SEJARAH

Kelahiran Musa yang Ajaib Awal Keselamatan Bangsa Israil

kisah asiya kehendak Allah pasti terwujud
Seorang ibu dengan penuh cinta menyusui anaknya, lalu bagaimana perasaannya ketika dia memasukkannya ke dalam kotak? Apa yang dirasakannya ketika kotak itu dilepaskan ke sungai, bergoyang-goyang terkena gelombangnya, kadang berputar-putar di pusarannya?

mukjizat.co – Ibunda Musa as. mengandung Harun pada tahun tidak diberlakukannya pembunuhan anak sehingga beliau tidak perlu menyembunyikan kehamilannya. Kemudian beliau mengandung Musa pada tahun diberlakukannya pembunuhan anak sehingga beliau merasa sangat sedih dan takut.”

Saat itu suasana sangat mencekam dan menakutkan. Banyak orang dibunuh atau terpaksa melarikan diri mencari keselamatan. Tahun itu adalah tahun diberlakukannya politik pembunuhan bayi laki-laki. Saat itu sangat nampak kekejaman Fir’aun dan para pendukungnya dari kalangan Koptik. Penderitaan Bani Israil tersebut digambarkan Al-Qur’an dalam banyak ayat.

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” [Al-Baqarah: 49].

Selain dari kalangan tertindas, keluarga Musa termasuk keluarga yang sangat miskin dan lemah. Ibu Musa adalah wanita biasa, yang tidak mempunyai rencana bagaimana menyelamatkan anaknya. Oleh karena itu hatinya selalu berdebar dan bersedih meratapi nasib bayi kecilnya nanti. Bagaimana mungkin beliau bisa menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun dan para jagalnya. Tidak bisa digambarkan suasana hati beliau saat itu. Seluruh bagian dirinya turut merasa takut dan mengkhawatirkan keselamatan anaknya.

Namun Allah swt. memberikan ilham yang membuatnya hatinya lebih teguh, kuat, tenang, dan yakin dengan pertolongan dari Allah swt. Allah swt. juga menunjukkan jalan untuk menyelamatkan bayinya. Beliau diperintahkan untuk menyusuinya dengan tenang, lalu memasukkannya ke dalam kotak untuk melarungkannya di sungai Nil jika khawatir akan diketahui pasukan Fir’aun. Ketika melarungkan anaknya, hendaknya merasa yakin dengan pertolongan Allah swt., dan menyerahkan semuanya kepada Allah swt. Karena saat itu, Musa berada dalam perlindungan Allah swt. yang Maha Menciptakan, Memberi Rezeki, dan Memberi Kehidupan.

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” [Al-Qashash: 7]

Dalam ayat ini terdapat dua janji Allah swt.:

Pertama, janji yang dekat. Allah swt. akan menyelamatkan Musa dan memulangkannya. Bahkan beliau akan menerima upah menyusui anaknya sendiri. Allah swt. mempunyai caranya sendiri untuk memulangkan Musa sehingga hidup dengan aman dengan ibunya.

Kedua, janji yang jauh. Allah swt. akan menjadikan Musa sebagai seorang rasul. Ini berarti Musa akan hidup hingga dewasa dan menjadi seorang nabi. Bahkan Musa akan dapat mengalahkan Fir’aun seperti disebutkan sebelumnya.

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” [Al-Qashash: 5-6].

Sungguh janji yang sulit dipercaya. Musa sudah hanyut dibawa arus sungai yang dalam dan panjang. Mana mungkin dia bisa selamat. Walaupun demikian, kalau seseorang beriman kepada Allah swt., dia pasti akan meyakini bahwa Allah swt. tidak akan memungkiri janji-Nya.

Seorang ibu dengan penuh cinta menyusui anaknya, lalu bagaimana perasaannya ketika dia memasukkannya ke dalam kotak? Apa yang dirasakannya ketika kotak itu dilepaskan ke sungai, bergoyang-goyang terkena gelombangnya, kadang berputar-putar di pusarannya? Iman kepada Allah swt. benar-benar melahirkan keyakinan; keyakinan melahirkan keberanian.

Setelah melepas kepergian anaknya, hati ibu Musa pun terus memikirkannya. Inilah manusia, yang lemah dan kadang bisa berubah-ubah keadaannya. Kalau tanpa taufik dan hidayah dari Allah swt., tentu dia akan bertindak yang ceroboh yang bisa membahayakan anaknya sendiri. Namun Allah swt. menguatkannya sehingga tetap yakin dengan pertolongan Allah swt. Beliau hanya memerintahkan kakak perempuan Musa untuk mengikuti secara sembunyi-sembunyi ke mana Musa pergi.

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa.  Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.” [Al-Qashash: 10-11].

Musa Selamat; Tanda Kekuasaan Allah swt.

Allah swt. yang memelihara seorang bayi di dalam rahim ibunya. Dan Allah swt. jugalah yang memeliharanya setelah lahir. Allah swt. memberinya petunjuk, menyiapkan rezekinya, dan menyiapkan orang yang akan menjaganya dari segala bahaya. Bahkan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, Musa akan dipelihara oleh Asiyah, isteri Fir’aun sendiri. Dengan kata lain, dia akan tumbuh berkembang bersama Fir’aun, orang yang selama ini sebenarnya ingin mengeyahkannya dari kehidupan.

Di antara kekuasaan Allah swt. pada peristiwa ini:

Pertama, Allah swt. menyelamatkan Musa dari tenggelam di sungai. Itu karena semua makhluk adalah tentara Allah swt. Jika Allah swt. memerintahkan, mereka selalu dalam kondisi siap melaksanakan tugasnya. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin kotak itu sampai ke alamat dengan tepat? Air sungai adalah tentara Allah swt. yang diperintahkan-Nya mengantar Musa ke istana Fir’aun. Nantinya air jugalah yang akan diperintahkan Allah swt. untuk membinasakan Fir’aun. Air keselamatan, air kebinasaan.

“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Fath: 7].

Kedua, Allah swt. menyiapkan keluarga Fir’aun untuk memungut dari sungai Nil sehingga selamat dari tenggelam. Padahal mereka adalah musuh yang menunggu-nunggu waktu untuk membunuhnya.

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” [Al-Qashash: 8].

Ketiga, Allah swt. menumbuhkan rasa cinta di hati isteri Fir’aun kepada bayi tersebut. Padahal suaminya adalah raja yang sangat kejam. Isteri Fir’aun tersebutlah yang nantinya akan menjadi pelindung Musa dari segala bahaya yang mengancamnya. Karena Fir’aun sebenarnya tidak setuju dengan keputusan isterinya mengambil dan mengadopsi bayi tersebut.

“Dan berkatalah istri Firaun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” [Al-Qashash: 9].

Keempat, Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa isteri Fir’aun membawa Musa ke beberapa wanita untuk disusui. Namun tidak ada yang bisa menyusuinya. Hingga datanglah saudara perempuan Musa yang sebelumnya diperintahkan ibunya untuk mengikuti perkembangan kabar Musa. Maka saat itu, dia menawarkan kepada isteri Fir’aun untuk mencarikan wanita yang cocok untuk menyusuinya.

“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” [Al-Qashash: 11-12].

Hal tersebut dikehendaki dan diatur Allah swt. agar Musa pulang dan bertemu dengan ibunya lagi.

“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” [Al-Qashash: 13].

Demikianlah, ketika sudah berjanji, Allah swt. pasti akan menepatinya. Segala yang dikehendaki Allah swt. pasti akan terwujud. Kewajiban manusia hanya mengimani kehendak Allah swt. dan bertawakkal kepada-Nya. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda