SOSIAL

Menjadi Pemimpin, Pintu Lebar Masuk Surga

Musim pemilu tidak hanya ramai dengan kampanye, tapi biasanya juga ramai dengan hujatan dan menuduh orang lain gila jabatan.

mukjizat.co – Musim pemilu tidak hanya ramai dengan kampanye, tapi biasanya juga ramai dengan hujatan dan menuduh orang lain gila jabatan. Seakan sudah menjadi keniscayaan jika ada orang bersemangat ingin menjadi pemimpin, maka sudah dipastikan orang itu gila jabatan. Dia ingin mengumpulkan pundi-pundi duniawinya melalui jabatannya itu. Tentu kebanyakannya dengan cara yang diharamkan Allah Taala. Padahal tidak demikian. Menjadi pemimpin, pintu lebar masuk surga.

Kok bisa demikian? Hendaknya kita kembali kepada teks-teks dalam agama kita terkait dengan kepemimpinan. Ternyata tidak selamanya menjadi pemimpin adalah sekadar jalan untuk mendapatkan dunia. Bahkan menjadi pemimpin bisa menjadi jalan yang sangat potensial untuk mendapatkan kebahagiaan paripurna di kampung Akhirat.

Karena itu, tidak heran jika seorang nabi as. pun meminta untuk dijadikan sebagai pemimpin.  “Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” [Yusuf: 55].

Tapi tentunya bukan sekadar menjadi pemimpin, tapi pemimpin yang adil. Seperti janji Rasulullah saw. kepada mereka, “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil…” [HR. Bukhari dan Muslim].

Rasulullah saw. juga memberikan iming-iming siapa saja yang menjadi orang yang adil saat memimpin, akan mendapatkan kedudukan yang sangat mulia, bahkan para nabi pun iri saat melihat mereka, “Orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan Allah. Mereka adalah orang-orang yang adil dalam memimpin,adil kepada keluarganya, dan adil dalam menggunakan wewenang.” [HR. Muslim].

Imam Tirmidzi mengatakan bahwa orang yang memimpin dengan adil adalah pemimpin yang melaksanakan perintah Allah swt., melakukan segala sesuatu sesuai porsinya, tanpa melebih-lebihkan atau mengurang-kurangkan. Untuk orang seperti itu, menjadi pemimpin pintu lebar masuk surga.

Adapun kalau jabatan dan kekayaan menjadi tujuannya, maka berlakulah hadits Rasulullah saw., “Kami tidak mengangkat orang yang meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya.” [Bukhari, Muslim]

Harus ada niat untuk memperbaiki kondisi dan membantu masyarakat. Kalau untuk tujuan lain, maka akibatnya adalah bertambahnya kerusakan. Rasulullah saw. bersabda, “Dua ekor serigala lapar ketika dilepas kepada kawanan kambing tidak akan seberapa parah kerusakan yang ditimbulkannya dibanding kerusakan agama diakibatkan ambisi seseorang kepada kemuliaan dan harta.” [Tirmizi].

Lalu ada keyakinan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kondisi. Di antara kemampuan itu adalah pertolongan dari Allah swt. Rasulullah saw. bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah, “Jangan engkau cari kepemimpinan. Karena engkau mendapatkannya karena meminta, maka engkau akan menanggungnya sendiri. Jika engkau mendapatkannya bukan karena meminta, maka engkau akan dibantu.” [Muslim].

Dengan demikian, marilah bersikap yang obyektif. Tidak semua pejabat dan calon pejabat layak ditempeli dengan hadits-hadits yang mencela orang-orang yang mengejar jabatan. Siapa tahu saat mengejar jabatan jangan-jangan mereka sedang mengejar surga. Karena menjadi pemimpin, pintu lebar masuk surga. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.