SOSIAL

Memuliakan Makanan, Budaya Islam yang Berpindah ke Jepang

Ada sebuah kebiasaan negatif yang mungkin menurut sebagian kalangan di negeri kita tidak menjadi masalah, yaitu tidak memuliakan makanan dengan cara menyia-nyiakannya.

mukjizat.co – Ada sebuah kebiasaan negatif yang mungkin menurut sebagian kalangan di negeri kita tidak menjadi masalah, yaitu tidak memuliakan makanan dengan cara menyia-nyiakannya. Dalam istilah agama disebut mubazir, yaitu orang yang menyisakan dan tidak menghabiskan makanan yang telah diambilnya. Memuliakan makanan, budaya Islam yang berpindah ke Jepang.

Karena ternyata dalam budaya masyarakat Jepang, perilaku mubazir, terutama terhadap makana, juga tercela dan dianggap tidak beradab. Mereka sangat menghargai makanan yang dibuktikan dengan mengucapkan “itadakimasu” (kerendahan hati untuk menerima makanan yang disediakan) sebelum makan, dan “gochiso samadeshita” (menghargai dan merasa berterima kasih atas usaha orang-orang dalam menyiapkan makanan) sesudahnya.

Dengan ungkapan ini, orang Jepang terbiasa dengan sikap bersyukur atas terhidangnya makanan yang baru saja dimakan. Sekali lagi, memuliakan makanan budaya Islam yang berpindah ke Jepang.

Jika makan di restoran maupun di acara pesta, mereka akan mengambil porsi makanan yang tidak begitu banyak, atau seukuran yang mampu dia habiskan sehingga perilaku membuang dan menyia-nyiakan makanan dapat dihindari. Selain itu dalam acara pesta ada sebuah kebiasaan unik, yaitu saling menuangkan minuman (dari botol) ke gelas teman teman makannya.

Memuliakan makanan juga didasarkan kepada sikap perhitungan terhadap pengeluaran keuangan dengan selalu ingat bahwa rejeki diperolah dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Tidak mungkin hasil perjuangan melelahkan itu harus disia-siakan.

Ternyata di dalam Al-Quran disebutkan larangan menyia-nyiakan makanan ini. Allah Taala berfirman, “dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al-Isra’: 26-27].

Bahkan Al-Quran menyebut orang dengan perilaku seperti itu adalah saudara-saudara setan. Ciri perbuatan setan adalah merusak ciptaan Allah Taala sehingga tidak sesuai dengan tujuan Allah Taala menciptakannya. Orang yang menyia-nyiakan makanan disebutkan sebagai saudara setan karena mereka mirip dengan setan saat merusak makanan yang merupakan ciptaan Allah Taala, sehingga makanan yang seharusnya berfungsi penuh kebaikan tersia-siakan dan hanya menjadi sampah.

Hendaknya kita kembali mengamalkan ajaran Al-Quran ini. Jangan sampai orang semakin yakin bahwa memuliakan makanan budaya Islam yang berpindah ke Jepang. (rocky/sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.