Puasa Hari Asyuraa’ Menumbuhkan Semangat Perjuangan Kaum Tertindas

0 komentar 279 kali dilihat

mukjizat.co – Puasa hari Asyura’ adalah puasa pada tanggal 10 bulan Muharram. Puasa ini sangat dianjurkan Rasulullah saw. Bahkan pada awal-awal masa Madinah,  puasa ini pernah diwajibkan. Lebih dari itu, orang yang sudah makan pada siang hari pun diperintahkan untuk berpuasa sisa harinya. Ini menunjukkan betapa penting puasa ini.

Kenapa Rasulullah saw. memerintahkan puasa Asyura’? Ceritanya berawal dari kedatangan Rasulullah saw. ke Madinah. Saat itu Rasulullah saw. melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa. Maka beliau bertanya, “Kalian puasa apa?” Mereka menjawab, “Ini hari baik, yaitu hari diselamatkannya Bani Israil dari musuhnya. Maka Nabi Musa as. selalu berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur kepada Allah Taala.” Maka Rasulullah saw. berkata, “Aku lebih berhak meneladani Musa as. daripada kalian.” Rasulullah saw. pun berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa.

Sementara itu hukumnya mengalami perubahan. Seperti yang dikatakan Ibunda Aisyah ra., “Hari Asyura’ adalah hari yang dijadikan hari puasanya orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah. Rasulullah saw. juga turut berpuasa. Ketika datang ke Madinah, beliau juga berpuasa pada hari Asyura’ serta memerintahkan umat Islam untuk turut berpuasa. Setelah turun kewajiban berpuasa bulan Ramadhan, Rasulullah saw. berkata, “Siapa yang ingin berpuasa hari Asyura’ dipersilahkan berpuasa; siapa yang tidak ingin berpuasa dipersilahkan tidak berpuasa.” [Bukhari, Muslim].

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw. bersabda, “Ini adalah hari Asyura’. Puasanya tidak wajib. Tapi aku berpuasa. Siapa yang mau berpuasa dipersilahkan berpuasa, siapa yang tidak mau berpuasa dipersilahkan tidak berpuasa.” [Bukhari, Muslim].

Selain tanggal 10, dianjurkan juga berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram. Ibnu Abbas ra. berkata, “Setelah Rasulullah saw. berpuasa pada hari Asyura’, dan memerintahkan umat Islam untuk turut berpuasa, para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Kalau seperti itu, tahun depan kita berpuasa juga pada tanggal 9 nya.” [Muslim].

Rasulullah saw. ingin membedakan antara puasanya umat Islam dan puasanya orang Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, puasa hari Asyura’ bertingkat-tingkat. Puasa yang paling sempurna adalah puasa hari Asyura ditambah sehari sebelumnya, dan sehari setelahnya (9,10, dan 11 Muharram). Tingkatan di bawahnya adalah puasa hari Asyura’ ditambah puasa sehari sebelumnya, Tasu’aa (9 dan 10 Muharram). Yang tingkatan berikutnya adalah hanya berpuasa pada hari Asyuraa’ saja (10 Muharram).

Adapun keutamaan puasa hari Asyuraa’ adalah dihapus dosa yang dikerjakan selama setahun yang lalu. Rasulullah saw. bersabda, “Puasa hari Asyuraa’ menghapus dosa setahun yang lalu. Sementara puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun; yang lalu dan yang akan datang.” [Nasa’i].

Melihat sebab diperintahkannya puasa pada hari Asyuraa’, umat Islam diperintahkan selalu meyakini kekuasaan Allah Taala. Terutama kekuasaan dalam menurunkan kemenangan. Nabi Musa as. dan Bani Israil menghadapi musuh yang sangat besar, yaitu Firaun dan pasukan besarnya. Tapi ketika Allah Taala menghendaki, bangsa budak yang lemah dan miskin akan menang menghadapi penguasa besar dan kejam. Bahkan mereka balik menjadi pemimpin dan penguasa dunia setelahnya.

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” [Al-Qasas: 5-6].

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda