Semangat Abdul Rahman Al-Sumait Menyelamatkan Benua Afrika

0 komentar 326 kali dilihat

Abdul Rahman Al-Sumait adalah nama yang mungkin tidak banyak orang mengetahuinya. Tapi kiprahnya dalam dunia dakwah dan amal kemanusiaan sudah sangat besar. Sangat bermanfaat mengenang kehidupan tokoh seperti Al-Sumait untuk menghidupkan sisi kemanusiaan yang sudah kian tergerus dalam hati banyak orang saat ini.

Al-Sumait dilahirkan pada tanggal 15 Oktober 1947 di Kuwait. Keluarga islami menjadi lingkungan yang menumbuhkannya menjadi pribadi yang shalih. Cita-cita Al-Sumait sejak kecil adalah menjadi dokter. Lamunannya adalah kondisi masyarakat benua Afrika yang banyak masih menderita dan membutuhkan bantuan. Al-Sumait memang sangat terpengaruh dengan bacaan-bacaannya tentang akhlak Rasulullah saw. dan para sahabat mulia.

Pada tahun 1963, Al-Sumait mendaftarkan dirinya di fakultas kedokteran Universitas Baghdad yang menurut rumor sangat sulit mahasiswa mendapakan kelulusan. Ternyata Al-Sumait lulus lancar pada tahun 1972. Kemudian menambah keilmuannya dengan penyakit wilayah panas di Universitas Liverpool, Inggris. Al-Sumait juga mendalami penyakit dalam dan penyakit pencernaan di Universitas McGill, Kanada.

Al-Sumait menambah pengalaman kedokterannya dengan bekerja di berbagai rumah sakit internasional seperti rumah sakit Montreal, rumah sakit King’s College London, dan rumah sakit Al-Sabah.

Lalu mulai tahun 1983, Al-Sumait mencurahkan fokusnya dalam amal kemanusiaan di Direct Aid. Al-Sumait lah yang mendirikan, lalu menjadi sekretaris jenderal, dan terakhir sebagai ketua dewan direksinya hingga tahun 2008.

Melalui lembaga inilah cita-cita kemanusiaan Al-Sumait terwujud. Apalagi saat istri Amir Kuwait menyumbang untuk membangun masjid di luar Kuwait. Al-Sumait memilih Malawi yang dilihatnya sangat minim masjid, sementara gerakan kristenisasi sangat gencar.

Al-Sumait semakin tergerak setelah mengetahui melalui beberapa hasil riset bahwa pemeluk Kristen mengalami peningkatan pesat di Tanzania, Malawi, Madagaskar, Sudan Selatan, Niger, dan lainnya. Kristen menyebar melalui pembangunan sekolah-sekolah. Sehingga kebanyakan targetnya adalah anak-anak.

Ada satu rahasia kesuksesan Al-Sumait dalam membantu orang lain saat kelaparan dan bencana, yaitu bahwa membantu mereka bukan hanya kewajiban lembaga kemanusiaan, tapi kewajiban semua orang sesuai dengan apa yang dimilikinya. Sehingga yang dilakukan Al-Sumait adalah meyakinkan semua orang bahwa mereka bisa membantu orang lain, walaupun mungkin hanya sedikit.

Usaha ini mungkin diremehkan banyak orang, tapi ternyata hasilnya sangat mencengangkan. Al-Sumait  berhasil membantu orang yang membutuhkan di 28 negara Afrika. Hasilnya adalah 5.700 masjid, 8600 sumur, 860 sekolah, 4 perguruan tinggi, 204 islamic center, dan melatih 4000 kader dakwah dan guru di Afrika.

Kehidupan Al-Sumait dan istrinya sangat sederhana. Di sebuah rumah kecil di Madagaskar. Perjalanan kerjanya kadang sangat berat. Al-Sumait biasa berjalan kaki di jalan gersang maupun tanah berlumpuh berpuluh-puluh kilometer. Kadang naik kereta seadanya selama 40 jam dengan perbekalan beberapa lembar roti kering.

Seringkali bukan uang yang diberikan Al-Sumait kepada orang yang membutuhkan. Al-Sumait membuka lapangan usaha baru yang bisa memberikan penghasilan lumayan, seperti membuka warung, penjahitan baju, atau membuat kolam ikan.

Dakwah Islam Al-Sumait sangat sederhana. Kalau mengajak orang di sebuah perkampungan, Al-Sumait hanya mengatakan, “Allah adalah tuhanku yang Maha Esa, menciptakanku, dan memberiku rezeki. Dialah yang telah menghidupkanku dan akan mematikanku.” Hanya dengan kata-kata sederhana itu, banyak orang terpengaruh hingga kadang menangis. Setelah masuk Islam, biasanya orang-orang itu akan marah. Kenapa? Karena Islam sangat terlambat datang kepada mereka.

Ada yang menyebutkan jumlah orang yang masuk Islam melalui dakwah Al-Sumait mencapai 11 juta orang. Angka ini didapat karena yang masuk Islam melalui beliau bukan orang perorang tapi suku. Angka ini sepertinya terlalu berlebihan. Apalagi angka tidaklah terlalu penting bagi Al-Sumait. Yang penting adalah hidupnya beliau habiskan untuk berjuang, berdakwah, dan menebar kebaikan kepada semua orang.

Perjuangan Al-Sumait mulai terganggu ketika penyakit diabetes menyerangnya. Akibatnya, punggung dan kaki Al-Sumait terasa sangat sakit. Di akhir hidupnya, Al-Sumait juga mengalami pelemahan fungsi ginjalnya, hingga menghembuskan nafas terakhienya pada tanggal 15 Agustus 2013 yang silam.

Al-Sumait hanyalah satu orang, tapi karyanya seperti karja satu umat. Keletihan, kesulitan, rasa sakit, rintangan, tidak menghentikannya berjalan menuju tujuan yang diinginkannya sejak kecil. Beberapa kali Al-Sumait hampir menjadi korban pembunuhan oleh kelompok-kelompok milisi Afrika bersenjata. Binatang buas juga tak jarang hampir mencelakainya.

Namun Al-Sumait sudah memutuskan untuk menghabiskan hidupnya di Afrika. Al-Sumait seakan tidak rela, benua Islam ini menjadi tempat yang terkenal dengan kelaparan, kemiskinan, penyakit, dan kebodohan. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Komentar Anda