Al-Quran SOSIAL

Sunatullah Fil Quran; Beriman kepada Surga Mendatangkan Kemudahan

Cukup unik juga ayat ini. Menyebutkan sifat yang sangat berkelas; memberi tapi merasa takut. Karena yang seharusnya takut adalah orang yang mengambil, bukan memberi.

mukjizat.co – Kita semua menginginkan kemudahan, dan tidak suka dengan kesulitan. Kemudahan dan kesulitan ternyata bukan masalah nasib, tapi masalah kesesuaian kita dengan aturan dan hukum Allah Taala yang sering disebut dengan sunnatullah dan banyak disebut dalam Al-Quran. Sunnatullah, yang terkait dengan beriman kepada surga itu dalam hal ini terdapat dalam ayat Al-Quran:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” [Al-Lail: 5-7].

Kata “صَدَّقَ بِالْحُسْنَى” yang diartikan dengan beriman kepada surga, bermakna: mengakui dan meyakini bahwa diri kita semua diciptakan untuk masuk surga. Sehingga dengan demikian, dunia adalah jembatan, bukan tempat tinggal; dunia adalah negeri untuk melaksanakan kewajiban, bukan untuk mendapatkan kemuliaan; dunia adalah negeri untuk beramal, bukan bermimpi; dan dunia adalah negeri untuk melaksanakan ketaatan, bukan menerima balasan.

Dalam ayat-ayat di atas, orang yang beriman dengan di surga, sebelumnya, akan banyak memberi, membantu, menolong, berkontribusi, dan sejenisnya. Namun di waktu yang sama, hati mereka tetap merasa takut (takwa) kepada Allah Taala; jangan-jangan pemberian mereka tidak diterima Allah, jangan-jangan pemberian mereka tidak bisa menebus diri mereka dari neraka, jangan-jangan pemberian mereka masih kurang, dan sebagainya.

Cukup unik juga ayat ini. Menyebutkan sifat yang sangat berkelas; memberi tapi merasa takut. Karena yang seharusnya takut adalah orang yang mengambil, bukan memberi. Demikianlah orang yang beriman kepada surga, hidup mereka benar-benar berkelas.

Pertolongan, dukungan dan taufiq dari Allah Taala adalah pahala yang diberikan kepada orang yang mengimani surga, bertakwa menjauhi kemaksiatan, dan menjadikan kehidupannya ladang kontribusi. Lalu bagaimana keadaan orang yang telah dibersamai Allah Taala?

“Jika Allah bersamamu, siapa yang akan mengalahkanmu? Apa yang hilang dari orang yang telah menemukan Allah? Apa yang didapatkan orang yang telah kehilangan Allah?”

“Siapapun yang berpegang hanya kepada-Nya, bukan kepada makhluk-Nya, lalu seluruh penduduk langit dan bumi membuat makar yang membahayakannya, Dia pasti akan memberikan jalan keluarnya. Sebaliknya, siapapun yang berpegang kepada selain-Nya, pasti akan Dia jadikan bumi tidak bisa dipijakinya, lalu diputus-Nya tali-tali langit di depannya.”

Meyakini bahwa kita diciptakan untuk surga akan menjadikan kita menjauhi kemaksiatan, dan menjadikan hidup sebagai ladang kontribusi. Kehidupan akan penuh dengan kemudahan. Karena kita memberi bukan mengambil. Sementara meyakini bahwa hidup kita adalah untuk dunia, membuat kita tidak merasa perlu berbuat ketaatan, hidup kita gunakan hanya untuk mencari keuntungan. Di sinilah berbagai masalah akan muncul; berebutan kepentingan, saling mengalahkan, merusak demi keuntungan, dan sebagainya. Hidup penuh dengan kesulitan.

Sejarah membuktikan perbedaan antara nabi dan penguasa. Penguasa mengambil dan tidak memberi, nabi memberi dan tidak mengambil; penguasa mencengkeram leher, nabi menawan hati; penguasa meminta khidmat manusia, nabi berkhidmat kepada manusia. Kita dan seluruh manusia hanyalah pengikut; pengikut nabi atau pengikut penguasa. Sifat dan sikap keduanya akan turun kepada kita sebagai pengikut. Marilah kita beriman kepada surga, kalau begitu. Wallahu A’lam. (mohsa/www.mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda