang-terangan mengamalkan ajaran-ajarannya.”

Oleh karena itu mereka membuat strategi melawan Islam, beberapa di antaranya seperti tertulis dalam dokumen pemerintah Uni Soviet:

  1. Berdamai dengan Islam dengan tujuan menarik hati dunia Islam kepada sosialisme.
  2. Membuat buruk citra ulama, pemimpin islami, dan menuduh mereka bersekongkol dengan penjajah dan zionisme.
  3. Menjadikan sosialisme sebagai bahan ajar di lembaga-lembaga pendidikan.
  4. Menghalangi berdirinya gerakan keagamaan, serius mematikan segala bentuk kebangkitan agama, dan memukul keras setiap tokoh yang mengajak kembali kepada agama.
  5. Menyempitkan ruang gerak Islam, dan menyematkan tuduhan keji kepadanya, agar orang menjauh bahkan memusuhi.
  6. Mendorong para penulis atheis untuk menyebarkan opini bahwa Islam sudah habis masanya. Harus diganti dengan sosialisme.
  7. Membuang ikatan keagamaan antar bangsa-bangsa dunia.
  8. Menghapus agama bukan dengan menghancurkan masjid, karena agama ada di dalam hati. Maka nurani keagamaan harus dihancurkan, dan ini bisa dilakukan dengan sarana cerita, teater, media massa, berita, buku, dan sebagainya.
  9. Menggeser kesadaran beragama dengan kesadaran berilmu.
  10. Memanipulasi masyarakat luas bahwa Muhammad adalah seorang pejuang sosialis. Dia miskin, pengikutnya miskin, memerangi kaum kaya, borjuis, kapitalis, dan pemakan riba. Nabi harus dibersihkan dari kesucian ruhani dan wahyu. Sebaliknya ditampilkan sebagai manusia biasa.
  11. Menghancurkan nilai-nilai keagamaan dan ruhani dengan cara merekayasa adanya cacat dan ketimpangan di dalamnya.
  12. Menghancurkan agama dengan alat agama. Untuk tujuan itu, tidak mengapa para pemimpin sosialis berpenampilan Muslim agamis, dengan syarat hal itu tidak berlangsung lama.
  13. Mendukung pemahaman Islam tertentu, dan menyebutkan sebagai Islam yang benar, Islam masa depan, Islam progresif, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk menghilangkan jejak-jejak Muhammad dalam Islam. (sof1/mukjizat.co)
Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda