PERISTIWA Sunnah

Hijrah Tidak Hanya Mengangkat Kaum Muhajirin

Orang-orang Arab sering diberi julukan “anak-anak air dari langit”. Dalam salah satu versi penafsirannya, air langit adalah air Zamzam, sehingga anak-anak air dari langit adalah Nabi Ismail as. dan keturunannya.

mukjizat.co – Selain menjadi titik yang sangat menentukan dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw., ternyata juga sangat berpengaruh pada diri masing-masing orang yang terlibat di dalamnya. Orang banyak membicarakan tentang keutamaan dan kepahlawanan para Muhajirin karena berkorban dengan meninggalkan Mekah dengan segala yang mereka miliki demi menyelamatkan agama Allah Taala. Ternyata selain mereka, ada kelompok orang yang juga sangat diangkat, baik dalam Al-Quran maupun Hadits, karena keterlibatan mereka dalam peristiwa hijrah ini. Hijrah tidak hanya mengangkat kaum muhajirin.

Mereka adalah para penduduk Madinah yang menyambut dan menampung para Muhajirin dengan segala yang mereka miliki juga. Allah Taala berfirman dalam Al-Quran: “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 9]

Anak-anak Air dari Langit

Sebenarnya, orang-orang Arab termasuk dalam golongan dari keturunan yang sangat mulia, yaitu Nabi Ismail as. Rasulullah saw. kepada suku Aslam yang merupakan suku asal Aus dan Khazraj, dua suku terbesar di Madinah, “Memanahlah, anak-anak Ismail. Karena kakek kalian adalah seorang pemanah.” [Bukhari]

Orang-orang Arab sering diberi julukan “anak-anak air dari langit”. Dalam salah satu versi penafsirannya, air langit adalah air Zamzam, sehingga anak-anak air dari langit adalah Nabi Ismail as. dan keturunannya. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa air dari langit adalah air hujan. Bangsa Arab mendapatkan julukan itu karena mereka adalah kaum penggembala yang sangat mengandalkan pada rumput yang menghijaunya karena adanya air hujan.

Gelar Anshar

Gelar Anshar yang diberikan kepada para penduduk Madinah karena menyambut dan menampung para Muhajirin sebenarnya diberikan langsung oleh Allah Taala. Allah Taala berfirman dalam Al-Quran: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (yaitu kaum Anshar), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” [Al-Anfal: 74]

Sehingga Anas bin Malik ra. pun menyimpulkan bahwa nama Anshar adalah pemberian Allah Taala. Sebelumnya, Rasulullah saw. juga mengatakan, “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Allah Taala telah memasukkan iman ke dalam hati kalian, mengistimewakan kalian dengan kemuliaan, dan menamakan kalian Ansharullah dan Ansharu Rasulullah.” [Ibnu Abi Ashim].

Dicintai Rasulullah saw.

Di antara bentuk pemuliaan kepada mereka, Rasulullah saw. juga menjadikan cinta kepada mereka sebagai salah satu tanda keimanan. Rasulullah saw. bersabda, “Salah satu tanda keimanan adalah mencintai Anshar, dan salah satu tanda kemunafikan adalah membenci Anshar.” [Bukhari].

“Kaum Anshar hanya dicintai oleh orang yang beriman, dan hanya dibenci oleh orang munafik. Orang yang mencintai mereka akan dicintai Allah Taala; orang yang membenci mereka akan dibenci Allah Taala.” [Bukhari]

“Sesungguhnya Allah Taala telah memilihku, dan memilihkan untukku sahabat. Di antara mereka ada yang menjadi pembantu, penolong (Anshar), dan kerabat karena perkawinan. Orang yang mencela mereka akan mendapatkan laknat Allah Taala, malaikat dan semua manusia. Pada hari kiamat Allah Taala tidak menerima ibadah sunnah dan wajib mereka.” [Hakim]

Rasa cinta Rasulullah saw. kepada Anshar itu bahkan sering diungkapkan secara verbal, “Demi Allah, kalian adalah orang yang paling kucintai. Demi Allah, kalian adalah orang yang paling kucintai. Demi Allah, kalian adalah orang yang paling kucintai.” [Bukhari].

Kemudian diungkapkan juga dengan sering mendoakan mereka, “Ya Allah ampunilah Anshar, ampunilah anak-anak Anshar, ampunilah cucu-cucu Anshar.” [Bukhari, Muslim]

Dengan memuji mereka, “Anshar adalah orang-orang dekatku yang menyimpan rahasiaku. Sungguh orang-orang akan bertambah banyak, tapi mereka berkurang. Maka terimalah kebaikan dari mereka, dan maafkanlah keburukan mereka.” [Bukhari, Muslim].

“Orang-orang akan bertambah banyak, tapi Anshar akan berkurang. Hingga mereka akan seperti garam dalam makanan.” [Bukhari]

Tragedi Hunain

Sehingga ketika terjadi tragedi pembagian harta dalam Perang  Hunain, Rasulullah saw. sangat bersedih, dan menasihati mereka dengan nasihat yang sangat dalam. Saat itu, kebanyakan harta diberikan kepada peserta yunior dari kalangan orang-orang Mekah yang baru masuk Islam. Kaum muallaf. Sementara kaum Anshar yang notabene senior dalam perjuangan dan pengorbanan, hampir-hampir tidak mendapat bagian. Mereka merasa sedih dengan kondisi itu, dan mulai membuat desas-desus yang akhirnya sampai ke telinga Rasulullah saw.

Akhirnya beliau mengumpulkan mereka dan mengatakan, “Wahai kaum Anshar, bukankah aku temui kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah beri kalian hidayah melaluiku? Bukankah dulu kalian terpecah-belah, lalu Allah satukan kalian melaluiku? Bukankah dulu kalian miskin, lalu Allah cukupkan kalian melaluiku?” Setiap kali Rasulullah saw. berkata, mereka selalu mengucapkan bahwa kebaikan hanya milik Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian Rasulullah saw. mengatakan, “Sebenarnya kalian bisa menjawab, ‘Wahai Rasulullah, engkau datang dalam kondisi begini begini.. Lalu kamilah yang menolongmu.’ Tidak puaskah kalian, saat orang-orang pulang membawa kambing dan unta, sementara kalian pulang membawaku? Sungguh walaupun tidak ada peristiwa hijrah, pastilah aku tetap menjadi seorang dari Anshar. Jika orang-orang melewati lembah dan celah, maka tentu aku akan memilih melewati lembah dan celahnya Anshar. Wahai Anshar, orang-orang adalah pakaian bagian luar, sementara kalian adalah pakaian bagian dalam yang menempel di kulitku. Sungguh kalian akan menemukan pemimpin yang kejam, maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di Telaga Kautsar.” [Bukhari, Muslim]. Hijrah tidak hanya mengangkat kaum muhajirin. (sof1/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.