TUNTUNAN

Kisah Cinta Fitri di Zaman Nabi

Rasul paling mulia, Muhammad saw. tidak sungkan dan malu menyatakan cintanya kepada Aisyah ra.

mukjizat.co – Nabi Ibrahim as. sangat mencintai istrinya. Beliau tetap bersama Sarah selama 80 tahun tanpa memiliki seorang momongan. Tidak terpikir memiliki istri kedua karena ingin menjaga perasaan kekasihnya itu. Namun ketika Sarah sendiri yang memintanya menikahi Hajar, Nabi Ibrahim as. pun menuruti keinginan istri yang ingin segera memiliki keturunan ini. Kisah cinta fitri di zaman Nabi.

Rasul paling mulia, Muhammad saw. tidak sungkan dan malu menyatakan cintanya kepada Aisyah ra. Ketika Amru bin Ash ra. pulang dari Perang Zatus Salasil membawa kemenangan, beliau menanyakan tentang orang yang paling dicintainya. Amru ra. mengira Rasulullah saw. akan menyebut namanya. Namun ternyata beliau menyebut nama istrinya, Aisyah ra. “Bukan wanita, aku menanyakan tentang laki-laki,” demikian Amru ra. menjelaskan maksud pertanyaannya. Ternyata Rasulullah saw. menjawab, “Kalau begitu, ayahnya.” Pernahkah kita melihat pemimpin seperti beliau, menyatakan cinta kepada istrinya tanpa sungkan-sungkan? Kisah cinta fitri di zaman Nabi.

Rasa cinta Rasulullah saw. itu diketahui seluruh sahabat. Sehingga para khalifah pun memperhatikan rasa cinta ini dalam kebijakan-kebijakan mereka. Misalnya, Umar bin Khattab ra. yang dikenal dengan ketegasannya, memberikan seluruh istri Rasulullah saw. jatah dari negara masing-masing 10 ribu Dirham. Lalu beliau menambah 2 ribu Dirham untuk Aisyah ra. Ketika ditanya tentang sebab kebijakannya, Umar ra. menjawab, “Aisyah adalah kesayangan Rasulullah saw.”

Ulama hadits, Masruq ra., kalau meriwayatkan hadits dari Aisyah ra., menuliskan redaksi, “Dari Ash-Shiddiqah (wanita yang jujur) binti Ash-Shiddiq (lelaki yang jujur), kekasih Utusan untuk seluruh dunia.”

Namun demikian, Aisyah ra. yang sangat dicintai Rasulullah saw. harus merasa cemburu kepada Khadijah ra. yang telah wafat jauh sebelum mereka berdua menikah. Ketika mendapati istrinya cemburu, alasana Rasulullah saw. sangat sederhana, “Aku dikarunia cinta kepadanya.” Cinta diungkapkannya dengan sangat sederhana dan lugas. Padahal beliau sadar betul setiap kata yang keluar dari mulutnya akan tersebar luas dan sepanjang masa. Beliau tidak merasa perlu malu untuk mengungkapkan cintanya. Kisah cinta fitri di zaman Nabi.

Suatu saat Rasulullah saw. kedatangan seorang lelaki yang meminta fatwa, “Kami memiliki seorang anak yatim perempuan. Dia dilamar dua orang. Yang satu kaya, dan yang satu lagi miskin. Dengan yang mana kami sebaiknya menikahkan anak yatim itu?” Ternyata jawaban Rasulullah saw. sangat manusiawi. Menghormati perasaan seorang anak manusia. “Anak yatim itu cinta yang mana?”, demikian tanya Rasulullah saw. Lelaki itu menjawab, “Dia mencintai yang miskin.” Maka kemudian Rasulullah saw. mengatakan, “Yang terlihat dari dua orang yang saling mencintai hanyalah rasa cinta.” Artinya kemiskinan itu tidak akan terlihat karena tertutupi cinta. Dan Rasulullah saw. tidak mencela seorang wanita ketika menyimpan perasaan cinta kepada seorang lelaki. Sebaliknya, membantu menyediakan jalan cinta yang baik dan halal.

Ada sepasang suami-istri yang berstatus budak. Namanya Mughits dan Barirah. Suatu saat, sang istri, Barirah, dimerdekakan. Karena merdeka, Barirah meminta cerai dari Mughits. Permintaannya pun dipenuhi. Namun tetap ada rasa cinta yang mendalam dari Mughits. Sehingga walaupun sudah bercerai, Mughits selalu mencari-cari mantan istrinya, menanyakan kabarnya, dan ingin selalu berdekatan. Cinta yang dalam ini membuat hati Rasulullah saw. terenyuh. Beliau akhirnya menemui Barirah. “Kenapa engkau tidak mau rujuk (kembali menikah) dengan Mughits? Dia adalah ayah dari anak-anakmu.” Barirah yang terkaget dengan kata-kata Rasulullah saw. pun bertanya, “Apakah engkau memerintahkanku sehingga aku harus menaatinya? Rasulullah saw. menjawab, “Tidak, aku hanya ingin menjadi perantara.” Mendengar jawaban itu, Barirah pun tetap dengan keputusannya berpisah dengan Mughits.

Rasulullah saw. bukanlah orang yang kurang pekerjaan sehingga berkesempatan mengurusi masalah percintaan. Beliau adalah seorang utusan Allah Taala untuk seluruh dunia. Memegang kunci keselamatan seluruh umat manusia di dunia dan akhirat. Lalu kenapa beliau bisa sempat mengurusi cinta Mughits, mengusahakan cintanya? Beliau juga membiarkan Barirah tetap dalam pilihannya, kenapa? Karena beliau menghormati perasaan cinta. Kisah cinta fitri di zaman Nabi. Hadiah untuk yang saling mencinta. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda